Pengukuran konstruk psikologis yang memiliki dua arah hubungan dalam satu domain dapat menghadapi persoalan ketika dianalisis menggunakan confirmatory factor analysis (CFA). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa exploratory structural equation modeling (ESEM) dapat memberikan informasi yang lebih rinci mengenai keterpisahan dimensi pada tingkat butir.
Penelitian berjudul “Simple Structure Assumptions in Bidirectional Constructs: Demonstrating ESEM as a Diagnostic Framework for the Work and Family Conflict Scale” dilakukan oleh Novina Sabila Zahra, S.Psi., M.A., Hillman Wirawan, S.Psi., M.M., M.A., Ph.D., dan Dr. Muhammad Dwirifqi Kharisma Putra, S.Psi., M.Si.. Penelitian tersebut menyoroti tantangan psikometrik dalam mengukur konstruk dua arah, seperti konflik pekerjaan dan keluarga. Para peneliti menemukan bahwa instrumen yang mengukur konstruk dua arah berisiko mengalami kesalahan spesifikasi dalam pengujian Confirmatory Factor Analysis (CFA) karena adanya cross-loadings yang signifikan di antara item-itemnya.
Untuk mengevaluasi hal ini, tim peneliti mengumpulkan data survei dari 1.173 orang tua pekerja di Indonesia yang dibagi secara acak menjadi subsampel kalibrasi sebanyak 596 responden dan subsampel validasi sebanyak 577 responden. Dalam kajiannya, para peneliti menggunakan Work and Family Conflict Scale (WAFCS) sebagai kasus ilustrasi untuk membandingkan pendekatan CFA konvensional dengan Exploratory Structural Equation Modeling (ESEM).
Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun spesifikasi model pada metode CFA yang berhasil memenuhi kriteria standar kesesuaian model konvensional. Sebaliknya, pemodelan ESEM terbukti mampu meningkatkan kesesuaian model pada subsampel kalibrasi maupun subsampel validasi. Selain meningkatkan kesesuaian model secara global, ESEM juga berhasil mengungkap daya beda antar-item secara lebih mendetail, seperti ditemukannya cross-loadings yang substansial, pembedaan dimensi yang lemah, serta ketidakkonsistenan klasifikasi item ketika diuji silang antarsubsampel.
Melalui penelitian ini, tim peneliti menegaskan bahwa kesesuaian model global tidak dapat dijadikan patokan tunggal untuk memastikan keberfungsian setiap item pada konstruknya. Penggunaan ESEM yang dikombinasikan dengan teknik validasi-kalibrasi internal memberikan kerangka diagnostik yang jauh lebih informatif dalam mengevaluasi instrumen dua arah. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi para akademisi dan praktisi psikologi agar tidak hanya bergantung pada analisis CFA yang memiliki asumsi struktur sederhana dan kaku ketika memvalidasi alat ukur dengan dimensi yang saling memengaruhi.
Editor: Zufar
Penata: Fauzi