Arsip:

ukp

Fakultas Psikologi UGM Perkuat Layanan Kesehatan Fisik dan Mental melalui Posbindu Periode II

Sebanyak 116 sivitas Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Periode II bertajuk Wellness Day: Menjaga Tubuh dan Jiwa dalam Harmoni yang diselenggarakan pada Jumat (31/7) di Hall D Fakultas Psikologi UGM. Kegiatan ini menghadirkan layanan kesehatan fisik dan mental yang terintegrasi, mulai dari pemeriksaan kesehatan dasar, konsultasi medis, hingga layanan konsultasi psikologi.

Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Konseling bagi Karyawan

Jumat (24/09) Unit Konsultasi Psikologi UGM mengadakan UKP Bersinergi UKP Berbagi (UBUB) ke-13 yang mengusung topik “Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Konseling bagi Karyawan” secara daring. Topik yang diusung oleh UBUB #13 kali ini disampaikan oleh Diana Setiyowati, Psikolog dan Indrayanti, M.Si., Ph.D., Psikolog.

Tujuan diadakannya konseling bagi karyawan terdiri dari beberapa hal. Pertama, bertujuan untuk membantu mengurai permasalahan terkait pekerjaan. Kedua, membantu karyawan dalam menjaga keseimbangan hidup dan bekerja melalui fasilitas layanan profesional. Ketiga, bersama-bersama menemukan resolusi konflik dan menurunkan tingkat stress yang berdampak pada performa kerja.

Selanjutnya, Diana juga menyampaikan tentang hal-hal yang berpengaruh terhadap kesehatan mental karyawan, seperti target kerja, beban kerja yang melebihi kemampuan, target waktu penyelesaian kerja yang singkat dan mendadak, waktu kerja yang panjang, peran yang menantang, hubungan dengan karyawan lain, serta efisiensi kerja yang berdampak pada menumpuk atau tidaknya pekerjaan.

“Hal yang perlu diperhatikan adalah selama ini orang-orang menganggap bahwa counselling, coaching, consulting, dan mentoring adalah hal yang sama padahal berbeda, namun keempat hal tersebut memiliki kesamaan pada hal sama-sama membutuhkan kemampuan mendengarkan”, ungkap Diana.

“Selain itu, hal yang harus dipahami adalah adanya karyawan dengan tipe dan kebudayaan yang berbeda”, jelas Indrayanti. Sebuah konseling menjadi proses yang efektif menurut Indrayanti dapat terjadi ketika konselor dapat melengkapi dirinya dengan pengetahuan teoritis dan kemampuan praktis. Kemudian, ada pula hal lain yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan konseling karyawan, seperti apa yang membuat klien datang untuk konseling dan karakter apa yang membuat karyawan bertahan.

UBUB #13 ini dihadiri oleh 52 peserta yang terdiri dari psikolog dan mahasiswa profesi dari berbagai bidang peminatan yang tertarik untuk mendalami dan memperluas wawasan terkait layanan konseling karyawan. Acara yang dimulai pada pukul 13.00 dan berakhir pada pukul 15.00 ini dibagi menjadi tiga sesi, dengan sesi terakhir yang berisi tanya jawab peserta dipimpin oleh Ainurizan Ridho Rahmatulloh, M.Psi., Psikolog sebagai moderator.

 

 

 

 

 

Photo by Hunters Race on Unsplash

UKP: Berkenalan dengan Psychological First Aid

Sebagai sebuah usaha untuk terus meningkatkan pelayanan bagi pengguna layanan, Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM mempersembahkan acara “Pelatihan Peningkatan Keterampilan: Psychological First Aid”. Acara ini diadakan pada Jumat (3/9) dan diperuntukkan bagi Psikolog dan Asisten Psikolog UKP.

Hadir dalam acara ini Maria Ratih Maharani, M.Psi., Psikolog sebagai pembicara yang saat ini bekerja sebagai Psikolog di RS Panti Rapih Yogyakarta, UKP Psikologi UGM, dan Biro Psikologi Intuisi. “Biasanya, pelatihan Psychological First Aid (PFA) dilakukan minimal 7-8 jam per sesi, namun jika kita ingin melakukan pelatihan PFA hanya selama 1 jam, saya memohon izin untuk tidak melabeli sesi ini dengan sebutan pelatihan atau pembekalan”, jelas Maria. Oleh karena itu, menurut Maria acara kali ini lebih cocok jika disebut dengan pengantar atau perkenalan PFA.

Maria meyakini bahwa pada umumnya orang-orang sudah melakukan PFA, namun yang bersangkutan tidak menyadarinya karena PFA merupakan suatu hal yang sangat sederhana dan melekat pada sisi-sisi manusiawi seorang manusia. Dengan demikian, harapannya tiap orang dapat mempraktekkan PFA untuk lingkungan sekitarnya serta dibantu program pelatihan PFA yang memadai.

Acara ini diawali dengan pertanyaan yang diajukan oleh Maria kepada partisipan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika PFA. Beberapa diantara pernyataannya mengenai apakah seseorang akan mengalami trauma setelah peristiwa traumatis sampai pertanyaan tentang apakah PFA sama dengan trauma healing.

Menurut Maria, menolong hanya dengan niat saja terkadang tidak cukup. Dibutuhkan keterampilan menolong agar bantuan yang diberikan sesuai kebutuhan, tidak melebihi kemampuan diri, serta mampu mengaktivasi sumber daya dalam diri. Hal-hal tersebut yang pada akhirnya menjadikan PFA sebagai suatu hal yang perlu dipelajari.

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dari dilakukannya PFA, yaitu untuk menenangkan orang lain yang sedang stres, berempati, menumbuhkan perasaan aman, mendengarkan keluhan dengan sepenuh hati, menemani di saat sulit, mengusahakan pemenuhan kebutuhan dasar, normalisasi kecemasan, dan menyediakan informasi yang dibutuhkan.

Pada akhir sesi acara ini, peserta diajak untuk praktek langsung mengenai PFA dengan membagi peserta dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga peserta yang diberi tugas untuk bergantian berperan sebagai pengamat, orang yang membutuhkan PFA, dan orang yang memberikan PFA.

Adanya acara ini diakui oleh peserta sangat menyenangkan dan membantu mereka dalam memahami apa itu PFA dan bagaimana cara melakukannya. Peserta mengaku senang dan antusias serta berharap akan ada acara yang lebih menyenangkan di lain waktu yang juga membantu mereka dalam berperan baik sebagai asisten psikolog maupun psikolog.

 

Photo by Claudio Schwarz on Unsplash

UBUB #11: Hapus Galau Patah Hati dengan Mindfulness

Jumat (27/8) Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM mengadakan UKP Bersinergi UKP Berbagi (UBUB) yang ke-11. Pada kesempatan kali ini, topik yang diangkat adalah “Hapus Galau Patah Hati dengan Mindfulness”. Narasumber yang terlibat dalam topik tersebut adalah Vincent Eddy K. H., M.Psi., Psikolog sebagai salah satu psikolog rekanan di UKP.

Menurut Vincent, relasi romantis menjadi salah satu tujuan hidup yang dimiliki seseorang, selain pendidikan maupun karier. Salah satu penyebab terjadinya hubungan romantis yang dimiliki seseorang adalah intensitas pertemuan yang berawal dari kenalan kemudian menjalin pertemanan lalu meningkat menjadi intens mendalam. “Jika dikaitkan dengan peribahasa jawa, maka yang cocok dengan fenomena tersebut adalah Witing Tresna Jalaran Saka Kulina”, jelas Vincent.

Beberapa ciri dari hubungan romantic atau bisa disebut dengan passionate love, seperti adanya kebingungan mendefinisikan keadaan, perasaan mudah terkoneksi dengan sekitar, berusaha untuk berada dekat secara fisik, serta adanya keinginan untuk diperlakukan sama. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa tidak semua relasi romantis berhasil dengan memiliki perasaan yang sama antara satu orang dengan yang lainnya atau orang menyebutnya dengan “cinta bertepuk sebelah tangan”.

Vincent melanjutkan, beberapa penolakan dapat berupa sindiran, orang yang disukai mengalami perubahan sikap, dan hal-hal yang terjadi tidak sesuai harapan. “Saya membagi efek-efek yang dialami oleh seseorang yang mengalami penolakan menjadi dua kelompok, yaitu efek perasaan dan efek reaksi tubuh”. Efek perasaan meliputi, sedih, cemas, ketakutan, hopeless, menyesal dan bersalah. Sementara efek yang ditimbulkan oleh tubuh sebagai reaksi dari efek penolakan adalah enek, lemas, sakit kepala, demam, limbung, bahkan gangguan pencernaan. Menurut Vincent, efek yang ditimbulkan penolakan baik perasaan maupun tubuh sudah dikemas dengan satu kata yang apik oleh Alm. Didi Kempot, yaitu ambyar.

Oleh karena itu, pada acara UBUB ke-11 ini, Vincent berkesempatan untuk membantu peserta yang hadir dengan menggunakan salah satu cara untuk mengurangi ambyar dengan mindfulness. Mindfulness merupakan salah satu proses mengarahkan perhatian pada berbagai kondisi sekarang (saat itu) tanpa adanya penilaian.

Tidak hanya sekedar penyampaian materi, namun Vincent mengajak peserta UBUB turut serta mempraktekkan secara bersama-sama salah satu postur dalam mindfulness, yaitu posisi duduk. Kegiatan praktek mindfulness bersama secara langsung pada UBUB kali ini tentunya menjadi hal menarik dan unik. Partisipan yang berjumlah 40 orang lebih pun berterima kasih dan antusias atas diadakannya kegiatan praktek mindfulness bersama.

 

 

Photo by Lesly Juarez on Unsplash

UBUB #10, “Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Intake Interview”

Pada Jumat (13/8), Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan UKP Bersinergi UKP Berbagi (UBUB) ke-10 yang membahas tentang “Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Intake Interview”. Pembahasan tersebut disampaikan oleh Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si dan Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S. Selain itu, pembahasan ini dimoderatori oleh Lucia Peppy Novianti, M.Psi., Psikolog dan diikuti oleh 92 peserta secara daring melalui Zoom.

Pembahasan kali ini, diawali oleh Sutarimah yang menceritakan pengalamannya ketika berkuliah di Master of Psychology pada bidang Counseling of Psychology, “bayangkan, waktu itu bahasa Inggris saya belum selancar seperti sekarang dan waktu itu saya harus berhadapan dengan telpon yang masuk.. klien yang mau mendaftar dan harus melakukan intake interview. Pengalaman itu sangat berkesan bagi saya yang erat kaitannya dengan intake interview”.

Intake interview adalah interview pertama yang dilakukan oleh konselor atau terapis ketika klien datang. Intake interview ini dilakukan untuk mengetahui masalah apa yang membawa klien tersebut datang. Selain itu, intake interview juga dilakukan untuk mengetahui mengenai riwayat pribadi maupun keluarga. Intake interview dapat dilakukan oleh terapis, konselor, asisten, maupun frontliner secara tatap muka atau melalui telpon.

Intake interview menjadi suatu hal yang penting karena menjadi interaksi pertama kali dengan klien. Melalui intake interview, klien dapat termotivasi atau justru mengurungkan niatnya untuk melanjutkan tritmen psikologis lewat kesan klien terhadap konselor atau institusi penyedia jasa konseling. Berdasarkan penelitian, Sutarimah mengatakan bahwa keputusan klien untuk melanjutkan terapi atau tidak terjadi setelah sesi pertama terapi.

“Tentu mereka (klien) datang dengan berbagai macam perasaan. Oleh karena itu, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dan menjadi kewajiban interviewer”, jelas Maria. Salah satu hal yang menjadi kewajiban seorang interviewer adalah mampu menimbulkan kesan positif. Kesan positif yang dimaksud dengan cara menumbuhkan rasa aman dan nyaman, menumbuhkan pemahaman bahwa klien sudah melakukan keputusan yang benar dengan data ke jasa konseling, serta memberikan informasi tentang proses selama intake interview. Kemudian, interview juga harus dilakukan secara cermat, baik dari segi kemampuan maupun persiapan sarana dan prasarana.

Intake interview bukan sekedar wawancara biasa karena informasi yang didapatkan akan membawa klien pada psikolog tepat dengan terapi yang cocok. Oleh karena itu, para psikolog dan calon psikolog diharapkan memelajari dengan baik dan benar serta terus meningkatkan kemampuan berkaitan dengan interview.

 

 

 

Photo by Van Tay Media on Unsplash

Kenali Diri, Buka Potensi: Resep Anti Galau Memilih Jurusan Kuliah

Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM kembali menyelenggarakan UKP Bersinergi UKP Berbagi ke-9 (UBUB) pada hari Jumat (30/7). Acara UBUB kali ini mengangkat topik “Kenali Diri, Buka Potensi: Resep Anti Galau Memilih Jurusan Kuliah” yang terbuka bagi semua kalangan. Acara ini berlangsung pada pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB dan dihadiri secara daring oleh kurang lebih 50 peserta.

Hadir sebagai permbicara, Raras Pramudita, M.Psi., Psikolog merupakan psikolog rekanan di UKP UGM, sekaligus psikolog di Unit Disabilitas Dinas Pendidikan Yogyakarta. Raras membuka acara dengan terlebih dahulu menanyakan apa cita-cita yang dimiliki oleh para peserta yang hadir. Jawaban peserta beragam, ada yang menyebutkan bercita-cita ingin menjadi dokter, membuka café, bahkan menjadi seorang YouTuber. Menurut Raras, cita-cita perlu dimiliki oleh semua orang agar tetap memiliki tujuan meskipun sedang menghadapi kesulitan.

Salah satu kesulitan yang dihadapi dan cukup membuat galau adalah ketika seseorang dihadapkan oleh pemilihan jurusan kuliah. “Kuliah tidak hanya sekedar rutinitas, tetapi juga dapat menambah wawasan, keterampilan, melatih diri untuk menghadapi tekanan, bahkan menjadi pengalaman hidup bagi seseorang”, ungkap Raras. Ada beberapa hal yang perlu ditimbangkan ketika seseorang memilih jurusan kuliah, seperti karakteristik jurusan yang diminati, value, dan sudut pandang orang tua, mengenal serta mengetahui potensi diri.

Untuk mengenal serta mengetahui potensi diri, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah teknik SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Melalui teknik SWOT, seseorang tidak hanya mengetahui kekuatan dan kelemahannya saja, tetapi juga dapat mengetahui kesempatan dan ancaman yang dapat menjadi penghambat dalam melakukan pengembangan diri.

Hal lain yang perlu diperhatikan menurut Raras, yaitu passion. “Passion tidak sekedar minat, tetapi minat yang kuat terhadap sesuatu yang kita suka”, jelas Raras. Lebih detailnya, passion adalah ketertarikan yang kuat terhadap suatu kegiatan yang disukai dan dianggap penting sehingga individu bersedia menginvestasikan waktu serta energi untuk mencapai tujuan.

Melalui acara ini, Raras juga menyampaikan tentang tips dan trik untuk memilih jurusan yang terdiri dari hentikan, lanjutkan, dan mulai. Pertama, hentikan kebiasaan yang dapat menghambat ketika memilih jurusan. Kemudian, lanjutkan hal-hal yang mendukung untuk memilih jurusan. Terakhir, mulai susun rencana untuk memilih jurusan.

 

Photo by Sincerely Media on Unsplash

UKP Bersinergi UKP Berbagi “Siap Sekolah: Apakah ‘Bisa Baca Tulis’ Sudah Cukup?”

Jumat (16/7) Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada mengadakan acara webinar dengan tajuk “Siap Sekolah: Apakah ‘Bisa Baca Tulis’ Sudah Cukup?”. Acara ini merupakan bagian dari program UKP Bersinergi UKP Berbagi yang terbuka bagi semua kalangan

Acara ini berlangsung pada pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.20 WIB. Acara ini dihadiri 50 peserta yang datang dari kalangan akademis dan masyarakat umum.

Narasumber dari acara ini adalah Raninta Wulanwidanti, M.Psi., Psikolog, founder Kelas Bermain Pacu-pacu yang juga aktif sebagai psikolog rekanan di UKP UGM dan Klinik Jogja Medical Center. Dalam acara ini alumnus S1 Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Magister Profesi Psikologi Anak Universitas Indonesia ini membawakan materi tentang isu kesiapan anak dalam memasuki masa sekolah.

Keterampilan membaca dan keterampilan menulis seringkali menjadi perhatian bagi orang tua ketika anak memasuki sekolah. Ketika anak tidak bisa membaca dan menulis seperti teman-temannya, maka orang tua cenderung mengkhawatirkan keadaan itu. Padahal ketidakmampuan anak membaca dan menulis di usia awal masuk sekolah adalah hal wajar yang tidak perlu dikhawatirkan.

Raninta menjelaskan bahwa ketika ada anggapan bahwa anak berusia 3-4 tahun harus bisa menulis adalah mitos belaka. Secara fisiologis, Raninta menjelaskan, bahwa pada usia tersebut struktur tulang pada jari dan telapak tangan anak sangat berbeda dengan struktur tulang anak usia 7 tahun. Oleh sebab itu ketika anak di usia tersebut belum bisa menulis adalah wajar-wajar saja.

“Kalau memang dia belum siap untuk menulis, belum bisa untuk menulis, ya udah nggak apa-apa. Nggak usah kita paksakan. Maka kegiatan lain yang harus kita gantikan,” terang Raninta sambil menunjukkan kegiatan-kegiatan lainnya yang bisa diberikan kepada anak untuk menstimulus keterampilan motorik halusnya.

Kemampuan anak membaca dan menulis di usai dini juga tidak bisa menjadi prediktor prestasi anak di sekolahnya pada tahun-tahun kemudian. Raninta menjelaskan bahwa ada keragaman kemampuan pada anak yang tidak bisa di sama ratakan. memang ada anak yang mempunyai IQ di atas rata-rata yang bisa lebih cepat dalam mendapatkan keterampilan membaca dan menulis namun itu hanya sebagian kecil saja. Daripada memaksakan kemampuan membaca anak, Raninta lebih menekankan ke pemahaman anak terhadap kata-kata di sekitarnya.

“Yang perlu kita perhatikan dan sebagai oranng tua ataupun guru yang perlu kita kejar adalah pemahamannya anak, (jadi) bukan sekadar dia bisa baca pasti pinter nih. Ntar dulu, kita cek dia paham atau nggak. Itu yang perlu diobservasi oleh orang tua dan guru” tutur Raninta.

Terlepas dari kemampuan membaca dan menulis anak, Raninta lebih menekankan pentingnya contoh sikap dan perilaku dari orang tua untuk dapat memberi kesiapan anak dalam memasuki masa sekolah. Orang tua akan menjadi teladan bagi anak dalam bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan berperilaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

“Nah contoh-contoh teladan ini yang nantinya juga akan ditiru oleh anak ketika dia bersosialisasi di sekolah,” terang Raninta.

Selanjutnya Raninta menjelaskan bahwa kesiapan sekolah dinilai sebagai kesiapan anak untuk mengikuti pembelajaran materi spesifik sesuai dengan level perkembangan anak. Hal itu dapat diukur melalui matangnya aspek perkembangan anak yang secara langsung akan membantu anak dalam proses belajar dan penyesuaian dirinya di sekolah. Lebih lanjut Raninta menggunakan berbagai pendekatan untuk mengenalkan peserta pada aspek-aspek perkembangan anak dan aspek kesiapan anak saat sekolah

Pada sesi terakhir Raninta memberikan contoh-contoh kegiatan sensori yang dapat memberikan stimuli pada aktivasi keterampilan motorik dan perkembangan anak. Kegiatan-kegiatan itu sangat sederhana seperti mengenal tekstur, aroma, warna dan kegiatan yang bisa mengasah fokus anak seperti memindahkan karet gelang dan melempar bola. Selanjutnya untuk aktivitas yang melatih otot jari antara lain latihan menggunakan jepit jemuran, menggunakan pipet, dan free writing yaitu mengikuti pola titik-titik menggunakan alat tulis. Hal ini bisa melatih otot jari anak untuk persiapan belajar menulis.

UKP Bersinergi UKP Berbagi “Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Telekonseling Tertulis”

Jumat (25/6) Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM mengadakan rangkaian acara webinar UKP Bersinergi UKP Berbagi. Dalam kesempatan kali ini UKP mengambil tema acara dengan judul “Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Telekonseling Tertulis”.

Acara berlangsung dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Acara dihadiri oleh 50 peserta yang datang dari mahasiswa magister psikologi profesi dan psikolog.

Acara ini diisi oleh dua narasumber yaitu Idei Khurnia Swasti, M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi UGM dan Valeria Satwika Anindita, psikolog rekanan UKP UGM. Pada sesi pertama Idei membawakan presentasi dengan judul “Berkenalan Lebih Lanjut dengan Text-based Counseling”. Sedangkan pada sesi kedua Valeria membawakan presentasi dengan judul “Telekonseling Tertulis sebagai Psychological First Aid”. Kedua tema ini sangat sesuai dengan kondisi saat ini di mana pembatasan tatap muka masih berlangsung sebagai bagian dari protokol kesehatan untuk menekan persebaran pandemi Covid-19.

Kemunculan Text-based Counseling dalam ranah kesehatan mental tidak lepas dari konteks kultur digital. Seiring berkembangnya teknologi komputer, tercipta pula berbagai macam alat komunikasi baru. Munculnya teknologi mutakhir dan kebiasaan baru masyarakat dalam berkomunikasi mendorong perkembangan metode dalam kegiatan konseling psikologi.

“Selama dua dekade terakhir, itu akhir tahun ’90-an, sampai dengan sekarang itu teknologi luar biasa dikembangkan untuk mendukung Text-based Counseling,” ungkap Idei sambil menerangkan bahwa dua dekade itu merupakan masa yang panjang untuk pengembangan sebuah metode baru dalam konseling psikologi.

Konteks konseling menggunakan teknologi komunikasi sangat berbeda dengan tatap muka secara langsung harus dipahami dengan baik oleh konselor ataupun klien. Idei menekankan bahwa konselor perlu membekali diri dengan keterampilan-keterampilan ekstra untuk memaksimalkan pengguaan fitur-fitur aplikasi komunikasi online.

“…berbagai opsi media yang digunakan (untuk konseling) ya, apakah menggunakan chat room, email, kemudian menggunakan official account di media sosial. Nah itu menjadi perkembangan kekinian yang harus kita kejar,” terang Idei.

Idei menjelaskan bahwa ada dua macam metode Text-based Counseling. Yang pertama yaitu metode sinkronus yaitu komunikasi langsung misalnya dengan menggunakan telefon, video conference, video call dan chat. Selanjutnya yang kedua adalah metode asinkronus yaitu komunikasi secara tidak langsung misalnya menggunakan email, faks, forum diskusi, website, blog, dan media sosial.

Pada sesi kedua Aninditia menyampaikan materi lebih dikhususkan lagi pada salah satu metode yaitu telekonseling tertulis. Anin, begitu ia biasa disapa, menjelaskan  bahwa telekonseling tertulis ini sebenarnya sudah lama digunakan di dunia internasional, namun di Indonesia masih belum banyak dilakukan. Maka wajar masih banyak keraguan dan resisten dari banyak kalangan yang seharusnya bisa dikikis agar metode ini bisa berjalan maksimal.

“Saya mengajak bapak ibu melihat, mengukur ke dalam diri sendiri ada nggak resistensi itu? Karena kalau misalnya nggak suka gitu ya, saya rasa ini bukan media yang tepat akhirnya ketika nanti akan digunakan,” ujar Anin.

Kondisi Pandemi Covid-19 juga membuat telekonseling tertulis ini bisa menjadi salah satu metode konseling yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Pembatasan pertemuan langsung sesuai protokol kesehatan menjadikan metode konseling konvensional sulit dilakukan dan butuh metode alternatif untuk tetap dapat memberikan pelayanan kesehatan mental.

“Kalau ditanya, kenapa sih kita perlu melakukan telekonseling tertulis? Jawaban singkatnya mungkin ya karena kita perlu menyediakan layanan psikologi sesuai dengan kebutuhan klien. Sesuai dengan kondisi klien sendiri,” terang Anin.

Konseling tertulis ini mempunyai manfaat juga bagi klien yang mempunyai trauma, rasa malu, dan ketidak percayaan diri untuk tampi secara fisik dan menyampaikan secara verbal di depan konselor. Dalam kasus ini menurut Anin metode telekonseling tertulis sangat tepat digunakan sebagai sarana komunikasi antara klien dan konselor.

Menurut Anin, dalam melakukan konseling tertulis ini konselor perlu membekali diri dengan keterampilan menulis yang bagus agar pesan yang tersampaikan mudah dipahami dan juga kreativitas dalam menyampaikan ide atau pendapat melalui tulisan.

UKP Bersinergi UKP Berbagi: Seni Merangkul Emosi Anak

Unit Konsultasi Psikologi (UKP) pada hari Rabu (16/06) mengadakan acara UKP Bersinergi UKP berbagi ke-6 dengan topik “Seni Merangkul Emosi Anak”. Acara tersebut dilaksanakan secara daring dengan Ismu Chandra Kurniawati, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber. Acara diawali dengan narasumber yang menunjukkan platform interaktif kepada peserta untuk sharing mengenai bagaimana perasaannya hari ini melalui gambar-gambar yang menampilkan emosi-emosi tertentu. “Apapun perasaan yang Bapak atau Ibu alami saat ini adalah valid. Tidak ada yang benar maupun salah. Itu memang sesuatu yang Bapak/Ibu alami saat ini dan itu sebenarnya sesuatu yang penting untuk kita”, jelas Ismu.

Ketika seseorang mencoba mencari tahu apa yang dirasakan sebenarnya ia juga sedang berusaha terhubung dengan dirinya sendiri dan sedang mencoba untuk mengenali kondisi diri. Setelah seseorang tahu sedang merasakan emosi apa, maka pertanyaan yang muncul adalah apa yang harus kita lakukan dengan emosi tersebut. Untuk orang dewasa, pertanyaan tersebut cenderung mudah dijawab, tetapi bagaimana dengan anak-anak?

Faktanya, anak-anak sudah memiliki emosi sejak mereka lahir, tetapi anak-anak butuh orang dewasa untuk mengatur emosi tersebut. Sayangnya, tidak semua orang dewasa dapat membantu anak untuk mengatur emosi anak. Ada orang tua yang menyepelekan bahkan mengejek ketika anak sedang mengalami emosi marah. Ada juga orang tua yang menganggap emosi anak tidak penting bahkan menolak mendengarkan ketika sedang mogok atau menolak melakukan sesuatu. “Disitulah pentingnya memahami, merangkul, dan kemudian mengatur emosi anak”, terang Ismu.

Ada beberapa cara yang tepat dalam meregulasi emosi. Pertama, harus mengenal komponen emosi terlebih dahulu. Emosi terdiri dari tiga komponen, yaitu perilaku ekspresif, perubahan sensasi fisik, dan pengalaman subjektif. Setelah mengetahui ketiga komponen tersebut, maka langkah selanjutnya adalah mengelola. Dari komponen perilaku ekspresif dapat dilihat apakah perilaku yang ditampilkan ketika menampilkan emosi tertentu tergolong bahaya atau tidak. Kemudian, secara komponen perubahan fisik orang dewasa dapat membantu menjelaskan bahwa anak ketika marah tubuhnya gemetar atau ketika takut keluar keringat lebih banyak. Hal itu, dapat membantu anak untuk terhubung dengan kondisi fisiknya ketika sedang mengalami emosi tertentu. Terakhir, orang dewasa dapat membantu untuk merefleksikan pengalaman subjektif dalam emosi-emosi yang dirasakan. Namun, lakukan refleksi emosi ketika anak-anak sudah dalam kondisi tenang.

Tujuan dari merangkul emosi bukan dalam rangka menghilangkan emosi marah, sedih, takut, dan emosi lainnya yang tidak nyaman. Tujuan merangkul emosi juga bukan untuk membuat merasa senang setiap saat. Akan tetapi, tujuan dari merangkul emosi adalah untuk mengizinkan anak merasakan tiap emosi dalam situasi yang aman, mengelola pikiran, dan tubuh sehingga emosi menjadi teman terbaik yang mendukung terus bertumbuh. Selain itu, proses merangkul emosi tidak perlu dibandingkan dengan orang lain.

My Self, My Comfort Zone: Online Sharing Session oleh UKP

(17/07) New Normal atau tatanan hidup baru di era Pandemi COVID-19 menuntut setiap manusia untuk beradaptasi dengan situasi saat ini agar selalu produktif. Namun, aturan-aturan serta situasi ‘baru’ ini terkadang dapat menjadi sumber tekanan tersendiri bagi individu.

Mengacu pada fenomena ini, Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM mengadakan sesi sharing online dengan tema berdamai dengan diri sendiri di era new normal. Dengan judul, My Self, My Comfort Zone, diharapkan sesi ini dapat menjadi wadah berbagi untuk masyarakat luas. Topik yang dibahas yaitu reparenting, dimana hal ini dapat menjadi salah satu pendekatan dapat dilakukan masing-masing individu untuk mengelola emosi guna menghadapi situasi yang dihadapi, tidak terkecuali tuntutan untuk beradaptasi di tengah kondisi saat ini.

Azri Augustin Suciati, M.Psi., Psikologi ditunjuk untuk menjadi pemateri pada sesi kali ini. Azri merupakan alumni Magister Profesi Psikologi UGM dan juga merupakan Psikologi di UKP UGM sejak 2017.

Pada sesi materi, Azri menyampaikan bahwa reparenting merupakan upaya untuk mengasuh diri sendiri dengan memenuhi berbagai kebutuhan yang tidak didapatkan di masa kecil. Pada sesi materi, disampaikan juga mengenai persiapan dan tahapan dalam reparenting, serta peserta juga diajak untuk menuliskan pengalaman masing-masing sebagai bentuk latihan yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan self-parenting.

Selain sesi penyampaian materi, terdapat juga sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator, Acintya Ratna Pratiwi, S.Psi., M.A. yang merupakan Dosen di Fakultas Psikologi UGM.

Acara ini tebuka untuk umum dan peserta dapat mendaftar secara gratis, tanpa dipungut biaya.

Sesi sharing online berlangsung pada pukul 14.00 – 15.30 WIB dan dihadiri oleh 125 peserta dengan latar belakang usia serta pendidikan yang beragam, mulai dari usia remaja hingga 53 tahun.