Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika (UPAP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Webinar Series Inovasi Alat Ukur Psikologis bertajuk “Dari Studi Kualitatif Menuju Pengembangan Skala” pada Senin (13/7) melalui Zoom Meeting. Kegiatan yang merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat ini terbuka untuk umum tanpa biaya. Webinar menghadirkan dua narasumber yang membahas proses pengembangan dan evaluasi alat ukur psikologi.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Psikologi UGM, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., membuka kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa webinar ini menjadi bagian dari upaya UPAP untuk berbagi inovasi di bidang psikometrika, baik dari sisi produk maupun proses pengembangannya.
“Ini dipimpin atau disusun oleh Tim Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika atau Tim UPAP dari Fakultas Psikologi UGM yang memang ingin memperkenalkan inovasi-inovasi baru di bidang psikometrika, khususnya tidak hanya produk tetapi juga bagaimana proses metode yang ingin dibagikan oleh para narasumber,” ungkapnya.
Sesi pertama menghadirkan Dr. Sovi Septania, M.Psi., Psikolog, alumnus Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM. Ia memaparkan pengembangan Digital Well-Being Scale berdasarkan disertasinya yang dikerjakan selama sekitar tiga setengah tahun. Menurut Sovi, aktivitas digital perlu dipahami sebagai bagian dari kehidupan sosial karena interaksi di ruang digital berkaitan dengan keterbukaan individu terhadap publik.
“Aktivitas digital itu tidak lagi bisa dianggap sebagai aktivitas individual. Karena pada saat kita sudah jump in ke ruang digital, maka pada hakikatnya kita sudah membuka diri kita di ruang publik,” katanya.
Penelitian Sovi diawali dengan tinjauan literatur dan eksplorasi kualitatif melalui respons terbuka dari 404 responden serta wawancara dengan 20 orang. Hasilnya digunakan untuk menyusun butir skala yang kemudian ditelaah dan diuji secara psikometrik. Dari 52 butir awal, proses pengujian menghasilkan skala akhir dengan 15 butir dan dua faktor, yaitu Regulasi Diri Digital serta Optimalisasi Aktivitas Digital. Penelitian ini kemudian dikembangkan menjadi modul intervensi berbasis platform daring berpanduan mandiri untuk pengguna berusia 17-34 tahun. Saat webinar berlangsung, platform tersebut masih dalam tahap uji coba.
Sesi berikutnya menghadirkan Ramadhan Dwi Marvianto, S.Psi., M.A., dosen Fakultas Psikologi UGM dengan peminatan psikometri. Ia membahas evaluasi properti psikometris Skala Kualitas Pertemanan Online yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si., dan tim. Menurutnya, evaluasi alat ukur perlu mempertimbangkan bukti validitas yang mendukung ketepatan penggunaannya.

“Alat ukur itu sebuah benda netral. Benda netral yang kita buat, tetapi penggunaannya dan juga bukti-bukti bahwa kita bisa menggunakan alat ini dengan tepat itu yang disebut validitas,” ujarnya.
Evaluasi dilakukan terhadap struktur internal dan karakteristik butir skala, termasuk kemungkinan perbedaan fungsi butir berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan hasil analisis, Marvi menyusun versi pendek yang terdiri atas 15 butir dari 26 butir awal ska penuh. Pemilihan butir mempertimbangkan daya diskriminasi, kemungkinan Differential Item Functioning (DIF), sebaran tingkat trait dari rendah hingga tinggi, dan keterwakilan konten. Versi pendek tersebut menunjukkan kecocokan model yang lebih baik dibandingkan versi penuh dan dapat menjadi alternatif ketika waktu pengukuran terbatas.
Dalam sesi tanya jawab, peserta membahas berbagai persoalan pengukuran psikologis, termasuk kebutuhan pengujian ulang alat ukur, jumlah responden untuk analisis faktor, serta tantangan penelitian di tengah keragaman budaya dan keterbatasan sumber daya. Marvi menekankan bahwa evaluasi berkelanjutan merupakan bagian dari upaya menyempurnakan alat ukur.
“Pengujian kembali itu bukan melemahkan apa yang kita lakukan, tapi sebenarnya menyempurnakan,” katanya.
Reportase: Nur Latifah
Penulis: Erna Tri Nofiyana