Nevi Kurnia Arianti, S.Psi., M.Si., resmi meraih gelar Doktor dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada setelah berhasil melaksanakan Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Psikologi pada Selasa (13/1), bertempat di Ruang A203 Fakultas Psikologi UGM. Dalam ujian tersebut, ia berhasil lulus sebagai doktor ke-7092 UGM setelah mempertahankan disertasi berjudul mempertahankan disertasi berjudul “Profil dan Strategi Dukungan Psikososial Berbasis Komunitas pada Relawan Daerah Rawan Bermacam Tipe Bencana di Yogyakarta.”
Ujian terbuka disertasi dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, M.A., selaku Ketua Sidang. Disertasi yang dibimbing oleh Prof. Drs. Koentjoro, M.BSc., Ph.D., Psikolog, sebagai Promotor dan Prof. Dr. Muhammad Baiquni, M.A., sebagai Ko-Promotor, Nevi menyampaikan isu dukungan psikososial bagi relawan yang terlibat langsung dalam penanganan bencana di wilayah dengan tingkat risiko yang beragam di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam disertasinya, Nevi menyoroti bagaimana pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan peran relawan di tengah tekanan tugas dan situasi darurat.
“Dukungan psikososial berbasis komunitas menjadi penting karena relawan berada di garis depan penanganan bencana dan berhadapan langsung dengan tekanan psikologis yang berlapis,” ujar Nevi dalam ujian terbuka disertasinya.
Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan menggali pengalaman relawan di tiga wilayah rawan bencana, yaitu Purwosari (Kulon Progo), Girikerto (Sleman), dan Girikarto (Gunungkidul). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil dukungan psikososial di tiap wilayah bersifat kontekstual dan beragam, dipengaruhi oleh jenis ancaman bencana serta karakter budaya setempat.

Dalam paparannya, Nevi juga menekankan bahwa praktik dukungan psikososial yang berkembang di komunitas sering kali berangkat dari nilai-nilai lokal yang telah lama hidup di masyarakat.
“Dukungan psikososial berbasis komunitas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga berakar pada nilai sosial dan budaya seperti gotong royong, guyub, jagongan, doa bersama, hingga praktik adat yang hidup di masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nevi menjelaskan bahwa strategi dukungan psikososial tidak dapat diterapkan secara seragam. Perbedaan jenis bencana, karakter wilayah, serta latar belakang relawan menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar dukungan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Relawan bukan sekadar pelaksana di lapangan, tetapi juga produsen pengetahuan yang berperan menjaga keberlanjutan komunitas dan ketangguhan sosial dalam menghadapi bencana,” jelasnya.
Nevi berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan dan program pendampingan relawan bencana yang lebih kontekstual dan berbasis komunitas.
Penulis: Erna Tri Nofiyana