Bagaimana jika rumah tidak lagi terasa seperti rumah?
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta. Pada episode ketiga OPSI di tahun ini, Istiana Tajuddin, S.Psi., M.Psi., mahasiswa program studi Doktor Ilmu Psikologi UGM, menjelaskan fenomena ketika rumah tidak lagi menjadi tempat pulang.
Secara ideal, rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat yang aman dan nyaman untuk beristirahat serta dapat memberikan kita ruang untuk menjadi diri sendiri. Namun, dalam kenyataannya, konflik dan beban ekspektasi di dalam keluarga sering kali membuat individu merasa enggan untuk pulang.
“Hari-hari ini banyak dari kita kalau di rumah justru topengnya makin tebal… terlalu banyak tuntutan tapi arahannya gak paham,” ungkap Istiana.
Sering kali anggota keluarga merasa harus menutupi perasaan atau jati diri mereka demi memenuhi tuntutan keluarga. Akibatnya, rumah tidak lagi menjadi ruang aman, melainkan sumber tekanan emosional.
Kenapa banyak yang merasa seperti itu?
Salah satu penyebab utamanya adalah emosi yang tidak terkelola dengan baik dalam keluarga. Komunikasi yang terjadi sering kali berubah menjadi perdebatan, bahkan ketika percakapan baru dimulai.
“Kalau aku pulang, aku akan debat” atau “Kalau aku pulang, aku baru ngomong sedikit sudah disanggah,” ujar Istiana.
Hal ini menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga perlu dipertanyakan. Istiana menjelaskan bahwa keluarga yang sehat memiliki lima fungsi utama, yaitu tempat pemecahan masalah, adanya peran yang jelas bagi setiap anggota, keterlibatan afektif, tanggapan afektif, dan kontrol perilaku yang seimbang.
Namun, dalam praktiknya, kebutuhan emosional ini sering kali tidak terpenuhi. Ketika anak mencoba bercerita, respons yang diterima justru berlebihan atau tidak proporsional. Analoginya adalah ‘manusia soda’ yang mudah meledak. Padahal, yang dibutuhkan sering kali hanyalah validasi dan penguatan emosional.
Tidak jarang banyak individu yang akhirnya memilih untuk bercerita kepada teman atau melalui media sosial karena merasa lebih didengar dan diterima. Meski demikian, Istiana juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam berbagi di media sosial, dengan tetap menggunakan filter dan berpikir kritis.
Selain itu, komunikasi antarkeluarga dapat menjadi semakin renggang. Anak akan cenderung tidak menceritakan apa pun kepada orang tua, kecuali ketika situasi sudah mendesak, dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Apa yang dapat kita lakukan?
Istiana menjelaskan bahwa setidaknya ada enam hal yang dapat individu lakukan untuk mengatasi situasi ini. Langkah pertama adalah reach out, di mana sebagai keluarga, seharusnya kita dapat menciptakan lingkungan sosial yang aman dan suportif, baik di dalam maupun di luar keluarga. Selain itu, sesama anggota keluarga perlu belajar untuk mendengarkan tanpa menghakimi, memahami emosi, serta membangun kembali kepercayaan melalui sikap dan tindakan yang konsisten.
Pada saat yang sama, penting juga untuk membangun kesadaran bahwa setiap anggota keluarga memiliki beban dan perjalanan hidupnya masing-masing. Sering kali, kita lupa bahwa orang tua juga menghadapi tekanan yang tidak selalu terlihat. Maka dari itu, komunikasi menjadi tanggung jawab bersama. Setiap anggota keluarga perlu berupaya untuk tetap terhubung dan saling memahami. Salah satu langkah yang konkret adalah membangun ritual keluarga, seperti meluangkan waktu khusus tanpa distraksi gadget untuk berbicara secara terbuka dan berkualitas.
Terakhir, untuk melakukan semua langkah tersebut, penting bagi individu untuk kembali pada dirinya sendiri, melakukan refleksi, mencari ketenangan, dan mulai menyembuhkan luka batin sebelum mencoba memperbaiki relasi dengan orang lain.
“Kalau kita mendekatkan tangan terlalu dekat, itu tidak jelas, …tetapi kalau sudah lebih berjarak itu sudah lebih jelas, sama seperti kita punya masalah,” tegasnya.
Pada akhirnya, perubahan dalam keluarga tidak dapat dipaksakan secara instan. Perubahan justru dimulai dari diri sendiri, dengan menjadi pribadi yang lebih mampu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi orang-orang di sekitarnya.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Note:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira