Arsip:

Rilis Pers

Anjuni Khofifah Hanifi, S.Psi., M.Sc.

Anjuni Khofifah Hanifi, S.Psi., M.Sc. adalah lulusan Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan minat pada neurosains dan proses kognisi manusia. Ketertarikannya pada proses berpikir dan belajar manusia mengantarkannya sebagai awardee Beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi MSc in Human Cognitive Neuropsychology di The University of Edinburgh, Inggris. Selain aktif di bidang akademik, Anjuni juga berupaya menjembatani psikologi, teknologi, dan analisis data melalui berbagai kontribusi edukatif berbasis riset.

Muhammad Nabhan Husein, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Muhammad Nabhan Husein, S.Psi., M.Psi., Psikolog, merupakan seorang psikolog klinis lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, tempat ia menempuh pendidikan Sarjana Psikologi hingga Magister Psikologi Profesi. Latar belakang akademiknya membekali dirinya dengan pemahaman komprehensif mengenai asesmen, diagnosis, dan intervensi psikologis berbasis keilmuan. Ia memiliki ketertarikan kuat pada pengembangan layanan kesehatan mental yang berlandaskan bukti ilmiah dan relevan dengan konteks masyarakat Indonesia.

Dalam kiprah profesional, ia aktif menjalankan praktik sebagai Psikolog Klinis di RS Akademik UGM. Pengalamannya juga tidak terbatas pada bidang klinis, namun juga mencakup peran dalam bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Di bidang penelitian, ia terlibat dalam berbagai studi terkait depresi, biofeedback pada anak dan remaja dengan Autism Spectrum Disorder, serta pengembangan instrumen kesehatan mental. Integrasi antara praktik klinis, riset, dan pengalaman institusional membentuk dirinya sebagai profesional yang berkomitmen pada peningkatan kualitas layanan psikologi secara berkelanjutan.

Maria Gracia Amara Pawitra, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Maria Gracia Amara Pawitra, S.Psi., M.Psi., Psikolog, adalah seorang profesional di bidang psikologi klinis dan forensik dengan latar belakang pendidikan dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Fokus keilmuannya mencakup psikologi forensik, keadilan restoratif, pidana mati, serta reintegrasi mantan warga binaan pemasyarakatan ke dalam masyarakat.

Di ranah profesional, Gracia terlibat aktif sebagai psikolog klinis-forensik di sejumlah lembaga, seperti Asosiasi Psikologi Forensik, Polda Metro Jaya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, dan Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan Denpasar. Ia juga mengabdikan diri di bidang pendidikan sebagai dosen tidak tetap dan dosen tamu, serta menggagas Forensic Psychology Educational Platform Indonesia (@forenpsy.id) sebagai media edukasi psikologi forensik untuk publik. Perpaduan antara praktik klinis, kegiatan akademik, dan peran sebagai komunikator sains membentuk komitmennya untuk mengembangkan psikologi forensik yang berlandaskan riset, menjunjung etika profesi, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Muhammad Zaki Afif Zainurrahman, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Muhammad Zaki Afif Zainurrahman, S.Psi., M.Psi., Psikolog, merupakan seorang psikolog profesional lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi pada tahun 2021 dan melanjutkan pendidikan Magister Psikologi Profesi dengan peminatan Klinis hingga lulus pada tahun 2025. Minat akademik dan profesionalnya berfokus pada psikologi klinis, psikologi kesehatan, serta konseling psikologi yang mengintegrasikan nilai spiritual.

Psikolog UGM Beberkan 2 Tips Bahagia di Masa Tua

KOMPAS.com – Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Tidak ada siapapun yang bisa menolak pertambahan umur dan fisik yang terus menua. Setiap manusia akan melewati fase-fase di mana dirinya akan menjadi semakin tua. Karena setiap hari selalu ada pertumbuhan dan perkembangan, selalu ada sesuatu yang baru dan berbeda dalam kehidupan ini. Tidak akan pernah sama.

Kehidupan saat remaja tentunya berbeda dengan kehidupan saat dewasa. Kemudian, kehidupan dewasa juga akan berbeda dengan kehidupan masa tua. Perbedaannya terletak pada pemikiran, bagaimana kita memandang sesuatu, sampai cara kita menjalani kehidupan. Seiring bertambahnya usia, seiring berlalunya waktu, kita bisa berubah setiap saat. Karena itu, wajar bila manusia mengalami penuaan dan penurunan metabolisme tubuh yang menurun. Tetapi, manusia bisa memilih bersikap dewasa. Karena tidak semua orang dapat menjadi dewasa pada masa tuanya.

Bijaksana merupakan pengetahuan mendalam terhadap kehidupan serta kemampuan interpersonal yang berupa kematangan ego dan integritas. “Kognitif, afektif, dan reflektif merupakan faktor internal sedangkan lingkungan fisik dan sosial adalah faktor eksternal yang dapat memengaruhi kebijaksanaan,” tutur Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Aisah Indati dilansir dari laman ugm.ac.id. Menurut Aisah kebijaksanaan pada lansia selaras dengan adanya kondisi mental yang sehat. Kriteria sehat mental antara lain memiliki pengetahuan diri, penerimaan diri, harga diri, kepercayaan diri, mampu mengendalikan dan mengembangkan diri, dan memiliki kemauan untuk berhubungan dengan orang lain baik secara interpersonal maupun sosial.

Aisah juga menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek penting untuk mencapai kearifan di masa tua. Pertama, memiliki rasa kepuasan dalam hidup (life satisfaction). Artinya walaupun memiliki banyak kekurangan dalam diri, namun tetap merasa puas dan bersyukur. Kedua, memiliki keterbukaan dalam hidup (openness the experience) yaitu mau kemampuan untuk mau belajar dari orang lain. Dan yang terakhir memiliki kebermaknaan hidup atau berharga. “Openness juga termasuk mengomunikasikan rasa sakit yang dirasakan baik secara fisik maupun psikologis,” ujarnya. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dipendam sendiri justru dengan adanya keterbukaan dapat menjadi salah satu media untuk tercapainya kesehatan mental dan kebijaksanaan.

Selalu positif thinking terhadap suatu hal yang akan terjadi dan ketika suatu peristiwa tidak sesuai kehendak maka harus dihadapi dengan sabar, evaluasi, dan terima apa adanya karena manusia tidak ada yang sempurna. Dua hal tersebut merupakan kiat-kiat yang dilaksanakan oleh Aisah yang menjadikan dirinya pribadi yang periang dan aktif hingga masa tua ini. “Cara mencapai kebijaksanaan sebenarnya sangat sederhana untuk diucapkan, namun terkadang memang terasa sulit untuk dilakukan,” imbuhnya.

Penulis : Sandra Desi Caesaria
Editor : Ayunda Pininta Kasih
Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2021/04/28/080000571/psikolog-ugm-beberkan-2-tips-bahagia-di-masa-tua?page=all

Psikolog UGM: Orangtua Wajib Tahu 8 Karakteristik Generasi Digital

KOMPAS.com – Pola asuh orangtua zaman dulu dan sekarang tentu perlu mengalami perubahan. Namun faktanya, orangtua seringkali merasa kesulitan terlebih dalam melakukan pengasuhan digital terhadap anak. Salah satunya karena perbedaan generasi dan adaptasi media digital. Pada umumnya, orangtua termasuk dalam generasi imigran digital yaitu tumbuh sebelum lahirnya media digital. Sedangkan anak merupakan generasi digital atau bahkan native digital yaitu generasi yang lahir ketika media digital sudah ada. Hal ini dibahas dalam kuliah online Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (26/4/2021).

Karakteristik generasi digital

Ada beberapa contoh karakteristik dari generasi digital, yaitu:

  1. Aktif dalam mengemukakan identitas diri
  2. Memiliki wawasan yang luas
  3. Menyukai kebebasan
  4. Ingin memiliki kontrol
  5. Bergantung terhadap teknologi
  6. Menikmati lingkungan online
  7. Memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang baru
  8. Kemampuan multitasking

“Dengan mengetahui karakteristik masing-masing generasi digital khususnya digital native harapannya tenaga pendidik dan orangtua dapat memahami. Sehingga dapat menentukan cara yang sesuai untuk mengarahkan anak,” terang Psikolog CPMH Fakultas Psikologi, Wirdatul Anisa seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (27/4/2021).

Psikolog CPMH lainnya, Nurul Kusuma mengungkapkan, pengasuhan digital adalah bagaimana orangtua mendampingi anak. Sehingga bisa memaksimalkan manfaat dari lingkungan digital dan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. “Artinya, bukan selalu ada secara fisik disamping anak ketika anak sedang berinteraksi dengan media digital. Namun secara keseluruhan dari mulai edukasi awal mengenai media digital hingga evaluasi penggunaan media digital,” terang Nurul.

Tahapan pengasuhan media digital

Nurul mengungkapkan, ada beberapa tahapan dalam pengasuhan media digital, yaitu:

  • Media instruktif yaitu dengan memberikan pemahaman kepada anak terkait media digital.
  • Mediasi menonton bersama yaitu hadirnya orangtua ketika anak beraktivitas dengan media digital.
  • Media terbatas yaitu penerapan aturan bagi anak mengenai media digital.
  • Media teknis yaitu penggunaan alat bantu kontrol dan monitor aktivitas digital bagi anak.

Praktik pengasuhan digital read more

Psikolog UGM: Hati-hati Jadi Korban Ghosting Saat Pacaran

Psikolog UGM, Idei Khurnia Swasti menjelaskan, ghosting merupakan perilaku menghindar saat menjalin pacaran atau dalam tahap mencari gebetan. Perilaku ghosting banyak terjadi pada masa pendekatan, pacaran, hingga menjelang perkawinan.

Idei mengatakan ghosting memang jarang dibahas dalam perkawinan. Sebab, komitmen perkawinan telah lebih mengikat secara hukum dan juga personal. “Perilaku ghosting ini ditandai dengan sikap pelaku yang mulai menarik diri dari komunikasi,” ungkap dia melansir laman UGM, Rabu (24/3/2021). Dia mengaku, orang yang suka ghosting sulit ditemui. Selain itu, tidak membalas pesan, chat, atau telepon. Lalu, memiliki banyak alasan untuk menghindar jika diajak membicarakan hal yang serius. Lantas mengapa seseorang lebih memilih menghilang begitu saja dari kehidupan orang lain, dibanding merencanakan percakapan untuk mengakhiri suatu hubungan? Sebab, bilang dia, hal itu harus dilakukan banyak penelitian secara khusus pada fenomena ghosting. Dari hasil penelitian sebelumnya telah melihat berbagai jenis kepribadian keterikatan dan pilihan strategi perpisahan. “Bisa saja orang dengan tipe kepribadian menghindar, mereka yang ragu untuk membentuk hubungan atau sepenuhnya menghindari keterikatan dengan orang lain,” jelas dia.

Kondisi itu, kata dia, sering kali diawali karena pengalaman penolakan orangtua. Hal itu pada akhirnya membuat individu enggan untuk menjadi sangat dekat dengan orang lain karena masalah kepercayaan dan ketergantungan. Kemudian, mereka sering menggunakan metode tidak langsung untuk mengakhiri hubungan, yaitu ghosting ini. “Akan lebih mudah dengan cara “menghilang” dibanding “menghadapi langsung”, karena menghadapi secara langsung membutuhkan upaya ekstra dalam menjelaskan, yang bisa timbul konflik baru,” ucap dia. Pemicu ghosting Lanjut dia menyebutkan, perilaku ghosting juga bisa terjadi karena pelaku tidak tahu bagaimana cara mengkomunikasikan konflik dan mencari resolusi konflik. Kondisi ini biasanya sering disebut dengan malas ribut atau malas membahas. Mereka beranggapan masalah akan terselesaikan sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Kemungkinan lain, mereka juga merasa tidak nyaman menggantungkan permasalahan.

Namun demikian, menurut mereka akan lebih mudah bersikap seperti itu daripada harus menghadapinya saat ini. “Pemicu ghosting adalah adanya perasaan tidak nyaman dalam relasi atau saat ada ketidakcocokan yang tidak bisa dikomunikasikan secara terbuka,” tegas Dosen Fakultas Psikologi UGM. Idei menyampaikan, jika alasan seseorang melakukan ghosting tidak bisa digeneralisasikan. Oleh sebab itu, dia menyarankan untuk tidak memberi label pelaku ghosting. Karena, memang tidak benar-benar mengetahui riwayat kehidupan dan dinamika psikologis pelaku ghosting. Dia menambahkan, perilaku ghosting menimbulkan berbagai dampak seperti membuat korban merasa bingung, sakit hati, dan paranoid atau menyalahkan diri sendiri. Dengan begitu membuat perasaan seseorang tidak nyaman secara berkelanjutan. Pada akhirnya menggangu hidup sehari-hari, malas makan dan beraktivitas, tidak mampu berkonsentrasi, dan penurunan performa kerja.

“Jika kena korban ghosting, jangan merendahkan diri. Jadi berhentilah untuk mengejar orang,” pungkas dia.

Sumber  https://www.kompas.com/edu/read/2021/03/24/063300671/psikolog-ugm–hati-hati-jadi-korban-ghosting-saat-pacaran?page=all#page2.
Penulis : Dian Ihsan
Editor : Dian Ihsan

Alumni UGM Luncurkan Buku Mengenai Perkembangan Psikologi Indonesia

Sebanyak 50 orang alumnus Fakultas Psikologi angkatan 1983 menulis buku tentang pengalaman mereka menekuni pekerjaan yang berkaitan dengan bidang ilmu psikologi. Buku setebal 536 halaman ini menceritakan soal perkembangan ilmu psikologi berdasarkan perspektif dan pengalaman masing-masing.

Buku yang berjudul Jejak Delapan Tiga: Perjalanan Hidup Satu Angkatan Psikologi UGM ini memberikan perspektif unik karena yang menulis adalah mereka yang masuk kuliah di tahun 1983. Ketika itu di Indonesia hanya ada tiga universitas negeri yang memiliki Fakultas Psikologi yaitu Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran dan UGM. Di tahun tersebut Universitas Airlangga Surabaya juga membuka program studi Psikologi, namun masih sebagai bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sampai saat ini, ilmu psikologi di Indonesia sudah pesat dengan adanya 128 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Djamaludin Ancok, menyampaikan apresiasi ditulisnya buku soal psikologi dari perspektif pemikiran dan pengalaman para alumni. Bagi Ancok, ilmu psikologi merupakan bidang ilmu yang bersinggungan hampir di setiap bidang pekerjaan. Ia mencontohkan pengalamannya yang juga diminta mengajar program MBA baik di dalam dan luar negeri. “Saya itu diminta mengajar soal kepemimpinan, perubahan organisasi, psikologi konsumen hingga soal pelatihan di perusahaan,”kata Ancok dalam acara peluncuruan dan diskusi buku tersebut secara virtual, Jumat (4/12).

Menurutnya, para alumni dan pekerja yang bersinggungan dengan dunia psikologi tidak ada salahnya untuk belajar dengan bidang ilmu lain yang menurutnya sangat erat kaitannya dengan psikologi. “Sebab, perilaku manusia itu terkait dengan psikologi,”paparnya.

Sementara Guru Besar FKKMK, Prof. Yayi Suryo, yang juga salah satu angkatan 1983 yang menjadi salah satu penulis dalam buku tersebut mengungkapkan bidang pekerjaan yang ditekuninya sekarang lebih banyak ke bidang kedokteran, namun kegiatan promosi kesehatan dan perilaku hidup sehat seperti kampanye berhenti merokok menurutnya sangat erat dengan urusan konseling dan konsultasi. “Promosi kesehatan sangat bermanfaat untuk memahami perilaku masyarakat,”katanya.

Selain itu, kata Yayi, tenaga keperawatan sepengetahuan pengamatannya justru lebih banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bidang psikologi seperti melakukan relaksasi dan mindfulness. “Ini  tantangan bagi kita belajar ilmu lain dan terbuka dengan masukan bahwa ilmu psikologi berbarengan dengan industri dan kesehatan,” katanya.

Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/20462-alumni-ugm-luncurkan-buku-mengenai-perkembangan-psikologi-indonesia
Penulis : Gusti Grehenson