Keterangan foto: dari kiri ke kanan Dr. Pradytia, Omar Abou-Samra (Senior Director GDPC), Vladislav Kavaleuski (Research and Knowledge Management Program Manager, GDPC), Dr. Tirsit (GDPC grantee in Addis Ababa).
Dr. Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Dosen Fakultas Psikologi UGM, diundang oleh Global Disaster Preparedness Center (GDPC), American Red Cross untuk memaparkan hasil riset mengenai inklusivitas dan keterlaksanaan (actionability) Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) Gunung Api bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Riset ini telah dipublikasikan pada platform GDPC American Red Cross dengan judul “Inclusivity and actionability of volcanic hazard Early Warning System in Indonesia: Perspectives of persons with disabilities”.
Riset ini dipresentasikan pada The International Humanitarian Studies Association (IHSA) Conference 2025, yang berlangsung pada 15–17 Oktober di Marmara University (Istanbul) dan Chr. Michelsen Institute/CMI (Bergen). Konferensi ini mengusung tema “Humanitarianism in Crisis: New Realities in Practices and Knowledges”. Di Istanbul, Dr. Pradytia berbicara dalam panel “Getting Ahead of Disasters by Connecting Early Warning and Anticipatory Action That Works for All,” yang diselenggarakan Risk-informed Early Action Partnership (REAP) dan GDPC. Melalui paper “Perspectives and experiences of persons with disabilities on the inclusivity of volcanic hazard Early Warning System in Indonesia,”
Dr. Pradytia memaparkan tentang bagaimana penyandang disabilitas mengakses dan menindaklanjuti informasi peringatan dini dalam situasi bencana. Studi lapangan ini dilakukan di dua desa sekitar Gunung Merapi dengan melibatkan 182 penyandang disabilitas dan organisasi penyandang disabilitas melalui survei, FGD, serta analisis tematik dan spasial. Temuan kunci menunjukkan adanya ko-eksistensi sistem peringatan tradisional dan modern, namun kesenjangan aksesibilitas, jangkauan, dan kejelasan pesan, masih dirasakan penyandang disabilitas. Studi ini menekankan peran strategis organisasi penyandang disabilitas untuk mengintegrasikan EWS dalam kesiapsiagaan komunitas, mendorong perilaku pengurangan risiko jangka panjang, dan memperkuat tindakan antisipatif.
Selain itu, Dr. Pradytia turut mempresentasikan kajian “Mental Health and Psychosocial Support for Refugee with Disabilities: A Scoping Review” dalam roundtable “Diversity, Equity and Inclusion in Humanitarian Action: Anyone Still Interested?” yang dikelola oleh Prof Dennis Dijkzeul (Ruhr Universitat Bochum) yang juga mitra penelitian Fakultas Psikologi UGM. Naskah ini ditulis bersama dengan Arifa Widyasari, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Scoping review atau telaah pustaka sistematis ini memetakan bentuk serta implementasi dukungan psikososial bagi pengungsi penyandang disabilitas secara global dengan mengidentifikasi 34 artikel terpilih dari 12.049 publikasi sepanjang 2001–2024, yang sebagian besar berasal dari Eropa dan Timur Tengah. Hasilnya menunjukkan bahwa dukungan psikososial yang paling sering hadir adalah layanan dasar yang inklusif (misalnya layanan kesehatan dan pendidikan) serta intervensi spesialis (psikoterapi dan penanganan trauma). Namun, layanan tingkat komunitas dan layanan non spesialis masih kurang berkembang, padahal hal tersebut berpotensi meningkatkan aksesibilitas dan relevansi kultural.
Kehadiran Dr. Pradytia di IHSA 2025 menegaskan komitmen Fakultas Psikologi UGM dalam mendorong kebijakan dan praktik kemanusiaan yang berbasis bukti, inklusif, dan berkeadilan. Melalui riset lapangan dan kajian global, kontribusi ini memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini dan dukungan psikososial yang dirancang bersama komunitas, ditopang standar aksesibilitas yang kuat, serta diintegrasikan dengan jaringan sosial dan perangkat teknologi, merupakan prasyarat agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam tata kelola kebencanaan di era krisis yang semakin kompleks.
Sanggahan:
Proyek penelitian “Inklusivitas dan keterlaksanaan Sistem Peringatan Dini bahaya gunung api di Indonesia: Perspektif penyandang disabilitas” didanai oleh pemerintah Inggris dan dikelola oleh GDPC. Pandangan yang diungkapkan tidak serta-merta mencerminkan kebijakan resmi pemerintah Inggris.
Penulis: Raden Roro Anisa Anggi Dinda