Mengajarkan Anak Lebih dari Satu Bahasa: Benar untuk Dilakukan, atau Malah Membuat Anak Bingung?
Penguasaan lebih dari satu bahasa yang umum digunakan secara internasional merupakan kemampuan penting bagi seseorang untuk menghadapi tantangan globalisasi. Dewasa ini, sudah umum bagi para orang tua untuk membekali anaknya dengan pembelajaran bahasa asing sejak usia dini. Namun, bersamaan dengan hal tersebut, muncul pula kekhawatiran akan terganggunya perkembangan bahasa atau kebingungan komunikasi pada anak.
Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta membahas topik ini pada tayangan Selasa (20/10). Episode ke-15 ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Satrio Priyo Adi., S.Psi., M.Sc., dipandu oleh Ferry Anggara.
Mengawali pembicaraan, Satrio mengatakan bahwa penting bagi orang tua untuk membekali anak dengan kemampuan berbicara lebih dari satu bahasa sejak usia dini. Anak juga memiliki tahapan pembelajaran bahasa yang berbeda pada setiap rentang usia, seperti komprehensi bahasa lewat mendengar pada rentang usia 0–3 tahun, pembelajaran tata bahasa pada rentang usia 4–6 tahun, dan pendalaman kemampuan kosakata pada rentang usia 7–9 tahun.
“Sebenarnya semakin dini (belajar bahasa) itu semakin baik. Karena kalau sudah lewat 9 tahun itu sebenarnya sudah susah lagi untuk bisa mencapai level native speaker. Sederhananya, pembelajaran sebaiknya mulai diberikan sebelum usia 9 tahun,” ucap Satrio.
Satrio menyoroti kemampuan otak manusia untuk menangkap dan memproses bahasa sejak usia 0–3 tahun.
“Ketika kita lahir, otak kita itu sudah mampu untuk menangkap bahasa dan menggunakan bahasa. Nah, kalau anak itu mendengar banyak sekali unsur bahasa, tidak hanya satu bahasa pada umur 0 sampai 3 tahun, itu akan membantu anak untuk memahami bahasa tersebut di kemudian hari nantinya,” lanjut Satrio.
Episode ini juga membahas perdebatan mengenai pengaruh pembelajaran dua bahasa atau lebih bagi perkembangan anak. Satrio mengatakan bahwa penelitian yang mendasari pengetahuan mengenai pembelajaran dua atau lebih bahasa dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan berbicara (speech delay) sudah tua dan tidak dipakai lagi sebagai acuan dalam fokus perkembangan anak. Sebelum menilai anak mengalami keterlambatan berbicara karena penggunaan lebih dari satu bahasa, orang tua perlu mengetahui faktor perbedaan tumbuh kembang otak (neurodivergence), rentang wajar usia perkembangan bahasa anak, dan kemungkinan adanya gangguan lain seperti masalah sosialisasi. Penelitian terkini menemukan bahwa kemampuan bahasa anak yang menguasai lebih dari satu bahasa serupa atau bahkan lebih unggul jika dibandingkan dengan anak yang hanya menguasai satu bahasa saja.
Meskipun begitu, mempelajari dan menggunakan lebih dari satu bahasa mungkin dapat menimbulkan kebingungan dalam berkomunikasi pada anak karena perbedaan antara bahasa-bahasa tersebut. Untuk membantu anak dalam menghadapi kebingungan yang sebenarnya wajar dirasakan tersebut, orang tua dapat memfasilitasi dan mendampingi anak dalam menggunakan bahasa-bahasa yang telah dipelajari. Bahkan, lebih baik juga jika orang tua dapat belajar bersama anak untuk lebih memahami bahasa-bahasa yang digunakan oleh anak.
Pembelajaran Bahasa Selain Bahasa Ibu
Pada episode ini, Satrio juga menjawab pertanyaan mengenai fenomena anak lancar menggunakan bahasa lain yang bukan merupakan bahasa orang tua. Satrio mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan adanya pembelajaran bahasa pada anak. Otak anak yang masih sangat sensitif untuk menangkap bahasa memungkinkan anak untuk mempelajari bahasa baru. Ini juga didukung oleh akses kepada media pembelajaran bahasa lain yang lebih mudah karena perkembangan teknologi dan internet.
“Sebenarnya otak manusia itu sudah punya device khusus yang siap untuk mempelajari bahasa, karena itu bagian dari cara manusia bertahan hidup. Ketika kita tidak bisa berbahasa, chance kita untuk survive itu semakin kecil. Nah, ketika masih anak-anak, device itu sangat sensitif untuk menangkap bahasa-bahasa baru begitu. Bahasa itu pada awalnya ya memang terjadi secara alamiah,” ujar Satrio.
Pembelajaran bahasa anak pada masa kini juga didukung oleh akses kepada media pembelajaran bahasa lain yang lebih mudah karena perkembangan teknologi dan internet. Melalui kemudahan akses ini, pembelajaran bahasa dapat dilakukan tanpa harus selalu mengandalkan pendidikan formal.
“Ada unsur globalisasi sekarang (dalam pembelajaran bahasa). Anak dapat YouTube-an melihat podcast, dan melihat kartun-kartun dengan berbahasa Inggris. Hal tersebut menambah exposure dan membantu anak untuk mempelajari bahasa asing,” lanjut Satrio.
Satrio menambahkan bahwa orang tua memiliki tugas penting untuk mendampingi dan mengawasi pembelajaran bahasa anak, khususnya jika menggunakan media digital. Orang tua perlu memastikan media yang digunakan sesuai dengan umur. Perlu diketahui juga bahwa komunikasi emosional antara orang tua dan anak lebih penting daripada penguasaan bahasa, sehingga lebih baik apabila orang tua ikut belajar bersama anak mengenai bahasa yang digunakan.
“Ada baiknya juga orang tua ikut belajar. Karena yang paling penting hubungan antara orang tua dan anak itu adalah komunikasi emosional. Kalau anaknya itu lebih terbiasa dengan bahasa keduanya, itu malah bisa menjadi penghambat antara hubungan orang tua dengan anak,” ucap Satrio.
Beradaptasi di Lingkungan Sosial dengan Kemampuan Komunikasi Ekspresi Emosi
Selain menekankan pentingnya orang tua mempelajari bahasa asing yang dipelajari anak untuk memperkecil batasan komunikasi dan memahami ekspresi emosi anak, Satrio juga menekankan pentingnya orang tua untuk mengajarkan anak terkait penggunaan bahasa sesuai norma sosial dan budaya di lingkungan.
Satrio kemudian membahas konsep peralihan bahasa atau language switching, sebuah proses yang dapat diperkenalkan kepada anak untuk berkomunikasi di lingkungan sosial. Terdapat tiga jenis language switching; yakni single language switching, mengacu pada proses mengalihkan bahasa yang digunakan sesuai dengan bahasa yang digunakan di lingkungan; dual language environment, mengacu pada proses mendengarkan satu bahasa dan menerjemahkannya langsung ke dalam bahasa lain; dan code switching, mengacu pada proses mencampurkan lebih dari satu bahasa dalam komunikasi.
“Sebenarnya yang paling baik itu adalah yang dual language environment ya, seperti translator tadi kita langsung menerjemahkan. Kedua paling baik itu adalah single language switching. Kenapa kok dua hal ini menjadi lebih baik? Itu karena sebenarnya kita belajar proses adaptasi konteks,” tambah Satrio.
Satrio juga menekankan pentingnya anak untuk diajari pemahaman konteks bahasa untuk kemampuan adaptasi di lingkungan sosial. Pemahaman terkait konteks dalam bahasa yang melibatkan budaya sopan santun seperti di daerah-daerah Indonesia perlu diperkenalkan pada anak saat anak mempelajari sistematika bahasa.
“Ada baiknya juga anak diajari konteks saat sedang mempelajari sistematika bahasa, yaitu pada umur 4–6 tahun. Anak perlu mengetahui bahwa menggunakan bahasa di konteks Indonesia itu ada sopan santunnya, tidak seperti beberapa bahasa asing yang lebih egaliter,” ujar Satrio.
Mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan globalisasi dengan pembekalan belajar bahasa asing sangat penting untuk dilakukan oleh orang tua masa kini. Namun, orang tua juga perlu mengetahui bahwa anak membutuhkan kemampuan komunikasi di dalam lingkungan dengan budaya sopan santun, sehingga pembelajaran mengenai konteks dalam bahasa tidak dapat ditinggalkan. Berikan anak ruang belajar bahasa asing sebagai bekal hidup di tingkat global, tetapi jangan lupa tanamkan kemampuan komunikasi dan ekspresi untuk bersosialisasi di lingkungan lokal.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi! Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Kanal Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
https://www.youtube.com/@kanalpsikologiugm
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talk show Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Kayla Anindya Sashikirana
Editor: Erna Tri Nofiyana