Yogyakarta, 15 Juni 2026 — Mengapa sebagian gambar dapat terus melekat dalam ingatan, sementara sebagian lain cepat terlupakan? Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian terbaru yang dilakukan oleh Aisha Al Mascaty, Zulfikri Khakim, S.Psi., M.Sc., dan Nadia Puti Dianesti dalam artikel berjudul “Beyond Emotion: Exploring Image Memorability with Eye Tracking” yang terbit di jurnal ilmiah Cogent Psychology pada tahun 2026.
Penelitian ini mengeksplorasi mekanisme kognitif dan atensi yang mendasari proses pembentukan memori visual menggunakan alat pelacak mata (eye-tracking). Studi ini membandingkan karakteristik gambar berdasarkan tingkat memorabilitas, arousal (tingkat kebangkitan emosi), dan valensi (emosi positif atau negatif) untuk melihat pengaruhnya terhadap daya ingat.
Dalam studi ini, para peneliti menggunakan desain eksperimen within-subject yang melibatkan 46 partisipan dalam tugas perekaman memori (encoding) dan tugas pengenalan gambar (recognition). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik gambar saling berinteraksi secara kompleks dalam memengaruhi performa memori dan pelebaran pupil mata.
“Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa pelebaran pupil memiliki hubungan yang lebih konsisten dengan keberhasilan mengenali kembali gambar dibandingkan dengan pola pergerakan mata. Dengan kata lain, respons fisiologis yang terjadi saat seseorang melihat gambar dapat menjadi petunjuk penting mengenai kemungkinan gambar tersebut akan diingat di kemudian hari,” ujar Khakim.
Peneliti juga menemukan bahwa pengaruh karakteristik gambar terhadap respons pupil lebih jelas terlihat pada kondisi dengan tingkat rangsangan emosi yang rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme pembentukan memori visual tidak hanya bergantung pada emosi yang kuat, tetapi juga pada bagaimana otak memproses informasi visual secara lebih mendalam.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi berbagai bidang, mulai dari pendidikan, desain pembelajaran, komunikasi publik, hingga industri kreatif. Pemahaman mengenai karakteristik visual yang membuat suatu gambar lebih mudah diingat dapat membantu pengembangan materi edukasi, kampanye kesehatan, iklan layanan masyarakat, maupun konten digital yang lebih efektif.
“Lebih lanjut, Khakim menjelaskan bahwa secara praktis, penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatkan daya ingat audiens tidak cukup hanya dengan menghadirkan gambar yang memancing emosi. Desain visual, makna semantik, serta kualitas intrinsik gambar juga perlu diperhatikan agar informasi dapat tersimpan lebih lama dalam memori”.
Menurut para peneliti, studi ini memperluas pemahaman mengenai mekanisme perhatian dan memori visual dengan menggabungkan pendekatan perilaku dan fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan memori visual tidak dipengaruhi oleh faktor tunggal, melainkan oleh interaksi bersama antara tingkat memorabilitas, arousal, dan valensi gambar. Respons pelebaran pupil terbukti memiliki keterkaitan yang jauh lebih erat dengan pemrosesan kognitif terkait pengenalan memori dibandingkan dengan seberapa sering atau seberapa lama mata menatap suatu gambar. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa memori manusia tidak semata-mata dipengaruhi oleh emosi, tetapi juga oleh bagaimana otak memproses dan memberi makna terhadap informasi visual yang diterima.
Topik penelitian ini terkait dengan SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan strategi pembelajaran berbasis visual dan SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui pemahaman proses kognitif dan memori manusia.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar