Apakah kamu pernah bingung membedakan mana yang benar-benar cinta dan mana yang memberi luka?
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta (21/4). Dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus psikolog, Maria Gracia Amara Pawitra, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan fenomena kekerasan pasangan atau mantan pasangan, baik dalam relasi pacaran maupun pernikahan. Kekerasan tersebut berdampak pada kerugian fisik, psikologis, hingga seksual bagi korban.
Cinta sering kali dipandang selalu manis, namun pada kenyataannya dapat disertai kontrol dan manipulasi. Kekerasan dalam hubungan merupakan tindakan oleh pasangan atau mantan pasangan yang dapat menimbulkan kerugian fisik, psikologis, maupun seksual. Bentuknya beragam, mulai dari manipulasi hingga perilaku mengontrol secara paksa.
Grace menjelaskan bahwa dalam masyarakat, sering kali terdapat pemahaman yang keliru, seperti menganggap kontrol atau kepatuhan pasangan sebagai tanda cinta, serta cemburu atau kemarahan sebagai bentuk kasih sayang. Padahal, menurutnya, pola pikir tersebut justru dapat menjadi awal dari terbentuknya kekerasan dalam hubungan.
“Ketika suatu hubungan tidak memberikan rasa aman dan ruang untuk kita bisa bertumbuh dan menjadi diri sendiri, justru menjalani hubungan dengan rasa takut dan keterancaman, itu sebetulnya sudah bentuk dari kekerasan,” ujar Grace.
Ia juga menegaskan bahwa kekerasan dalam hubungan dapat menimpa siapa saja, dan penting bagi korban untuk menyadari bahwa apa yang mereka alami bukanlah kesalahan mereka.
“Seseorang bisa dirugikan tanpa ia merasa dirugikan,” ungkapnya, menjelaskan bagaimana korban kerap tidak menyadari kondisi yang dialami karena telah menjadi bagian dari keseharian.
Grace juga menekankan bahwa meskipun berada dalam sebuah hubungan, setiap individu tetap perlu mempertahankan dirinya sebagai pribadi yang utuh. Menurutnya, hubungan yang sehat seharusnya mendorong pertumbuhan, bukan justru melumpuhkan atau membatasi perkembangan individu.
Pola kekerasan dalam hubungan

Grace menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan memiliki ciri khas berupa pola yang berulang. Ia menyebut adanya cycle of abuse yang terdiri dari beberapa fase, yaitu fase ketegangan (tension building), fase kekerasan terjadi (incident), fase permintaan maaf (reconciliation), serta fase ketenangan (calm).
“… itu seperti reward yang tidak sehat yang ditunggu-tunggu oleh korban karena dia berharap pelaku bisa baik-baik lagi,” ucap Grace.
Kenapa sulit lepas?
Grace menjelaskan bahwa ada trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang tidak sehat, di mana korban menjadi bingung membedakan antara kasih sayang dan rasa sakit. Dalam banyak kasus, ketika kekerasan terjadi, pelaku justru merusak hal yang paling berharga dari korban, seperti harga diri. Kondisi ini membuat korban semakin sulit untuk mengakhiri hubungan, meskipun telah mengalami kekerasan berulang.
Dari sisi sosial, Grace juga menyoroti adanya isolasi sosial yang sengaja dilakukan pelaku untuk menjauhkan korban dari dukungan luar, sehingga korban menjadi lebih mudah untuk dikendalikan. Di sisi lain, lingkungan sekitar pelaku sering kali tetap melihat pelaku sebagai pribadi yang baik, yang semakin memperumit situasi korban untuk keluar dari hubungan tersebut.
Bagaimana agar bisa berhenti?
Grace menekankan bahwa langkah pertama adalah menyadari bahwa yang terjadi merupakan bentuk kekerasan dalam hubungan. Meskipun tidak mudah, korban perlu mulai memahami bahwa sekalipun pelaku meminta maaf atau kembali bersikap baik, pola kekerasan dapat tetap berulang.
“Makin pola itu terpenuhi dan berulang-ulang itu makin sulit untuk dipotong karena manipulasi makin sering terjadi,” tutur Grace.
Peran orang sekitar
“Penghakiman itu sangat sering diterima oleh korban kekerasan dalam hubungan, …mereka kan tidak mengalami manipulasi itu,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya untuk tidak menghakimi korban, serta menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak terlihat dari luar hubungan tersebut. Dukungan yang konsisten dan meyakinkan korban sangatlah penting, meskipun mereka harus memproses pengalamannya.
Grace menutup dengan refleksi bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang menghargai martabat diri. Kekerasan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan sering dimulai dengan kata-kata manis yang perlahan membentuk pola. Menurutnya, cinta tidak boleh hadir di atas luka dan setiap orang berhak untuk merasa aman dalam relasinya.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Note:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana