Perjalanan Isnan Hidayat menjadi potret konsistensi dan pengabdian dalam menapaki dunia psikologi. Alumni Program Studi Sarjana Psikologi Universitas Gadjah Mada angkatan 2009 ini menuntaskan pendidikan sarjananya pada 2013. Sejak masa awal perkuliahan, langkah akademiknya telah lekat dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan dunia pendidikan.
Ketertarikan Isnan pada psikologi bermula dari keinginannya untuk menolong banyak orang dengan jarak yang tidak terlalu jauh antara proses belajar dan praktik nyata. Latar belakangnya sebagai siswa IPA tidak menghalanginya memilih psikologi sebagai jalan hidup. Baginya, psikologi menawarkan ruang untuk langsung hadir di tengah masyarakat, tanpa harus menunggu terlalu lama untuk memberi manfaat.
Selama menempuh studi di Psikologi UGM, Isnan berada di bawah bimbingan almarhumah Prof. Dr. Amitya Kumara dan meneliti isu kesehatan mental remaja untuk skripsinya. Namun, kehidupan kampusnya tidak hanya dihabiskan di ruang kelas. Sejak semester awal, ia sudah aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pendampingan pelajar, komunitas, dan pengembangan masyarakat. Bahkan, ia kerap “menghilang” dari kampus karena lebih banyak terjun langsung ke lapangan.
“Belajar psikologi buat saya harus segera dibagikan. Saya ingin apa yang saya pelajari tidak berhenti di saya,” ujarnya mengenang masa kuliah.
Pengalaman menjadi relawan dalam respons bencana Merapi 2010 melalui rintisan awal Repsigama Relawan Psikologi Gadjah Mada (REPSIGAMA) menjadi salah satu titik penting dalam pembentukan perspektifnya. Dari sana, Isnan semakin yakin bahwa pengabdian masyarakat adalah ruang belajar yang nyata, tempat teori diuji, diperkaya, sekaligus dipertanyakan kembali. Ia juga aktif dalam Keluarga Muslim Psikologi (KMP) dan Islamic Psychology Learning Forum, terutama dalam kegiatan kajian dan pelatihan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika diminta mengisi materi psikologi perkembangan anak untuk suatu himpunan guru PAUD, padahal ia baru menempuh beberapa pertemuan kuliah. Dengan izin dosennya, ia menyampaikan materi apa adanya. Respons hangat dari para peserta membuatnya menyadari bahwa pengetahuan sederhana pun bisa berdampak besar ketika dibagikan dengan tepat.
“Di situ saya menemukan alasan kenapa saya harus terus belajar. Supaya apa yang saya pelajari bisa benar-benar berguna,” tuturnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Isnan mengaku banyak mendapat “bara api” dari para dosen yang mengajarnya. Mata kuliah Observasi dan Wawancara bersama almarhumah Prof. Amitya Kumara, Psikologi Sosial bersama Prof. Koentjoro, hingga Dasar-Dasar Psikometri bersama Prof. Saifuddin Azwar menjadi fondasi penting dalam cara berpikir dan bekerja. Kalimat Prof. Koentjoro, “Semoga nilai A dalam kuliahmu menjadi nilai A dalam kehidupanmu,” menjadi refleksi yang terus ia pegang hingga kini.
Pengalaman belajar bersama para guru besar menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Isnan mengaku sengaja memilih sejumlah mata kuliah yang dibimbing langsung oleh profesor, bukan semata karena ketertarikan pada mata kuliahnya, melainkan karena ingin menyerap pengalaman belajar langsung dari para pengajarnya. Ia sempat mengikuti hampir sepuluh kelas yang diampu profesor, sebagai ruang untuk mengamati, belajar, dan menangkap cara berpikir para akademisi senior. Baginya, berhadapan langsung dengan para guru besar yang telah menulis banyak buku, menghasilkan karya ilmiah, dan mengajar selama puluhan tahun merupakan kebahagiaan sederhana sekaligus pengalaman belajar yang tak tergantikan.
Selepas lulus, Isnan sempat menempuh Magister Psikologi Profesi UGM, namun memutuskan untuk berhenti karena merasa mengalami kebuntuan dalam berpikir dan berkarya. Keputusan tersebut menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Ia kemudian melanjutkan studi S2 Magister Sains Psikologi Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sekaligus memulai babak baru dalam karier dan kehidupan keluarga.
Dari proses refleksi tersebut, Isnan semakin mantap pada dua bidang yang ia cintai: psikologi dan pendidikan. Ia mendirikan petakehidupan.id, sebuah lembaga konsultan yang bergerak dalam pendampingan lembaga pendidikan. Di sisi lain, ia menyadari bahwa keberlanjutan finansial dalam dunia pendidikan tidak selalu mudah. Karena itu, ia memilih strategi mengembangkan kompetensi di bidang psikometri dan pengembangan alat ukur psikologi.
Kesempatan besar datang ketika ia bergabung dengan lembaga konsultan berbasis di Bandung sebagai pakar psikometri secara remote. Sejak saat itu, Isnan aktif mengembangkan alat ukur psikologi untuk berbagai kebutuhan, terutama di ranah asesmen pendidikan dan korporasi. Peran ganda tersebut memberinya ruang untuk menyeimbangkan idealisme di bidang pendidikan dengan keberlanjutan karier profesional.
Kini, Isnan dikenal sebagai konsultan pengembangan alat ukur psikologi dengan latar kerja yang fleksibel dan lintas disiplin. Dalam kesehariannya, ia terbiasa bekerja bersama profesional dari bidang non-psikologi, mulai dari teknik hingga teknologi informasi. Pengalaman menjadi “minoritas psikologi” justru memperkaya cara pandangnya dalam menjelaskan dan menerapkan psikologi secara kontekstual.
Bagi generasi muda psikologi, Isnan menekankan pentingnya keberanian keluar dari zona nyaman. Menurutnya, psikologi akan terasa semakin bermakna ketika dibawa ke ruang-ruang di mana belum banyak orang memahaminya. Ia juga menyoroti tiga keterampilan penting yang perlu dikembangkan: ketangguhan (resilience), kelincahan belajar (learning agility), dan kemampuan berpikir desain (design thinking).
“Psikologi itu bisa dibawa ke arah yang elitis, tapi juga bisa sangat membumi. Pilihannya ada di kita,” katanya.
Dalam perjalanan hidup dan kariernya, Isnan meyakini bahwa setiap orang memiliki “mutiara” dalam dirinya. Tantangannya adalah berani membuka cangkang, baik secara sukarela maupun melalui proses yang tidak selalu mudah. Baginya, kolaborasi, menjaga relasi dengan para guru, dan menemukan motivasi internal untuk terus belajar adalah kunci untuk bertumbuh dan memberi makna.
Reportase: Ghinaa Durratul Hikmah
Penulis: Fadia Hayu Godwina
Editor: Erna Tri Nofiyana
Foto: Dokumentasi Pribadi