Yogyakarta, 4 Agustus 2026 – Tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan bahwa hipnosis klinis berpotensi menjadi intervensi pelengkap yang efektif untuk membantu penanganan berbagai penyakit kronis. Temuan tersebut diperoleh melalui studi scoping review terhadap uji klinis acak (randomized controlled trials atau RCT) dan telah dipublikasikan dalam International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis.
Penyakit kronis, seperti fibromyalgia, kanker, obesitas, dan penyakit jantung, merupakan tantangan kesehatan global yang memerlukan penanganan lintas sektor. Selain terapi medis, berbagai pendekatan psikologis kini semakin banyak dikembangkan sebagai intervensi pelengkap untuk membantu mengurangi beban fisik maupun psikologis yang dialami pasien.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog, Prof. E.L.J.M. van Luijtelaar (Gilles), Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog, dan Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D., Psikolog bertujuan memetakan bukti ilmiah mengenai penerapan hipnosis klinis dalam penanganan penyakit kronis sekaligus mengidentifikasi efektivitas berbagai bentuk pendekatan dan teknik hipnosis yang telah diuji melalui penelitian RCT.
Melalui metode scoping review yang mengikuti pedoman PRISMA-ScR dan kerangka kerja Arksey dan O’Malley, tim peneliti menelusuri berbagai publikasi ilmiah dari basis data PubMed dan Scopus. Dari proses tersebut, peneliti mengidentifikasi 16 randomized controlled trials yang memenuhi kriteria inklusi. Sebagian besar penelitian dilakukan di Eropa dan Amerika Serikat dengan jumlah partisipan berkisar antara 20 dan 169 orang.
Hasil telaah menunjukkan bahwa intervensi hipnosis yang digunakan cukup beragam, mulai dari relaksasi, positive imagery, self-hypnosis, teknik spesifik yang fokus pada sensasi tubuh hingga kombinasi dengan cognitive-behavioral therapy (CBT). Metode penyampaian intervensi dan durasi sesinya juga beragam, mulai dari individu, kelompok, sesi tunggal, hingga 14 sesi. Secara umum, berbagai penelitian melaporkan manfaat positif seperti penurunan rasa nyeri (pain reduction), peningkatan kualitas tidur dan regulasi emosi, pengurangan rasa tidak nyaman (distress) dan kelelahan, serta bantuan dalam memodifikasi perilaku. Meski demikian, para peneliti juga menemukan bahwa kualitas metodologi antarpenelitian masih cukup beragam sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih kuat untuk memastikan efektivitas hipnosis klinis pada berbagai jenis penyakit kronis.
Martaria Rizky Rinaldi, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan semakin besarnya perhatian dunia terhadap pemanfaatan hipnosis sebagai salah satu pendekatan penanganan yang melengkapi terapi medis.
“Hipnosis klinis tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi medis, tetapi dapat menjadi intervensi komplementer yang membantu pasien mengelola berbagai aspek psikologis maupun fisik selama menjalani pengobatan penyakit kronis. Bukti yang kami telaah menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan, khususnya dalam membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujarnya.
Sementara itu, Kwartarini Wahyu Yuniarti menambahkan bahwa masih diperlukan penelitian dengan kualitas metodologi yang lebih baik agar manfaat hipnosis klinis dapat dipahami secara lebih akurat dan komprehensif.
“Kami melihat adanya variasi metode, jenis intervensi, maupun karakteristik peserta pada berbagai penelitian yang telah dipublikasikan. Oleh karena itu, penelitian berikutnya perlu menggunakan desain yang lebih rigor agar efektivitas hipnosis klinis dapat dievaluasi secara lebih akurat dan dapat menjadi dasar pengembangan praktik berbasis bukti,” jelasnya.
Menurut tim peneliti, hasil kajian ini memberikan gambaran mengenai perkembangan penelitian hipnosis klinis di tingkat internasional sekaligus membuka peluang pengembangan riset dan layanan psikologi berbasis bukti di Indonesia, khususnya dalam mendukung penanganan penyakit kronis yang membutuhkan pendekatan multidisiplin.
Editor: Zufar
Penata: Fauzi