Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka rangkaian International Short Course on Psychology (ISCP) ke-10 secara luring di Hall D Fakultas Psikologi UGM pada Selasa (1/9). Mengangkat tema “Turning a House into a Home”, kegiatan ini menghadirkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.IP., M.M., sebagai keynote speaker.
Kegiatan dibuka dengan sambutan kepala unit Center for Public Mental Health (CPMH), Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog. Ia menekankan bahwa pendekatan, intervensi, maupun kebijakan kesehatan mental tidak dapat begitu saja dipindahkan dari satu negara, budaya, atau komunitas ke komunitas lain.
ISCP ke-10 mengangkat gagasan bahwa keluarga adalah “sekolah pertama kehidupan”, tempat anak belajar tanggung jawab, disiplin diri, empati, dan cara hidup bersama orang lain. Namun, Diana juga mengingatkan bahwa keluarga dapat menjadi tempat di mana kerentanan, kekerasan, kelalaian, dan penderitaan psikologis diwariskan lintas generasi.
“Kita ingin mendorong semua orang yang mengikuti short course ini untuk memiliki kemampuan advokasi mental health system dan evidence–based policy,” ujar Diana.
Program tahun ini mengeksplorasi pola dan tradisi pengasuhan di sejumlah negara Asia, dengan semangat menjadikan pengetahuan lokal sebagai fondasi kontribusi global, bukan sekadar menjadikan komunitas lokal sebagai objek pendekatan yang diimpor dari luar.
Pada sesi pembukaan, Erlina memaparkan gambaran persoalan keluarga di tingkat lokal. Ia menyampaikan bahwa layanan konsultasi psikologis dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga yang disediakan DP3AP2 DIY masih dipenuhi klien setiap tahun, dengan masa tunggu konseling luring yang dapat mencapai beberapa bulan.
“Pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya agar masyarakat dapat membangun keluarga dengan lebih baik dan lebih siap, supaya terhindar dari konflik dan kekerasan. Namun, berbagai upaya tersebut masih dirasa belum cukup,” tutur Erlina.
Sejumlah persoalan turut disampaikan, di antaranya angka pernikahan usia anak yang masih tinggi, kasus perceraian dengan kewajiban nafkah anak yang kerap sulit ditegakkan karena lemahnya regulasi, serta pola kekerasan yang banyak berawal dari pengalaman masa kecil pelaku sendiri.

Erlina menyoroti dampak berbagai persoalan tersebut terhadap kesiapan individu dalam menjalankan peran sebagai pasangan dan orang tua di kemudian hari, serta maraknya kekerasan berbasis daring terhadap perempuan dan anak. Kondisi ini menurut Erlina, menegaskan pentingnya program pencegahan dan edukasi yang dimulai sejak dini.
“Ilmu psikologi begitu pentingnya bagi keluarga. Terhadap yang sudah terlanjur berkeluarga tanpa mempelajari banyak terkait ilmu psikologi di dalam mengelola keluarganya, maka diperlukan program Sekolah Keluarga. Ke depan, program ini wajib dilakukan,” ujarnya.
Sebagai respons atas berbagai persoalan tersebut, DP3AP2 DIY menyelenggarakan edukasi kesiapan menikah di sekolah menengah, dan program sekolah keluarga yang berkelanjutan pascanikah. Upaya ini turut diperkuat melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki keilmuan psikologi, termasuk Fakultas Psikologi UGM.
Melalui ISCP ke-10 ini, peserta diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai pengasuhan lintas budaya dan mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan konteks budaya masyarakat. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti di ruang pembelajaran, tetapi dapat diterapkan untuk memperkuat keluarga dan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih aman serta mendukung kesehatan mental masyarakat.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana