Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan kegiatan KKN Warming Up berupa pelatihan stimulasi sosio-emosional dan literasi anak usia dini pada Sabtu (16/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan mahasiswa menuju program KKN-PPM UGM. CLSD sendiri merupakan pusat riset dan pengabdian masyarakat di Fakultas Psikologi UGM yang berfokus pada kajian perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupan.
clsd
Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan BKB, diikuti oleh sambutan dari moderator juga merupakan perwakilan dari CLSD, yaitu Kevin Pasquella Helian, S.Psi. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pemateri oleh Navia Fathona Handayani, S.Psi., seorang pegiat literasi yang memiliki pengalaman luas dalam gerakan membaca nyaring. Materi yang disampaikan mencakup penjelasan tentang pentingnya membacakan nyaring, unsur-unsur buku yang perlu diperhatikan saat membaca nyaring, serta demonstrasi praktik membaca nyaring. Peserta menyimak dengan antusias untuk memahami berbagai aspek membaca nyaring yang diajarkan oleh pemateri.
Selanjutnya, acara melibatkan pembagian peserta pelatihan ke dalam empat kelompok kecil. Tujuan dari agenda ini adalah untuk mengaplikasikan materi yang telah diajarkan sebelumnya oleh pemateri. Dua orang fasilitator, Rahmita Laily Muhtadini, S.Psi., dan Riskhi Pratama Kusuma Arum Jati, S.Psi., bertugas memandu dinamika peserta di dalam kelompok kecil. Dalam proses ini, peserta diberi waktu untuk memilih buku dengan mempertimbangkan berbagai unsur seperti tema, alur, latar, dan tokoh cerita. Setiap peserta kemudian berlatih membaca nyaring di dalam kelompok kecil. Proses ini sangat penting untuk memastikan bahwa peserta memahami konsep membacakan nyaring tidak hanya di ranah pengetahuan, tetapi juga dalam ranah keterampilan.
Agenda berikutnya adalah sesi praktik membaca nyaring oleh perwakilan peserta dari masing-masing kelompok. Selain bertujuan untuk melihat kemampuan peserta setelah pelatihan, agenda ini juga dirancang untuk proses evaluasi bersama. Peserta memberikan apresiasi dan masukan terhadap sesama peserta selama proses membaca nyaring di depan kelas. Acara ditutup dengan pemberian sertifikat, doorprize, serta foto bersama.
Seluruh rangkaian acara dalam pelatihan membaca nyaring ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan dan kemampuan kader BKB serta orang tua. Acara ini juga diharapkan dapat membangun kemandirian bagi warga Kampung Suronatan dalam menyebarkan semangat literasi di rumah maupun masyarakat.
Sumber: CLSD UGM
Editor: Erna
Mendampingi Anak di Era Digital, Jumat (24/11). Moderator acara, Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A., menyapa seluruh peserta yang mayoritas berasal dari mahasiswa, orang tua, dan pendidik. Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., Psikolog memberikan sambutan di awal acara.
Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Read Aloud Indonesia menyelenggarakan Training for Trainers (ToT) Read Aloud: The Reading Buddies Program, Senin (21/8). Kegiatan ini dihadiri
Pada awal acara, hadir Rahmat Hidayat, S.Psi., MSc., Ph.D memberikan sambutan, “Webinar siang ini adalah webinar yang penting dengan topik yang juga penting dan relevan tentang remaja dan anti kekerasan”. Remaja dan anti kekerasan merupakan yang perlu untuk dikembangkan agar dapat menyelesaikan kasus-kasus kekerasan di kalangan remaja. “Kekerasan remaja tentu permasalahan yang mengkhawatirkan karena berdampak (dari kekerasan tersebut) panjang dalam pengertian tahap-tahap perkembangan seterusnya yang harus dilalui”, ujar Rahmat.
