Yogyakarta, 26 Februari 2026 – Gangguan psikologis seperti post-traumatic stress disorder (PTSD) dan gejala disosiasi (merasa ‘terpisah’ dari diri sendiri) merupakan respon umum ketika seseorang mengalami trauma mendalam. Sebuah studi kolaborasi internasional terbaru mengungkap dinamika hubungan antara complex post-traumatic stress disorder (CPTSD) dan gejala disosiasi melalui pendekatan lintas budaya yang melibatkan partisipan dari negara Barat dan Asia Selatan.
Penelitian yang dilakukan oleh Fung, H.W., Lay, C.M., Yuan, G.F., … Novrianto, R., dkk., ini dipublikasikan dalam jurnal Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology dengan judul “The Relationship between Complex PTSD and Dissociation: Longitudinal Findings across Western and South Asian Female Samples.”
Studi ini bertujuan untuk memahami hubungan dua arah antara PTSD kompleks dan disosiasi, dua respons psikologis yang sering muncul akibat trauma, khususnya trauma interpersonal. Selama ini, disosiasi dianggap sebagai komponen penting dalam memahami PTSD, namun dinamika hubungan keduanya masih belum sepenuhnya dipahami.
Penelitian dilakukan dengan desain longitudinal, melibatkan partisipan perempuan dari dua kelompok budaya berbeda, yaitu 101 dari negara Barat (Amerika Utara/Kanada serta Inggris Raya) dan 160 dari Asia Selatan (Malaysia, Filipina, Indonesia, Singapura). Data dikumpulkan dalam dua periode dengan rentang waktu sekitar enam bulan, menggunakan instrumen terstandar untuk mengukur gejala PTSD, gangguan dalam organisasi diri (disturbances in self-organization/DSO), dan gejala disosiatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 71,7% hingga 84,2% partisipan dengan CPTSD memiliki gejala disosiatif. Sementara itu 70% hingga 72,3% partisipan dengan gejala disosiatif memiliki kemungkinan mengalami PTSD atau CPTSD. Selain itu, gejala disosiatif juga ditemukan mampu memprediksi tingkat PTSD pada dua kelompok partisipan.Menariknya, hal serupa tidak ditemukan pada hubungan antara gejala disosiatif dengan gejala DSO. Peran gejala disosiatif sebagai prediktor DSO hanya terlihat pada sampel Asia Selatan, menunjukkan adanya perbedaan dinamika psikologis berdasarkan konteks budaya.
Temuan ini menegaskan bahwa gejala disosiasi merupakan faktor penting dalam penanganan PTSD, namun mekanismenya dapat berbeda tergantung pada latar belakang budaya individu. Oleh karena itu, pendekatan dalam asesmen dan intervensi PTSD perlu mempertimbangkan gejala disosiasi dalam konteks sosial dan budaya secara lebih teliti.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang kesehatan mental global, khususnya dalam memahami dinamika PTSD dan penanganannya. Hasil studi diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pencegahan dan penanganan PTSD yang lebih sensitif terhadap perbedaan budaya.
Selamat untuk Riangga Novrianto dan tim penulis.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar