Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi menyelenggarakan Kuliah Online CPMH #73 secara gratis pada Jumat, 22 Mei 2026 melalui Zoom Meeting dengan tema Di Balik Label ‘Generasi Rapuh’: Memahami Tekanan dan Kesehatan Mental Remaja Masa Kini. Kegiatan yang diikuti oleh 70 peserta ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan CPMH untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental remaja serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi perkembangan remaja masa kini.
Kegiatan ini menghadirkan psikolog Nurul Hidayati, M.Psi., Psikolog dan Wirdatul Annisa, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber, serta dimoderatori oleh Annisa Khomsah Salsabila, S.Psi. Dalam kegiatan tersebut, narasumber membahas berbagai tekanan yang dialami remaja masa kini serta pentingnya memahami kesehatan mental remaja secara lebih empatik dan tanpa stigma negatif.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa remaja sering kali dianggap sebagai generasi yang rapuh karena menghadapi tekanan hidup yang semakin tinggi. Padahal, masa remaja merupakan fase transisi yang kompleks karena melibatkan perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Pada fase ini, remaja cenderung ingin lebih mandiri, sensitif terhadap penilaian orang lain, memiliki emosi yang fluktuatif, mulai tertarik pada relasi sosial dan lawan jenis, serta sedang mencari jati diri sehingga lebih dekat dengan teman sebaya.
Selain itu, remaja juga memiliki keinginan untuk dilihat sebagai individu dengan identitasnya sendiri, bukan hanya dikenal sebagai anak dari seseorang. Karena itu, mereka membutuhkan pengakuan, pemahaman, dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, terutama keluarga sebagai lingkungan terdekat.

“Ketika remaja tidak merasa dirangkul, dipahami, dan diterima di lingkungan keluarga, mereka cenderung mencari tempat lain yang dapat memberikan rasa nyaman dan penerimaan terhadap dirinya. Salah satu contohnya adalah remaja yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain game karena merasa dihargai, diterima, dan memiliki teman dalam lingkungan tersebut. Akibatnya, game menjadi pelarian sekaligus ruang untuk memenuhi kebutuhan emosional dan sosial yang tidak mereka dapatkan di rumah,” ujar Nurul.
Narasumber juga menyoroti bahwa perubahan informasi dan teknologi yang begitu cepat sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan remaja maupun keluarga dalam menghadapi dampaknya, baik dalam penggunaan gawai, kemampuan literasi digital, maupun pengaruh internet terhadap kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dapat membuat remaja lebih rentan mengalami tekanan emosional. Bahkan, beberapa di antaranya melakukan self-harm karena tidak mampu mengelola perasaan dengan baik serta kurang mendapatkan dukungan sosial dari keluarga.

Oleh karena itu, dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, menjadi sangat penting agar remaja merasa didengar, dipahami, dan memiliki tempat yang aman untuk mengekspresikan emosinya.
“Orang tua perlu mengawasi anak dengan lebih perhatian sekaligus tegas melalui aturan yang disepakati bersama serta dikomunikasikan dengan baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membangun kebiasaan mengobrol santai agar orang tua lebih memahami aktivitas, perasaan, dan kondisi anak dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Wirdatul.
Selain membahas pentingnya peran keluarga, kegiatan ini juga menekankan bahwa setiap remaja memiliki karakter, cara berpikir, dan proses perkembangan yang berbeda-beda sehingga tidak dapat disamakan satu sama lain. Oleh karena itu, remaja membutuhkan dukungan tanpa syarat dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Orang tua juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda sehingga membutuhkan pola pendekatan dan perlakuan yang disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.
Melalui kegiatan ini, CPMH berharap masyarakat dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai tantangan yang dihadapi remaja saat ini serta mengurangi stigma negatif terhadap kesehatan mental remaja. CPMH juga berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan edukatif dan pengabdian kepada masyarakat yang dapat menjadi ruang belajar bersama dalam membangun lingkungan yang lebih peduli, suportif, dan sehat secara mental bagi remaja maupun keluarga.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati