Yogyakarta, 11 Juni 2026 – Kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan serta konsep kehidupan setelah kematian, seperti surga dan neraka, merupakan fenomena yang dapat ditemukan di berbagai konteks budaya dan agama di seluruh dunia. Namun, masih belum sepenuhnya jelas bagaimana keyakinan tersebut berkaitan dengan angka kematian akibat bunuh diri. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Samudera Fadlilla Jamaluddin, S.Psi., M.Sc., dan Riangga Novrianto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Suicide and Life-Threatening Behavior, menguji hubungan antara tingkat kepercayaan pada Tuhan, surga dan neraka, persepsi tentang pentingnya Tuhan, serta kehadiran ibadah dengan tingkat mortalitas bunuh diri.
Penelitian berjudul “Divergent Effects of Heaven and Hell Beliefs on National Suicide Mortality” ini menganalisis data dari 77.834 individu di 57 negara yang berasal dari World Values Survey dan menghubungkannya dengan data angka kematian akibat bunuh diri dari World Health Organization (WHO).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator religiusitas dan kehadiran ibadah berasosiasi dengan rendahnya tingkat mortalitas bunuh diri nasional, bahkan ketika ketersediaan psikolog dan psikiater diperhitungkan. Namun, ketika variabel ekonomi seperti PDB per kapita, ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran diperhitungkan, hanya keyakinan pada surga (belief in Heaven) dan persepsi tentang pentingnya Tuhan (importance of God) yang terbukti tetap signifikan secara statistik. Menurut Samudera, temuan ini memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara religiusitas dan kesehatan mental.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua aspek religiusitas memiliki pengaruh yang sama terhadap perilaku bunuh diri. Kepercayaan yang menumbuhkan harapan, makna hidup, dan optimisme terhadap masa depan tampaknya memiliki kaitan yang lebih kuat dengan rendahnya angka bunuh diri dibandingkan dengan keyakinan yang berorientasi pada hukuman,” ujarnya.
Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara religiusitas dan angka bunuh diri menjadi lebih kompleks ketika faktor ekonomi, seperti pendapatan nasional, ketimpangan ekonomi, dan tingkat pengangguran, turut diperhitungkan. Dalam kondisi tersebut, hanya variabel pentingnya Tuhan dalam kehidupan dan kepercayaan terhadap surga yang tetap menunjukkan hubungan signifikan dengan rendahnya angka bunuh diri.
Lebih lanjut, Riangga menjelaskan bahwa hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung antara agama dan bunuh diri.
“Temuan kami menunjukkan adanya keterkaitan pada level populasi atau negara. Karena itu, hasil ini perlu dipahami sebagai gambaran pola sosial yang luas, bukan sebagai penjelasan tunggal terhadap perilaku bunuh diri pada individu,” jelasnya.
Penelitian ini memperkaya literatur internasional mengenai faktor-faktor risiko dan protektif terhadap bunuh diri, terutama dari perspektif psikologi budaya dan psikologi agama. Selama ini, sebagian besar penelitian lebih banyak berfokus pada praktik keagamaan, seperti frekuensi ibadah atau kehadiran dalam kegiatan keagamaan. Studi ini menunjukkan bahwa keyakinan religius, jika disertai dengan variabel-variabel lainnya, akan memiliki implikasi yang berbeda terhadap kesehatan mental masyarakat.
Para peneliti berharap temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan strategi pencegahan bunuh diri yang lebih sensitif terhadap konteks budaya dan keagamaan masyarakat.
“Upaya pencegahan bunuh diri perlu mempertimbangkan sumber-sumber harapan, makna hidup, dan dukungan psikologis yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai religius yang memberikan harapan dan tujuan hidup dapat menjadi salah satu faktor yang relevan untuk dikaji lebih lanjut,” kata Samudera.
Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-Being, khususnya target pengurangan angka kematian akibat bunuh diri dan peningkatan kesehatan mental masyarakat secara global.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar