Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pusat Psikologi Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyelenggarakan Sosialisasi Rekrutmen Perwira Prajurit Karier (Pa PK) TNI Gelombang II Tahun Anggaran 2026, Kamis (8/10). Kegiatan berlangsung secara bauran, luring di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM dan daring melalui Zoom.
Sosialisasi menghadirkan perwakilan Pusat Psikologi TNI serta Dinas Psikologi TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi ini ditujukan bagi alumni dan mahasiswa prodi tersebut. Sebanyak 48 peserta hadir langsung di Ruang A-203, di samping peserta yang bergabung melalui Zoom.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Psikologi UGM, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., mengatakan psikolog selama ini lebih sering dikenal berkiprah di sekolah, industri, dan layanan kesehatan, padahal bidang ketahanan negara juga menyediakan ruang kontribusi, mulai dari asesmen hingga penyusunan intervensi.
“Ternyata peran psikolog, khususnya di bidang ketahanan negara, itu juga memiliki ruang atau tempat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Fakultas Psikologi UGM dan TNI telah lama bekerja sama, antara lain dalam penyusunan instrumen psikologi dan pengembangan intervensi kesehatan mental secara. Ia berharap kerja sama tersebut terus berlanjut dan peserta dapat memanfaatkan sesi dialog untuk memperoleh informasi langsung dari para narasumber.
“Memanfaatkan informasi dan kesempatan pada hari ini untuk berdialog dengan para narasumber, bertanya, mengeksplorasi”, pesannya.
Perwakilan Pusat Psikologi TNI, Kolonel Laut (KH) Ari Yudha Kartika, M.Psi., Psikolog, dalam sambutannya mengharapkan semakin banyak lulusan Fakultas Psikologi UGM bergabung dengan komunitas psikologi TNI. Ia menyebut kerja sama dengan fakultas telah dimulai dari pengembangan alat ukur dan berbagi ilmu. Menurutnya, praktisi di lapangan perlu terus kembali ke dasar keilmuan.
“Setiap tindakan itu harus berpijak pada teori, agar kita tidak lupa daratan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa empati menjadi dasar profesi psikolog di bidang apa pun. “Kata dasar utama dari psikologi adalah empati,” ungkapnya.

Di TNI, psikolog menjalankan fungsi seleksi, yakni menilai kesiapan personel untuk pendidikan, penugasan di luar negeri, hingga penggunaan senjata. Namun, perannya tidak berhenti di situ. Psikolog TNI juga mendampingi korban bencana alam dan menyertai prajurit dalam operasi di daerah konflik yang.
Ia menjelaskan bahwa Pusat Psikologi TNI berada di bawah Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) dan dipimpin seorang perwira tinggi. Setiap matra juga memiliki dinas psikologi sendiri. Tahun ini, TNI membuka peluang bagi lulusan psikologi untuk mengikuti rekrutmen Pa PK.
Sesi pemaparan menghadirkan narasumber dari Dinas Psikologi tiga matra TNI, yaitu Myfevalovenita Eriskat Prudentya, S.Psi., dari Angkatan Darat, Ihsanul Hadi, S.Psi. , dari Angkatan Udara, dan Yudhistira Arya W., M.Psi., Psikolog dari Angkatan Laut.
Yudhistira dari Dinas Psikologi Angkatan Laut menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi dapat menjadi perwira melalui seleksi Pa PK dan akan menjalani pendidikan untuk menjadi perwira TNI Angkatan Laut.
“Saya tekankan sekali lagi bahwa teman-teman nantinya akan dilatih untuk menjadi seorang perwira,” ujarnya.
Peta kariernya, termasuk syarat kenaikan pangkat dan pendidikan lanjutan, sudah diatur. Ia menekankan bahwa bekerja di TNI bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga pengembangan karier. TNI membutuhkan beragam latar keilmuan, termasuk psikolog yang berperan di ranah sosial.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi UGM berharap kerja sama institusional dengan TNI terus berkembang dan mahasiswa maupun alumni dapat berkontribusi sebagai psikolog di lingkungan TNI.
Penulis: Erna Tri Nofiyana