Kenapa Kita Takut Bilang “Tidak”?
Topik ini diangkat dalam episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi, yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta. Pada episode pertama OPSI di tahun ini, Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc., dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), membahas fenomena yang cukup umum terjadi di kalangan masyarakat Indonesia (3/3/2026).
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang kerap merasa kesulitan untuk menolak permintaan orang lain, bahkan ketika hal tersebut mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri. Kecenderungan ini dikenal sebagai people-pleasing, yaitu pola perilaku yang terus-menerus memprioritaskan kebutuhan orang lain demi mendapatkan persetujuan atau menjaga kenyamanan, sering kali dengan mengorbankan kebutuhan pribadi.
Lalu, bagaimana cara kita tahu kita termasuk people-pleaser?
Individu dengan kecenderungan ini biasanya merasa sulit untuk menolak permintaan orang lain, bahkan ketika mereka sudah merasa kewalahan. Mereka cenderung mengambil terlalu banyak tanggung jawab, menekan perasaan sendiri, serta terus-menerus memikirkan bagaimana orang lain akan bereaksi terhadap mereka.
Menurut Lusiana, perilaku ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari berbagai faktor psikologis dan sosial yang lebih dalam. Salah satu faktor utamanya adalah pola asuh, khususnya ketika kasih sayang atau pujian diberikan secara bersyarat, misalnya hanya saat anak berprestasi. Seiring waktu, hal ini dapat membuat individu mengaitkan harga diri dengan pengakuan dari orang lain.
Selain itu, faktor budaya juga turut berperan. Dalam budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa, nilai seperti ewuh pakewuh atau rasa sungkan untuk menolak orang lain dapat memperkuat kecenderungan untuk lebih mengutamakan keharmonisan sosial dibandingkan dengan batasan pribadi.
Meskipun terlihat sepele, perilaku people-pleasing dapat menimbulkan dampak yang serius. Kebiasaan menekan emosi dan mengambil terlalu banyak tanggung jawab dapat memicu burnout, baik secara fisik maupun emosional. Jika dibiarkan, kondisi ini bahkan dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental seperti kecemasan (anxiety) atau depresi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Langkah pertama adalah membangun kesadaran diri (self-awareness), yaitu memahami bahwa tidak mungkin menyenangkan semua orang. Selanjutnya, penting untuk mulai menetapkan batasan yang sehat dan menyadari bahwa individu tidak harus selalu tersedia untuk semua orang.
Lusiana juga menekankan pentingnya komunikasi asertif. Menolak tidak selalu berarti bersikap keras atau konfrontatif. Misalnya, alih-alih langsung menyetujui permintaan, seseorang dapat mengatakan, “Aku sekarang lagi sibuk nih, kalau kita diskusikan besok gimana?”. Dengan cara ini, kita tetap bisa bersikap sopan sekaligus menjaga batasan diri.
Perubahan cara pandang juga tidak kalah penting, Individu tidak bertanggung jawab atas bagaimana orang lain merespons batasan yang ditetapkan.
Terakhir, diskusi ini juga menekankan pentingnya waktu bagi diri sendiri (me-time). Meluangkan waktu untuk diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan kebutuhan. Seperti analogi masker oksigen di pesawat, penting untuk menjaga diri sendiri terlebih dahulu agar dapat membantu orang lain secara optimal.
Pada akhirnya, belajar mengatakan “tidak” bukan berarti menolak orang lain, melainkan bentuk menghargai diri sendiri.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Note:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira