Yogyakarta, 24 Februari 2026 – Di tengah kemajuan pesat teknologi digital yang memudahkan masyarakat untuk saling terhubung, fenomena kesepian justru menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru berjudul “A Multidimensional Predictive Model of Loneliness in Indonesian Generation Z” yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Peuradeun.
Kolaborasi penelitian ini dilakukan oleh Siti Mahmudah, Salim Mahmud, Dian Mufitasari, Astuti Fuji, dan Umdatul Khoirot. Salah satu peneliti dari Fakultas Psikologi UGM, Dian Mufitasari, menjelaskan bahwa studi ini bertujuan untuk mengembangkan model prediktif multidimensi guna memahami dinamika faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kesepian pada Generasi Z di Indonesia.
Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, peneliti melibatkan 527 responden Generasi Z dari berbagai wilayah di Indonesia. Data dianalisis menggunakan metode statistik lanjutan, yakni Generalized Structured Component Analysis (GSCA-SEM) dan path analysis, untuk menguji hubungan kompleks antar variabel laten psikologis, sosial, dan spiritual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-compassion (kemampuan welas asih terhadap diri sendiri) dan self-acceptance (penerimaan diri) berperan signifikan dalam menurunkan tingkat kesepian. Temuan ini menegaskan pentingnya sumber daya internal individu dalam mengelola kesepian di era digital.
Namun demikian, temuan menarik muncul pada variabel gratitude (rasa syukur) yang justru menunjukkan hubungan positif dengan kesepian. Artinya, dalam konteks digital, rasa syukur tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan kesepian, melainkan dapat dipengaruhi oleh dinamika sosial-budaya yang lebih kontekstual.
Penelitian ini juga menemukan bahwa dukungan sosial memiliki peran kunci sebagai mediator. Dukungan sosial mampu menjembatani pengaruh interaksi sosial dan self-compassion terhadap penurunan kesepian. Dengan demikian, dukungan sosial memiliki peran krusial yang menjelaskan bagaimana interaksi sosial dan sumber daya psikologis individu dapat menurunkan kesepian.
Secara keseluruhan, studi ini menawarkan pendekatan baru dengan mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam satu model analisis. Model ini dinilai memberikan kontribusi teoretis sekaligus praktis dalam memahami fenomena kesepian di kalangan Generasi Z, terutama di era digital.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang intervensi yang lebih sensitif secara budaya, khususnya dalam upaya meningkatkan kesehatan mental generasi muda di tengah arus transformasi digital yang terus berkembang.
Selamat untuk Dian Mufitasari, M.Psi., Psikolog, dan tim penulis.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar