Perdebatan publik mengenai sound horeg yang berkembang belakangan ini kerap menempatkan fenomena tersebut dalam dua sisi yang berseberangan, antara ekspresi budaya dan gangguan terhadap masyarakat. Namun, peneliti dari Center for Indigenous & Cultural Psychology (CICP), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), menyoroti bahwa sound horeg merupakan fenomena sosial yang jauh lebih kompleks dan dibentuk oleh dinamika ekonomi, politik, serta budaya.
Melalui penelitian etnografi berjudul “Yang Penting Horeg!: Sound Horeg dan Klaim atas Ruang Kuasa Pedesaan”, F.A. Nurdiyanto, Ahmad Yusrifan, dan Kristoforus Lintang Mahadewa mengkaji sound horeg tidak semata sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang bagi masyarakat untuk menegosiasikan pengakuan, partisipasi, dan kuasa.
Penelitian ini berangkat dari pengamatan para peneliti bahwa diskusi publik mengenai sound horeg sering kali hanya berfokus pada apakah fenomena tersebut perlu didukung atau ditolak. Padahal, menurut para peneliti, memahami sound horeg membutuhkan cara pandang yang lebih luas dan tidak terbatas pada satu perspektif.
“Keresahan kami adalah ketika paper kami dibahas hanya secara sepotong untuk mendukung argumen pro atau kontra. Padahal, paper ini tidak menempatkan diri untuk mendukung maupun menolak sound horeg. Kami ingin memahami kompleksitas mengenai apa yang membuat sound horeg itu ada,” ujar Yusrifan.
Para peneliti menemukan bahwa sound horeg tidak dapat dipisahkan dari berbagai kondisi yang melingkupi kehidupan masyarakat pedesaan. Di balik perayaan tersebut, terdapat persoalan kerentanan ekonomi, hierarki sosial, politik lokal, serta bagaimana masyarakat memperoleh pengakuan dalam komunitasnya.
“Sebuah fenomena tidak seharusnya dilepaskan dari berbagai kondisi yang ada di sekelilingnya karena terdapat banyak keterkaitan antara fenomena sosial dengan ekonomi, politik, dan masyarakat,” jelas Yusrifan.
Menurut penelitian tersebut, sound horeg menjadi arena tempat masyarakat biasa dapat merasakan bentuk kuasa secara sementara. Melalui peran sebagai panitia maupun operator, individu memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan, mengelola kegiatan, dan mendapatkan pengakuan dalam lingkungan sosialnya.
Namun, pengalaman memperoleh kuasa tersebut tidak terlepas dari kontradiksi. Ruang yang memungkinkan seseorang mendapatkan pengakuan juga dapat mereproduksi pola hierarki dan eksklusi yang telah ada. Penelitian ini menunjukkan adanya ketegangan antara warga yang berpartisipasi dalam sound horeg dan mereka yang merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan penolakan secara terbuka.
Alih-alih melihat sound horeg semata sebagai hiburan atau gangguan, para peneliti mengajak masyarakat untuk melihat realitas sosial yang lebih luas di balik fenomena tersebut. Sound horeg merefleksikan bagaimana masyarakat merespons perubahan kondisi sosial, menegosiasikan posisi mereka, serta menciptakan ruang agar suara mereka dapat didengar.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Osi Livia S
Foto: kompas.com