Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui Center for Public Mental Health (CPMH), bekerja sama dengan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan seminar dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional 2026 pada Jumat (3/7).
Kegiatan ini berlangsung secara luring di Hall D-100 Fakultas Psikologi UGM dan daring melalui Zoom, diikuti lebih dari 500 peserta dari masyarakat umum dan pemangku kepentingan di Yogyakarta.
Kegiatan bertajuk “A Shoulder to Cry On: Bertahan Bersama, Bertumbuh Bersama, Menghadirkan Ayah dalam Keluarga” ini mengangkat pentingnya peran aktif ayah dalam keluarga sebagai bagian dari Road to International Short Course on Psychology (ISCP) 2026 yang akan digelar pada Agustus mendatang.
Kegiatan ini menghadirkan G.K.B.R.A.A. Paku Alam, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai keynote speaker, diikuti oleh tiga akademisi dan praktisi, yaitu Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si., Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Cahyadi Takariawan, S.Si., Apt., pendiri Wonderful Family Institute dan konselor keluarga, serta Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, Kepala Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi UGM.
“Ayah tidak hanya hadir sebagai kuantitas tapi kualitasnya,” ujar G.K.B.R.A.A. Paku Alam.
G.K.B.R.A.A. Paku Alam dalam sesi keynote menyoroti aspek budaya Jawa dalam pengasuhan. Menurutnya, peran ayah mencakup tiga hal utama: memberikan rasa aman, menghadirkan kehangatan, dan mendukung anak dalam pengambilan keputusan. Ia juga memberikan penghargaan kepada ibu yang menjalankan peran ganda sebagai figur ayah.
“Tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang saling mendukung dapat membentuk dasar keamanan dan nilai moral bagi anak,” tutur G.K.B.R.A.A. Paku Alam.

Setelah sesi keynote, seminar dilanjutkan dengan sharing session yang menghadirkan tiga akademisi dan praktisi. Sesi pertama diisi oleh Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, yang membagikan pengalamannya terkait peran figur pengganti ayah dalam keluarga, termasuk peran anggota extended family ketika sosok ayah biologis tidak hadir.
“Tidak semua ayah hadir karena ikatan darah, ada yang menjadi ayah karena memilih untuk hadir,” tegas Avin.
Avin juga menyoroti tantangan baru di era digital yaitu fenomena phubbing, ketika orang tua terlalu fokus pada ponsel sehingga mengabaikan anak. Hal ini dapat menurunkan kualitas interaksi, sehingga orang tua dihimbau untuk lebih sadar dan hadir dalam komunikasi dengan anak.
Dalam mendampingi keluarga menghadapi tantangan-tantangan tersebut, peran Cahyadi Takariawan menjadi penting dalam kesadaran masyarakat.
Pada sesi berikutnya, Cahyadi menjelaskan bahwa di Indonesia, karena karakter negara yang religius, pilar utama ketahanan keluarga berlandaskan iman, visi surga dan akhirat, motivasi ibadah, serta orientasi untuk ridha Allah. Selain itu, hubungan antara suami-istri dan pasangan dibangun dengan memperhatikan kelekatan emosional, kepemimpinan dalam keluarga, kebahagiaan, dan kebebasan masing-masing anggota.
“Tidak hanya ayah yang wajib hadir, negara juga sangat wajib hadir,” ujar Diana.
Diana Setiyawati menegaskan peran negara dalam mendukung keterlibatan ayah. Ia menekankan perlunya perubahan sikap, norma sosial, serta fasilitas dan program dukungan yang memadai agar ayah dapat hadir secara optimal.
Diana juga membandingkan praktik di Australia, yang mendorong ayah dari peran breadwinner menjadi caregiver, dengan penekanan pada investasi negara dalam pembangunan masa depan keluarga.
“Yang kita tuju adalah bagaimana kita membantu anggaran negara juga diinvestasikan untuk pembangunan masa depan”
“Tujuan kami adalah bagaimana kita membantu anggaran negara juga diinvestasikan untuk pembangunan masa depan,” ujar Diana Setiyawati.
Ia menambahkan bahwa meskipun Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar, pengalokasiannya masih menghadapi tantangan terkait prioritas. Fokus yang tepat diperlukan agar dana dapat digunakan secara efektif untuk mendukung kesejahteraan keluarga dan pembangunan anak-anak.
Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi tanya jawab dan diskusi, menyoroti perspektif baru terkait peran ayah dan dinamika pengasuhan di era digital.
Seminar ini menegaskan bahwa membangun keluarga yang sehat membutuhkan kolaborasi, komunikasi yang efektif, dan kehadiran orang tua secara aktif. Kehadiran ayah bukan hanya soal fisik, tetapi kualitas dukungan, kehangatan, dan ketegasan yang membentuk rasa aman anak.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana