Pernahkah kita bertanya kepada remaja, “Bagaimana harimu?” lalu hanya mendapat jawaban singkat? Atau mencoba berbicara dari hati ke hati, tetapi perhatian mereka justru tertuju pada layar? Fenomena ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah ada yang perlu kita pahami kembali tentang cara berkomunikasi dengan remaja saat ini?
Gen Alpha, generasi yang lahir sekitar 2010 hingga 2024 dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan digital, kerap diberi label sebagai generasi yang “diam” atau “tidak terhubung”. Padahal, bisa jadi mereka bukan mengabaikan, melainkan menunggu dipahami melalui cara komunikasi yang berbeda.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talkshow psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan TVRI Yogyakarta, pada Selasa (5/5). Dipandu oleh host Ferry Anggara, episode kelima ini menghadirkan Kepala SMP Budya Wacana sekaligus alumnus Magister Psikologi UGM, Adhika Ayu Pratisthita, S.Pd., M.A., yang membahas tantangan komunikasi yang dihadapi remaja Gen Alpha di era digital.
Selektif, Bukan Apatis
Menurut Ayu, cara komunikasi Gen Alpha kerap disalahartikan dan diberi label seperti “generasi rapuh”. Padahal, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari konteks lingkungan digital yang mereka hadapi setiap hari.
“Remaja sekarang hidup di era di mana bahkan ketika mereka berkomunikasi lewat tulisan pun, ada kemungkinan dikritisi atau dianggap salah oleh orang lain,” jelasnya.
Situasi ini membuat banyak remaja merasa tidak memiliki ruang aman untuk berekspresi. Mereka menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung takut untuk berbicara secara spontan karena khawatir akan dihakimi. Sebaliknya, dalam media yang terasa lebih aman, seperti refleksi tertulis, mereka justru bisa lebih ekspresif.

Ayu menekankan bahwa remaja saat ini bukan tidak mau berkomunikasi, melainkan lebih selektif dalam memilih cara dan ruang untuk melakukannya.
“Saya lebih setuju menggunakan istilah ‘selektif’, karena ini menjadi PR bagi orang dewasa untuk memahami media komunikasi yang paling nyaman bagi remaja,” ujarnya.
Dalam hal ini, orang dewasa justru perlu melakukan refleksi. Bisa jadi, hambatan komunikasi bukan hanya berasal dari remaja, tetapi juga dari kurangnya pemahaman kita terhadap dunia mereka. Ayu menekankan pentingnya empati dibandingkan dengan penilaian, karena pelabelan justru dapat membuat remaja semakin memilih untuk diam.
“Maka kita harus berusaha mendekatkan diri, memahami sudut pandang mereka, dan secara perlahan membantu mereka berani menyampaikan apa yang mereka rasakan,” tambahnya.
Membangun Ruang Komunikasi yang Aman
Membangun budaya komunikasi yang aman dan tidak menghakimi menjadi langkah awal. Salah satu caranya adalah melalui circle time, sesi rutin di mana anggota keluarga atau kelas berbagi perasaan secara bergantian dalam suasana yang santai dan tidak menghakimi. Penggunaan magic words, kata-kata positif dan afirmatif seperti tolong, maaf, dan terima kasih dalam komunikasi sehari-hari dapat menjadi fondasi penting. Selain itu, membangun waktu berkualitas dua arah secara konsisten juga berperan dalam memperkuat hubungan antara remaja dan orang dewasa.
“Ketika remaja diam, itu bukan berarti mereka tidak membutuhkan kita. Diam bisa jadi karena mereka tidak tahu bagaimana memulai komunikasi,” jelas Ayu.
Sebagai penutup, Ayu mengingatkan bahwa ketika remaja memilih untuk diam, itu adalah ajakan untuk lebih mendekat dan mendengarkan. Orang tua, guru, dan orang dewasa perlu menunjukkan ketertarikan terhadap dunia mereka agar komunikasi yang sehat dapat terbangun.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana