Yogyakarta, 8 Juli 2026 – Tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan dan memvalidasi sebuah paradigma baru untuk mengukur working memory control atau kontrol memori kerja. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Cognitive Processing, yang memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami kemampuan kognitif manusia yang berperan penting dalam proses belajar, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah.
Penelitian yang dilakukan oleh Zulfikri Khakim, S.Psi., M.Sc., Satriyo Priyo Adi, S.Psi., M.Sc., Ramadhan Dwi Marvianto, S.Psi., M.A., Tri Hutomo Pamungkas, Dina Silvana Sibagariang, Puspita Dian Arista, dan Galang Lufityanto, S.Psi., M.Psi., Ph.D., bertujuan mengembangkan paradigma eksperimen yang mampu mengukur kontrol memori kerja dengan mengintegrasikan dua fungsi eksekutif utama, yakni pemeliharaan informasi (maintenance) dan kontrol inhibisi (inhibition).
Selama ini, penelitian mengenai fungsi eksekutif umumnya mengukur komponen-komponen kognitif secara terpisah dalam latar laboratorium tradisional, seperti kapasitas memori kerja (working memory), kontrol inhibisi, dan fleksibilitas kognitif. Namun, pendekatan terisolasi ini sering kali dikritik karena dinilai kurang merepresentasikan bagaimana proses-proses kognitif tersebut saling berinteraksi secara dinamis dalam kehidupan nyata.
Guna mengatasi keterbatasan tersebut, studi ini memperkenalkan sebuah paradigma eksperimen integratif yang menggabungkan tugas kontrol inhibisi kognitif dan tugas pemeliharaan informasi memori kerja ke dalam satu kerangka kerja terpadu.
Untuk menguji paradigma tersebut, tim peneliti melibatkan 238 mahasiswa psikologi yang menjalani serangkaian tugas kognitif, termasuk N-back Task, Stroop Task, dan Stop Signal Task. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa pada tugas N-back (khususnya level 2-back) dan tugas Stroop secara signifikan memprediksi performa kontrol memori kerja. Temuan ini membuktikan bahwa kemampuan kontrol memori kerja memang muncul dari interaksi aktif antara pemeliharaan informasi dan penyelesaian interferensi kognitif. Sebaliknya, Stop Signal Task tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kemampuan tersebut, mengindikasikan bahwa inhibisi motorik berbeda dengan inhibisi kognitif yang diperlukan dalam pengelolaan memori kerja.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa hubungan antara kontrol memori kerja, inhibisi kognitif, dan kemampuan berpindah tugas (set shifting) berbeda pada setiap individu. Peserta dengan kapasitas kontrol memori kerja yang lebih tinggi cenderung lebih mengandalkan kemampuan inhibisi kognitif, sedangkan individu dengan kapasitas yang lebih rendah lebih bergantung pada kemampuan memori kerja untuk mendukung proses berpindah tugas.
Menurut Zulfikri Khakim, temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan kognitif tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling berinteraksi dalam mendukung perilaku adaptif.
“Penelitian ini memperlihatkan bahwa kontrol memori kerja merupakan hasil interaksi antara kemampuan mempertahankan informasi dan menghambat gangguan. Dengan mengintegrasikan kedua proses tersebut ke dalam satu paradigma, kami berharap pengukuran fungsi eksekutif menjadi lebih representatif terhadap cara kerja kognisi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa paradigma baru tersebut dapat menjadi alternatif yang lebih valid untuk penelitian psikologi kognitif maupun neuropsikologi di masa mendatang.
“Paradigma ini tidak hanya bermanfaat untuk memperkuat pemahaman teoretis mengenai fungsi eksekutif, tetapi juga berpotensi digunakan dalam pengembangan asesmen kognitif serta evaluasi berbagai intervensi yang berkaitan dengan perhatian, pembelajaran, maupun rehabilitasi kognitif,” jelasnya.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan metode pengukuran fungsi eksekutif yang selama ini cenderung dilakukan secara terpisah. Dengan menghadirkan pendekatan yang lebih terpadu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi landasan bagi studi-studi lanjutan mengenai mekanisme kerja memori, perhatian, serta pengambilan keputusan, sekaligus membuka peluang pengembangan instrumen asesmen yang lebih akurat untuk bidang psikologi, pendidikan, dan ilmu saraf.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar