Perundungan atau bullying tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi otak. Paparan tekanan sosial secara berulang dan berkepanjangan dapat memicu stres kronis yang berpotensi mengganggu hipokampus, bagian otak yang berperan dalam pembentukan dan penyimpanan memori.
Kondisi tersebut mendorong tim Neuroleifera, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Gadjah Mada (UGM), meneliti potensi daun kelor (Moringa oleifera) sebagai agen neuroprotektif terhadap dampak stres sosial kronis.
Tim yang terdiri atas Nisrina Rahma Ardihapsari dan Hanin Izdihar dari Biologi, Maryam Izzati Muthmainnah dari Psikologi, Lakshinta Hasna Hapsari dari Farmasi, serta Syakira Fauzia Fatoni dari Kedokteran, mengembangkan penelitian dengan pendekatan lintas disiplin.
“Kami berharap penelitian ini dapat memberikan bukti ilmiah mengenai potensi daun kelor dalam melindungi otak dari dampak stres sosial kronis. Jika hasilnya positif, penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kajian lebih lanjut mengenai pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif untuk mendukung kesehatan otak,” ujar Maryam.
Penelitian menggunakan metode Chronic Social Defeat Stress (CSDS), yakni model eksperimental untuk menginduksi stres sosial kronis pada mencit melalui paparan interaksi sosial agresif secara berulang. Model ini digunakan untuk mengamati dampak stres sosial terhadap perilaku, khususnya memori spasial, serta kondisi sel saraf.
Selanjutnya, ekstrak daun kelor diberikan secara oral pada tiga tahap, yaitu sebelum, selama, dan setelah induksi stres. Pemberian pada tahapan berbeda tersebut dilakukan untuk menguji potensi daun kelor dalam mencegah maupun mengurangi dampak stres sosial kronis terhadap fungsi otak.
Daun kelor dipilih karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk flavonoid dan antioksidan yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Secara sederhana, saat otak mengalami stres kronis, tubuh menghasilkan radikal bebas dan proses inflamasi yang berlebihan, dua faktor utama yang mempercepat kerusakan sel-sel saraf. Antioksidan dalam kelor diduga bekerja dengan cara menetralkan radikal bebas tersebut, sekaligus meredam proses inflamasi, sehingga sel-sel otak, khususnya di area hipokampus, lebih terlindungi dari kerusakan akibat stres berkepanjangan.
Selain memiliki potensi neuroprotektif, kelor relatif mudah dibudidayakan dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Karakteristik tersebut menjadikannya bahan alam yang potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif pendukung kesehatan otak yang terjangkau dan mudah diakses.
Melalui penelitian ini, tim Neuroleifera berharap dapat memperoleh bukti ilmiah mengenai potensi daun kelor dalam menghadapi dampak stres sosial kronis serta membuka peluang bagi penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan bahan alam untuk mendukung kesehatan otak.
Reportase dan foto: Tim PKM Neuroleifera UGM
Editor: Sussanti & Erna