Tim peneliti dari Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM menginisiasi sebuah studi kualitatif untuk memahami bagaimana remaja Indonesia memaknai kesehatan mental, tantangan yang mereka hadapi, serta faktor protektif dan risiko yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Temuan nasional menunjukkan 34,9% remaja terindikasi mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir dan hanya 2,6% yang pernah mengakses layanan. Berdasarkan data tersebut, riset ini berupaya menangkap perspektif langsung dari remaja agar intervensi yang dirancang benar-benar selaras dengan pengalaman mereka. Penelitian ini didanai oleh Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM 2025.
Riset ini berangkat dari keprihatinan atas dinamika “storm and stress” pada masa remaja yang diwarnai perubahan biologis, kognitif, dan sosial, seperti tekanan akademik, relasi dengan keluarga dan teman sebaya, hingga paparan media sosial, yang akhirnya dapat berdampak pada peningkatan risiko masalah emosional. Sejumlah studi global dan nasional menunjukkan bahwa setengah dari gangguan kesehatan mental bermula sebelum usia 14 tahun, namun sering kali tidak terdeteksi dan tidak tertangani secara memadai. Situasi ini bukan hanya berdampak pada fungsi psikologis saat ini, melainkan juga pada kualitas kesehatan dan produktivitas di masa dewasa. Di sisi lain, banyak remaja yang berhasil bertahan melewati dinamika ini berkat keberadaan faktor protektif seperti dukungan sosial yang berkualitas, resiliensi personal, keterampilan regulasi emosi, dan rasa memiliki di lingkungan sekolah. Memahami keseimbangan antara risiko dan pelindung dalam konteks Indonesia menjadi kunci bagi upaya pencegahan dan penanganan dini yang efektif.
Dengan pendekatan grounded theory, penelitian ini menempatkan suara remaja sebagai pusat pengembangan pemahaman. Tim peneliti akan merekrut sekitar 15–30 partisipan berusia 12–17 tahun yang berdomisili di Indonesia, dan melakukan wawancara mendalam semi-terstruktur secara daring. Proses pengumpulan data dan analisis berlangsung iteratif: dimulai dari open coding untuk mengidentifikasi konsep awal, dilanjutkan axial coding untuk merangkai keterkaitan kategori, dan selective coding guna merumuskan konsep inti yang merepresentasikan pengalaman kolektif remaja. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dan diarahkan oleh kebutuhan teori (theoretical sampling), hingga dicapai kejenuhan data. Validitas temuan diperkuat melalui member checking, memastikan interpretasi peneliti selaras dengan makna yang dimaksudkan partisipan.
Tujuan utama riset mencakup empat hal: memetakan definisi kesehatan mental dari sudut pandang remaja; mengidentifikasi tantangan utama dalam konteks sosial, akademik, dan keluarga; menggali strategi yang mereka gunakan untuk menjaga kesejahteraan psikologis sehari-hari; serta memetakan faktor protektif dan risiko yang mereka alami dalam keseharian. Kerangka ekologis digunakan untuk membaca temuan, menempatkan individu dalam jejaring pengaruh keluarga, sekolah, dan komunitas. Pada tingkat individu, resiliensi, harga diri, dan perilaku prososial kerap menjadi penyangga; sementara stres dan masalah emosional dapat memperlemah ketahanan. Dalam keluarga, kelekatan, pemantauan yang hangat, dan komunikasi yang sehat berasosiasi dengan gejala depresi yang lebih rendah, sedangkan konflik yang berlarut berisiko memicu kecemasan. Lingkungan sekolah yang inklusif, hubungan positif guru–siswa, serta rasa memiliki di sekolah dapat memperkuat kesejahteraan mental, sebaliknya perundungan dan persepsi lingkungan tidak aman menjadi pemicu masalah. Di ranah komunitas, jejaring sosial yang ramah dan toleran dapat melindungi, sementara konflik sosial, kekerasan, dan ketidakstabilan meningkatkan kerentanan.
Tim peneliti dipimpin oleh Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog (CLSD), dengan anggota Aliyaturrahmah Supriyadi, S.Psi., MHS., Wulan Nur Jatmika, S.Psi., M.Sc., dan Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., serta didukung asisten peneliti dari mahasiswa S2 dan alumni Retni Retnasari, S.Psi ; Siti Afifa Choirunissah, S.Psi ; Zararah Yusri Nasution, S.Psi ; Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A; dan I Marannu Andi Khalsiha, S.Psi. Dengan latar keilmuan psikologi perkembangan dan klinis, tim menggabungkan kepekaan pada dinamika usia remaja dengan orientasi intervensi yang berbasis bukti. Penelitian direncanakan berlangsung selama sepuluh bulan di lingkungan Fakultas Psikologi UGM.
Luaran yang ditargetkan meliputi publikasi pada jurnal nasional terakreditasi serta diseminasi hasil dalam bentuk pemberitaan berbasis prinsip SDGs. Harapannya, riset ini menghasilkan konstruksi teoritis yang lahir dari pengalaman autentik remaja Indonesia, yang dapat menjadi pijakan penyusunan kebijakan dan program intervensi yang lebih relevan, terukur, dan peka konteks. Dalam jangka panjang, temuan ini diharapkan memperkaya ekosistem dukungan bagi remaja, dari keluarga hingga sekolah dan komunitas, untuk membangun ketahanan psikologis, mengurangi dampak faktor risiko, dan meningkatkan akses serta penerimaan terhadap layanan kesehatan mental yang dibutuhkan. Dengan memusatkan suara remaja, penelitian ini berupaya menghadirkan peta yang lebih jernih tentang apa yang dimaknai sebagai “sehat secara mental” dan bagaimana Indonesia dapat lebih tepat sasaran dalam merawatnya.
Penulis: Raden Roro Anisa Anggi Dinda