Yogyakarta, 16 Maret 2026 — Perubahan karakteristik tenaga kerja yang didominasi Generasi Z mendorong perlunya pemahaman baru mengenai motivasi kerja di lingkungan organisasi. Menjawab kebutuhan tersebut, peneliti dari Universitas Gadjah Mada mengembangkan dan memvalidasi instrumen psikologis untuk mengukur kebutuhan motivasional pekerja Generasi Z di Indonesia.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal internasional BMC Psychology melalui artikel berjudul “Psychometric Validation of the Existence, Relatedness, and Growth (ERG) Scale for Indonesian Generation Z Employees.” Penelitian yang dilakukan oleh Honey Wahyuni Sugiharto Elgeka, Rahmat Hidayat, dan Aluisius Hery Pratono ini bertujuan menguji validitas dan reliabilitas skala Existence, Relatedness, and Growth (ERG) dalam konteks pekerja Generasi Z di Indonesia. Teori ERG sendiri merupakan salah satu kerangka penting dalam psikologi organisasi untuk memahami kebutuhan dasar yang memengaruhi motivasi kerja individu. Studi ini melibatkan 751 pekerja Generasi Z Indonesia yang lahir antara tahun 1997 hingga 2008 dari berbagai sektor industri. Para responden direkrut melalui jaringan profesional, platform media sosial, dan relasi organisasi.
Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan berbagai pendekatan analisis psikometrik modern, termasuk Item Response Theory (IRT), Confirmatory Factor Analysis (CFA), analisis jaringan, dan model Rasch untuk menguji kualitas alat ukur tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur skala ERG sesuai dengan kerangka teori yang mencakup lima dimensi utama, yaitu kebutuhan keberadaan (existence), hubungan sosial dengan atasan dan rekan kerja (relatedness), serta kebutuhan perkembangan diri (growth). Analisis juga menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang sangat baik.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa skala ERG mampu mengidentifikasi tingkat kepuasan kebutuhan psikologis pekerja secara lebih presisi, terutama pada tingkat kepuasan rendah hingga sedang. Temuan ini penting karena dapat membantu organisasi memahami faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan (employee engagement) dan retensi karyawan muda.
Para peneliti menilai bahwa instrumen ini dapat menjadi alat yang berguna bagi organisasi, praktisi sumber daya manusia, maupun peneliti untuk merancang strategi pengelolaan karyawan yang lebih efektif, khususnya bagi generasi pekerja baru.
Dengan semakin besarnya proporsi Generasi Z di pasar tenaga kerja, pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan psikologis mereka diharapkan dapat membantu organisasi menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Artikel ini tersedia secara daring pada tautan: https://link.springer.com/article/10.1186/s40359-026-04044-0
Selamat kepada pak Dekan.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar