Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengimplementasikan sistem pengelolaan limbah baru sebagai bagian dari penguatan kebijakan pemilahan sampah di lingkungan UGM. Program ini telah disosialisasikan sejak 2024 dan dievaluasi kembali pada Oktober 2025. Implementasi dilakukan melalui penggantian tempat sampah, penyediaan tas tiga sekat, dan pemasangan stiker jenis sampah di berbagai titik fakultas.
Upaya ini bertujuan mendorong kebiasaan memilah sampah sekaligus meningkatkan kebersihan dan kesehatan di lingkungan kampus. Sistem pemilahan juga disesuaikan dengan standar UGM menggunakan kategori warna agar lebih seragam dan mudah dikenali, yaitu hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah anorganik, serta merah untuk sampah residu. Hingga saat ini, sistem tersebut telah diterapkan di 15 titik di lingkungan fakultas, antara lain Pos K5L Pintu Selatan, Hall D (Timur, Tengah, dan Barat), Gedung F lantai satu termasuk area kantin sisi barat, serta Gedung B lantai satu.
Selain itu, Fakultas Psikologi UGM juga mengelola bank sampah untuk menampung sampah plastik dan kertas yang memiliki nilai ekonomis. Keberadaan bank sampah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan pengelolaan limbah di lingkungan fakultas.
Petugas kebersihan, Sumirah, menilai sistem ini membawa dampak positif, terutama dalam memisahkan jenis sampah.
“Sampah jadi tidak tercampur, antara sisa makanan dan wadahnya bisa dipisahkan. Kardus dan botol bekas juga bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya saat ditemui Selasa (7/4).
Ia menambahkan, proses pemilahan memang membutuhkan ketelitian lebih. Sementara itu, tas tiga sekat belum terlalu dimanfaatkan secara optimal karena dinilai kurang praktis dalam mendukung pekerjaan sehari-hari.

Sistem baru ini dinilai mampu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Namun, masih ditemukan pengguna yang belum konsisten dalam membuang sampah sesuai kategori, sehingga proses pemilahan belum berjalan optimal di beberapa titik.
Annisa Rizki Rahardianti, Tim Inisiasi Pembaruan Sistem Limbah menyampaikan bahwa penguatan pendampingan masih diperlukan. Ia menekankan pentingnya peran tim perlengkapan Fakultas Psikologi UGM untuk secara aktif mengingatkan petugas kebersihan dalam memilah sampah.
“Masih ada yang membuang sampah tidak sesuai jenisnya, sehingga perlu diingatkan secara berkala,” jelasnya pada Rabu (8/4).
Implementasi sistem di Gedung D juga menghadapi sejumlah kendala, seperti ukuran tas yang dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan serta tingginya mobilitas kerja petugas. Meski demikian, sistem yang berjalan saat ini dinilai lebih baik dibandingkan sistem sebelumnya dan masih dapat ditingkatkan seiring proses adaptasi.
Ke depan, Fakultas merencanakan penguatan sistem melalui pengadaan timbangan sampah digital dari universitas. Timbangan ini akan ditempatkan di depo khusus sebagai bagian dari upaya pemantauan volume sampah secara lebih terukur. Implementasi Waste Monitoring System (WMS) berbasis Internet of Things (IoT) akan diawali dengan survei penempatan timbangan di fakultas.
“Harapannya, sistem ini tidak hanya berjalan sebagai program, tetapi juga menjadi kebiasaan bersama dalam menjaga lingkungan kampus,” tambah Annisa.
Dukungan seluruh sivitas akademika serta apresiasi terhadap petugas kebersihan menjadi kunci agar sistem pengelolaan limbah dapat berjalan optimal.
Penulis: Erna Tri Nofiyana