Yogyakarta, 13 April 2026 – Kehilangan orang terdekat akibat bunuh diri meninggalkan luka yang sering kali sunyi dan tak terlihat. Namun, penyintas kehilangan akibat bunuh diri (suicide loss survivors) di Indonesia masih kesulitan dalam mengakses layanan pemulihan yang dibutuhkan. Mereka tidak tahu kepada siapa harus meminta bantuan dan tidak tahu langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu diri mereka sendiri. Menjawab kebutuhan tersebut, peneliti dari Universitas Gadjah Mada bersama mitra internasional mengembangkan panduan khusus pertama di Indonesia untuk mendampingi para penyintas kehilangan akibat bunuh diri.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Mental Health & Prevention ini berjudul “Supporting Healing after Suicide Loss” dan berfokus pada pengembangan dan validasi buklet panduan yang secara khusus dikembangkan untuk para penyintas.
Panduan ini disusun melalui pendekatan berbasis partisipasi komunitas (community-based participatory approach). Studi ini melibatkan wawancara dengan 16 penyintas dan 15 penyedia dukungan duka (grief support providers) dalam penyusunan konten. Buklet tersebut kemudian dievaluasi oleh pakar dari berbagai lintas disiplin serta divalidasi oleh para penyintas.
Hasil studi menunjukkan bahwa panduan tersebut dinilai jelas, membantu, dan sangat relevan oleh para penyintas. Bahkan, sebagian besar penyintas melaporkan tingkat kepuasan dan persepsi kebermanfaatan yang tinggi serta kemungkinan besar untuk merekomendasikannya pada orang lain yang mengalami kehilangan serupa.
Selain itu, para pakar juga menilai bahwa buklet panduan ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai alat pencegahan bunuh diri yang universal. Buklet ini dinilai dapat meningkatkan kesadaran dan menawarkan panduan praktis untuk membantu proses pemulihan dan membangun kembali koneksi sosial. Peneliti menegaskan bahwa selama ini, layanan postvention, yakni dukungan setelah kejadian bunuh diri, khususnya yang ditargetkan untuk penyintas kehilangan akibat bunuh diri, masih menjadi celah dalam sistem kesehatan mental di Indonesia. Kehadiran panduan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat layanan kesehatan mental berbasis komunitas.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, terutama pascapandemi, inovasi ini menjadi kontribusi penting dalam menciptakan sistem dukungan yang lebih inklusif, empatik, dan berlandaskan budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berdasarkan kata kuncinya, artikel ini adalah luaran penelitian SDGs yang fokus pada SDG 3, 10, dan 17.
Selamat kepada Adelia Khrisna Putri, S.Psi., M.Sc, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, dan kolega.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar