Yogyakarta, 22 Juni 2026 – Aplikasi rumah pintar (smart home) seperti Amazon Alexa, Google Home, dan Samsung SmartThings semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menawarkan otomatisasi dan kemudahan. Namun, di balik kenyamanan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi ini berpotensi melanggar nilai-nilai dasar penggunanya? Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian terbaru yang melibatkan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama peneliti dari Deakin University (Australia), Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Malaya. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada jurnal internasional Internet of Things Vol. 38, melalui artikel berjudul “A Human-LLM Study of Value Concerns in Smart Home App Reviews”.
SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
Ryan Sugiarto Raih Doktor Cumlaude dengan Disertasi Manungsa Tanpa Tenger dari Psikologi Kawruh Jiwa
Ryan Sugiarto, M.A., dosen Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, resmi meraih gelar Doktor Ilmu Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang diselenggarakan pada Rabu (17/6) di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM.
Fenomena klitih yang melibatkan remaja masih menjadi perhatian masyarakat di Yogyakarta. Di balik aksi kekerasan jalanan tersebut, terdapat berbagai faktor psikologis, sosial, dan keluarga yang perlu dipahami untuk mencegahnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa memperluas jangkauan sistem peringatan dini tidak selalu berarti pesan tersebut sampai, diterima, dipahami, dan direspons dengan tindakan yang tepat oleh semua masyarakat di area terdampak. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam webinar Reaching the Last Mile pada Selasa (9/6).
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menandai babak baru dalam penguatan infrastruktur akademiknya melalui penandatanganan kontrak pembangunan Gedung Baru pada Selasa (9/6), di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM.
Informasi mengenai kesehatan mental kini semakin mudah diakses melalui media sosial, termasuk konten tentang depresi, kecemasan, ADHD, dan burnout. Namun, kemudahan ini juga berisiko menimbulkan kesalahpahaman karena banyak individu melakukan self-diagnosis tanpa asesmen psikologis yang memadai dan memberi label pada diri sendiri tanpa memahami konteks serta batasannya.
Menjadi orang tua bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus belajar, menyesuaikan diri, dan memahami dunia anak yang terus berubah.
Refleksi tersebut menjadi benang merah dalam Webinar Hybrid oleh Center of Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (22/5). Mengusung tema “Membangun Komunikasi Efektif Orang Tua dalam Kehidupan Akademik Anak”, kegiatan ini membahas dinamika parenting, relasi orang tua-anak, serta tantangan mendampingi anak di tengah perbedaan budaya dan perkembangan zaman.
Di era digital, mengenali diri sendiri terasa semakin mudah, cukup melalui tes kepribadian online. Banyak orang merasa sudah memahami minat, bakat, hingga arah masa depannya. Salah satu yang populer adalah MBTI, yang kerap digunakan sebagai cara cepat untuk membaca kecenderungan kepribadian.
Memasuki dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar gelar akademik. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, lulusan dituntut untuk mampu beradaptasi, terus belajar, serta menjaga integritas dalam setiap langkah profesionalnya.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam sesi pembekalan wisuda Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Senin (18/5), yang menghadirkan Dwi Wulandari, S.Psi., Psikolog, Vice President of Corporate Secretary PT Kereta Api Logistik dan alumnus Program Sarjana dan Profesi Fakultas Psikologi UGM.
Kasus kekerasan pada anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, membuka lapisan persoalan yang selama ini kerap tersembunyi dalam sistem pengasuhan anak usia dini. Fenomena ini tidak dapat semata-mata dipahami sebagai persoalan kekerasan individual, tetapi juga berkaitan dengan kualitas layanan pengasuhan, kesiapan pengasuh, hingga sistem pendukung bagi keluarga.