•  Tentang UGM
  •  Perpustakaan
  • Informasi Publik
  • SDGs
  • SIT
  • Simaster
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada
  • TENTANG KAMI
    • Selayang Pandang
      • Sejarah
      • Perintis
    • Manajemen
    • Tenaga Pendidik
    • Tenaga Kependidikan
    • Jaminan Mutu
  • PENDIDIKAN
    • Sarjana Psikologi
    • International Undergraduate Program
    • Program Pendidikan Profesi Psikologi
    • Magister Psikologi
    • Doktor Ilmu Psikologi
  • PENELITIAN & PENGABDIAN
    • Roadmap Penelitian dan PkM
    • Penelitian
    • Publikasi
    • Pengabdian
    • Kerja Sama
  • MAHASISWA
    • Tata Perilaku Mahasiswa
    • Lowongan Magang Wajib
    • Beasiswa
    • Badan Kegiatan Mahasiswa
    • Prestasi Mahasiswa
  • FASILITAS
    • Laboratorium
    • Kelompok Riset
    • Dukungan Non-akademik
  • Beranda
  • Rilis
  • Menembus Trauma Kompleks, Studi Kasus Penyintas yang Berhasil Menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana

Menembus Trauma Kompleks, Studi Kasus Penyintas yang Berhasil Menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana

  • Rilis
  • 26 Oktober 2026, 16.07
  • Oleh: Humas
  • 0

Yogyakarta, 26 Oktober 2026 — Pengalaman trauma kompleks pada masa kanak-kanak dapat menghadirkan tantangan berkepanjangan dalam kehidupan seseorang, termasuk saat menempuh pendidikan tinggi. Namun, pengalaman traumatis tidak selalu menghentikan perkembangan individu. Sebuah penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bagaimana seorang penyintas trauma kompleks tetap mampu menyelesaikan pendidikan pascasarjana di tengah berbagai tekanan hidup.

Penelitian berjudul “A Single Case Study of an Emerging Adult Complex Trauma Survivor Pursuing a Graduate Degree” ini ditulis oleh Dr. Amalia Rahmandani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog, dan Dra. Muhana Sofiati Utami, M.S., Ph.D., Psikolog. Artikel tersebut diterbitkan dalam Journal of Child & Adolescent Trauma pada tahun 2026.

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa trauma kompleks dapat memengaruhi perkembangan individu dan pencapaian pendidikan. Meski demikian, pengalaman penyintas yang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi memberikan perspektif penting untuk memahami proses pemulihan, pertumbuhan, dan resiliensi. Melalui studi kasus tunggal dengan pendekatan fenomenologis interpretatif, peneliti mengkaji pengalaman seorang mahasiswa berusia 24 tahun yang berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana meskipun menghadapi berbagai tekanan, yaitu pembatasan perkuliahan daring akibat pandemi COVID-19 dan keharusan tinggal serumah bersama orang tua yang menjadi sumber trauma masa kecilnya.

Hasil analisis mengidentifikasi empat tema utama yang menggambarkan proses penyesuaian dan keberlanjutan akademik partisipan. Pertama, partisipan mengompromikan tuntutan (compromising with the demand), di mana keputusan untuk melanjutkan studi pascasarjana awalnya dipengaruhi oleh kontrol orang tua. Meskipun merasa jenjang pascasarjana membawa beban ekspektasi tinggi, ia memilih berkompromi serta mampu bertahan melewati hambatan kesehatan, kendala finansial, dan tantangan perkuliahan jarak jauh. Kedua, partisipan menegosiasikan potensi diri di tengah keterbatasan (negotiating self-potential despite shortcomings).

Dampak trauma masa kecil memicu hambatan komunikasi interpersonal dan rasa ragu saat berdiskusi di kelas, namun ia menggunakan strategi kognitif untuk menyadari kapasitas akademik serta mengarahkan cita-cita kariernya pada bidang yang sesuai dengan karakternya. Ketiga, partisipan menghadapi hubungan destruktif dan hubungan konstruktif (opposing unchangeable destructive relationships with constructive ones). Konflik orang tua yang terus berulang dikelola menggunakan koping yang berfokus pada emosi dan terkontrol secara kognitif (cognitively-controlled emotion-focused coping). Selain itu, partisipan juga membangun relasi sosial yang sehat dan suportif di luar keluarga, seperti dengan pasangan dan kawan sebaya. Keempat, partisipan dengan gigih mengembangkan bakat bisnisnya (persistently developing a talent that is study-related).

Pendidikan pascasarjana dimanfaatkan sebagai modal pengetahuan dan batu loncatan untuk mengembangkan minat wirausaha yang telah dipupuk sejak kecil. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan akademik penyintas trauma tidak dapat dipahami hanya melalui hambatan yang mereka hadapi. Pengalaman individu, strategi menghadapi kesulitan, hubungan sosial, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Penelitian ini memberikan perspektif bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan lingkungan pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa dengan pengalaman traumatis. Dukungan dapat mencakup pengakuan terhadap keunikan pengalaman individu, fleksibilitas dalam menghadapi tantangan akademik, serta akses terhadap dukungan sosial dan profesional yang sesuai.

Pendidik dan praktisi juga dapat membantu mahasiswa mengenali potensi dan kekuatan yang dimiliki, mengembangkan strategi menghadapi kesulitan, dan membangun hubungan yang mendukung proses belajar. Pendekatan tersebut bukan berarti mengabaikan dampak trauma, melainkan mempertimbangkan tantangan sekaligus potensi pertumbuhan setiap individu.

Studi ini mengingatkan bahwa keberhasilan akademik penyintas trauma perlu dipahami secara kontekstual. Satu pengalaman tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh penyintas, tetapi dapat memberikan wawasan mengenai kemungkinan jalur pertumbuhan dan pentingnya dukungan yang tepat. Melalui pemahaman tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan keberagaman pengalaman dan kebutuhan mahasiswa.

Penata: Fauzi
Editor: Zufar

Tags: Dukungan Sosial Fakultas Psikologi UGM kesehatan mental pemulihan trauma Pendidikan Pascasarjana Psikologi Klinis Publikasi Ilmiah Resiliensi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 5: Kesetaraan Gender SDGs Trauma Kompleks Trauma Masa Kanak-Kanak

Berita Terkini

  • Menembus Trauma Kompleks, Studi Kasus Penyintas yang Berhasil Menyelesaikan Pendidikan PascasarjanaOktober 26, 2026
  • Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM Kembangkan Modul Intervensi Digital Well-BeingOktober 23, 2026
  • UPAP Fakultas Psikologi UGM Dampingi Peserta PAPS Disabilitas DaksaOktober 22, 2026
  • Dosen Psikologi UGM Kaji Pengaruh Pengalaman Masa Kecil terhadap Kontrol InhibisiOktober 22, 2026
  • Fakultas Psikologi UGM dan FKIK Universitas Jambi Perpanjang Kerja Sama Tridharma Perguruan TinggiOktober 21, 2026
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 (hunting)
+62 (274) 550435 ext 158
psikologiugm
psikologiugm
psikologi_ugm
Kanal Psikologi UGM

TENTANG KAMI

  • Selayang Pandang
  • Sejarah
  • Manajemen
  • Tenaga Pendidik
  • Tenaga Kependidikan

INFORMASI PUBLIK

  • Daftar Informasi Publik
  • Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

FASILITAS

  • Fasilitas Pendidikan
  • Laboratorium
  • Kelompok Riset
  • Publikasi & Jurnal
  • Dukungan Non-akademik

MAHASISWA

  • Tata Perilaku Mahasiswa
  • Mitra Magang MBKM
  • Beasiswa
  • Badan Kegiatan Mahasiswa

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju