Arsip:

job flourishing

Bukan Sekadar Produktif: Peneliti Fakultas Psikologi UGM Ungkap Cara Mengukur “Bahagia di Tempat Kerja” secara Ilmiah

Yogyakarta, 20 April 2026 — Di tengah meningkatnya tekanan kerja dan isu burnout, kebahagiaan para pekerja kini menjadi perhatian utama. Namun, lebih dari sekadar bahagia, para pekerja juga diharapkan menjaga produktivitas dan keberfungsian hidup yang optimal. Peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menghadirkan terobosan baru dengan melakukan evaluasi terhadap instrument psikologis untuk menilai kesejahteraan pekerja di Indonesia.

Memetakan Job Flourishing Pekerja Kampus: Tim Psikologi UGM Kaji Profil Kesehatan Mental dan Kaitannya dengan Kinerja

Tim peneliti Fakultas Psikologi UGM akan meneliti kondisi job flourishing, gambaran kesehatan mental positif di tempat kerja, pada dosen di Indonesia. Riset ini merespons meningkatnya perhatian global terhadap kesehatan mental pekerja. Data WHO menunjukkan tingginya beban depresi, kecemasan, dan stres harian yang berdampak pada produktivitas. Dalam konteks Indonesia, indikator gangguan mental pada populasi bekerja juga memerlukan pemetaan yang lebih presisi di level organisasi. Penelitian menitikberatkan pada bagaimana kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial di tempat kerja berhubungan dengan keterlibatan kerja, kinerja, burnout, kecemasan, dan depresi, sekaligus menawarkan potret berbasis bukti untuk perencanaan intervensi di lingkungan kampus.

Job Flourishing dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Kerja Karyawan

Unit Pengembangan Kualitas Manusia (UPKM) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar talkshow bertajuk “Promoting Employee Flourishing in the Workplace: Strategies for Organizational Well-being” dalam rangkaian acara Temu Mitra 2024, Rabu (7/02). Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Rizqi Nur’aini A’yuninnisa, S.Psi., M.Sc., menjadi pembicara pertama yang membahas pentingnya job flourishing untuk mengoptimalkan kinerja karyawan. 

Flourishing sering dikaitkan sebagai kesejahteraan yang sempurna, meliputi aspek psikologis, emosi, dan sosial. Rizqi menjelaskan, “Seseorang dapat dikatakan flourish jika secara emosi merasa senang dan dalam peran yang dijalankan dapat berfungsi secara optimal. Contoh keberfungsian yang baik adalah memiliki gairah yang besar untuk senantiasa belajar, bekerja, dan berkembang”.  

“Jadi, jika ada individu yang merasa senang namun tidak produktif atau sebaliknya produktif tetapi tidak merasakan kebahagiaan. Maka individu ini belum dikatakan sebagai individu yang flourish”, lanjut Rizqi. 

Rizqi memaparkan dua alasan utama mengapa flourishing sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, “Flourishing dapat menjadi faktor protektif seseorang terhadap berbagai macam persoalan psikologis. Selain itu, flourishing juga bisa meningkatkan produktivitas. Berbagai faktor eksternal yang tidak menguntungkan seperti salah satu contohnya stres kerja tidak akan terlalu memberikan efek negatif bagi seseorang yang memiliki tingkat flourishing tinggi”. 

Job flourishing read more