Memasuki dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar gelar akademik. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, lulusan dituntut untuk mampu beradaptasi, terus belajar, serta menjaga integritas dalam setiap langkah profesionalnya.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam sesi pembekalan wisuda Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Senin (18/5), yang menghadirkan Dwi Wulandari, S.Psi., Psikolog, Vice President of Corporate Secretary PT Kereta Api Logistik dan alumnus Program Sarjana dan Profesi Fakultas Psikologi UGM.
Dalam sesi tersebut, Dwi memberikan gambaran realistis mengenai kondisi dunia kerja saat ini. Ia menegaskan bahwa status sebagai lulusan perguruan tinggi ternama merupakan titik awal untuk terus berkembang di persaingan yang luas.
“Angka ketenagakerjaan itu sebuah challenge. Ini suatu tantangan buat teman-teman semua,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa adaptabilitas menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi dinamika dunia profesional. Pada tahap awal karier, seseorang tidak hanya dituntut untuk menjalankan deskripsi pekerjaan, tetapi juga mampu mempelajari hal baru, mengambil inisiatif, serta merespons kebutuhan organisasi dengan cepat.
“Teman-teman harus punya inisiatif, proaktif pada saat bekerja. Kalau Anda hanya duduk diam, yang terjadi Anda akan stres,” jelas Dwi.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya resiliensi dalam menghadapi tekanan kerja. Menurutnya, tantangan dan ketidaknyamanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran di dunia profesional. Oleh karena itu, lulusan diharapkan mampu bertahan dan terus berkembang, bahkan ketika menghadapi situasi yang tidak ideal.
“Jangan melihat dari kacamatanya sendiri, tapi lihat dari kacamata orang lain. Itulah yang namanya fleksibilitas,” tuturnya.

Dalam konteks kerja lintas generasi, Dwi menekankan pentingnya fleksibilitas dan kecerdasan emosional. Ia menjelaskan bahwa kemampuan memahami perspektif orang lain menjadi kunci dalam membangun hubungan kerja yang sehat dan produktif.
Lebih lanjut, Dwi mengingatkan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun karier jangka panjang. Menurutnya, profesionalisme tidak hanya diukur saat diawasi, tetapi juga dari kejujuran, tanggung jawab, serta konsistensi dalam bertindak.
“Jangan berhenti dengan ‘apabila saya menjadi seorang sarjana, ya sudah, that’s it, saya berhenti belajar yang lain’. Kalau Anda ingin berkembang lebih luas, Anda harus belajar hal yang lain,” ujarnya.
Ia juga mendorong lulusan untuk terus mengembangkan diri di luar bidang akademik, memperluas wawasan, mengikuti sertifikasi, dan membangun jejaring profesional. Menurutnya, lulusan perlu menunjukkan nilai tambah yang dapat diberikan kepada organisasi.
Melalui sesi ini, Fakultas Psikologi UGM berupaya menanamkan pola pikir profesional yang adaptif, berintegritas, dan berorientasi pada pembelajaran sepanjang hayat. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu lulusan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan kontribusi nyata di mana pun mereka berkarya.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana