Di tengah menguatnya peran media sosial dalam isu lingkungan, riset terbaru dari Fakultas Psikologi UGM menyoroti bagaimana persepsi warganet atas perubahan lingkungan di ruang digital. Berangkat dari dinamika wacana kerusakan lingkungan di platform seperti TikTok—mulai dari dukungan simpatik hingga komentar bernada agresif—penelitian ini berusaha memahami pola-pola interaksi warganet terkait isu lingkungan. Riset ini didanai oleh Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM 2025 dan berada dalam payung tema Cyberpsychology di Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP).
Penelitian yang dipimpin oleh Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi.,M.A., bersama tim Psikologi Sosial ini berfokus pada Generasi Z sebagai sasaran utama. Tim menargetkan 250 anak muda yang aktif mengikuti obrolan soal isu perubahan lingkungan di TikTok. Untuk menjaga hasil riset tetap dapat dipercaya, peserta dibagi ke beberapa kelompok secara acak, selain itu ada pengecekan apakah mereka benar-benar memahami materi yang ditampilkan, serta urutan pertanyaan disusun acak. Nantinya, data akan dianalisis untuk melihat apakah jenis percakapan tertentu di media sosial mempengaruhi emosi dan kecenderungan perilaku online (misalnya cenderung mendukung, berbagi, mengabaikan, atau menyerang) secara bersamaan.
Tim peneliti terdiri atas Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi.,M.A., (ketua), Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., Samudera Fadlilla Jamaluddin, S.Psi., M.Sc., serta asisten peneliti dari alumni dan mahasiswa Lusiana Yashinta Ellisa Putri, S.Psi., M.Sc., Faiqal Dima Hanif, S.Psi., Ahmad Yusrifan Amrullah, M.A., Dea Siti Hafsha, M.A., Amr Yazid Pikoli, S.Psi. Keterlibatan lintas jenjang ini diharapkan memperkuat kualitas pelaksanaan, mulai dari penyusunan stimulus yang sensitif konteks Indonesia hingga pengolahan data yang cermat. Seluruh proses dirancang dalam kurun waktu 12 bulan, dengan tahapan pembuatan stimulus, uji coba skala, eksperimen, analisis data bertahap, dan penulisan manuskrip.
Melalui pendekatan eksperimental yang ketat dan berfokus pada pengalaman pengguna media sosial di Indonesia, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis mengenai bagaimana konten dan percakapan isu lingkungan membentuk emosi serta perilaku partisipasi politik generasi muda. Secara praktis, temuan studi dapat menjadi rujukan bagi pengelola akun media, pembuat kebijakan, maupun pembuat konten untuk merancang diskursus politik yang hangat, kompeten, dan mendorong partisipasi konstruktif. Dengan demikian, ruang percakapan digital diharapkan semakin inklusif, mengurangi polarisasi, serta mendukung penguatan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.
Penulis: Raden Roro Anisa Anggi Dinda