Pada sesi pertama, pemberian materi diawali oleh Sutarimah, “Diadakannya webinar kali ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan kami dengan kekerasan yang masih terus saja terjadi”. Kekerasan memang tidak terbatas pada remaja, namun kekerasan bisa diatasi sejak usia remaja.
Sementara itu, Arum melanjutkan penyampaian materi dengan lebih memfokuskan pada pembahasan perilaku klithih di Yogyakarta. “Utamanya, saya akan berbagi tentang fenomena yang sepertinya tidak habis-habis di Jogja”. Pada awalnya, klithih memiliki istilah netral bahkan cenderung positif yang bermakna “mencari-cari kegiatan”, namun saat ini dimaknai sebagai sesuatu yang negatif.
Pada sesi kedua, hadir Novi sebagai pemberi materi pertama, “Kekerasan itu sebetulnya bisa kita cegah di level sekolah”. Menurut Novi, kasus kekerasan tidak terbatas pada kasus kekerasan fisik, tetapi sebetulnya juga ada kekerasan pasif-agresif, seperti mengisolasi satu atau dua anak akibat dari terbentuknya kelompok-kelompok tertentu dalam lingkar pergaulan.
Selanjutnya, hadir sebagai pembicara kedua pada sesi kedua sekaligus menjadi pembicara terakhir di webinar kali ini adalah Sentot, “Kita tidak bisa mengklaim bahwa kasus kekerasan terjadi hanya karena satu penyebab. Kasus kekeran bersifat kompleks”. Haryanto menjelaskan bahwa kasus kekerasan dapat dicegah dengan beberapa tugas, seperti menyamakan persepsi semua unsur bahwa kekerasan adalah permasalahan genting, dan kompleks, melakukan pendekatan komprehensif dan sistematik disertai ketegasan, dan memberi wadah inovasi, kreatif, dan bersinergi.
Photo by Jonathan Ford on Unsplash
Acara ini dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB. Acara dihadiri oleh 70 peserta.
Pemateri pada sesi pertama yaitu Edilburga Wulan Saptandari, M.Psi., Ph.D., Psikolog, Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM. Dalam kesempatan ini Edilburga membawakan sebuah presentasi dengan judul Tantangan Metodologis dan Etis Penelitian dengan Anak. Hal-hal yang dibahas dalam presentasinya mulai dari alasan tentang mengapa peneliti memilih untuk tidak melibatkan anak hingga tips bagaimana melakukan penelitian dengan anak.
Sejarah panjang kode etik penelitian juga menjadi poin penting presentasi pada sesi pertama ini. Edilburga menceritakan tentang awal mula digunakan pada bidang medis. Penggunaan standar etik yang ketat yang mampu meminimalisir resiko partisipan penelitian ini akhirnya diadopsi pula oleh peneliti di bidang sosial humaniora.
“Ketika ada harm, ada bahaya, itu tidak hanya karena suatu yang masuk ke tubuh, tetapi ada aspek relasi kuasa antara peneliti dan partisipan. Nah di sini tentu kita nanti bisa atasi dengan metodologi dan ethical stepsnya ya” terang Edilburga seraya menjelaskan bagaimana peneliti harus mempunyai mindset yang baik saat penelitian dan tidak memandang rendah partisipan.
Sesi selanjutnya dalam acara ini diisi oleh Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D, Kepala Pengelola International Undergraduate Program (IUP) UGM dan Kepala Center for Life-span Development (CLSD) UGM. Elga membawakan presentasi dengan judul penelitian Melibatkan Anak yang Etis dan Inklusif. Pada presentasinya ini Elga mengajak peserta semiloka mengenali jenis-jenis disabilitas hingga adaptasi alat penelitian dan informed consent.
Dalam konteks riset, peneliti memiliki pendekatan disabilitas yang beragam. Elga menjelaskan setidaknya ada tiga pendekatan yang biasa digunakan yaitu Medical Model of Disability, Social Model of Disability, dan The International Classification of Disability, Functioning, and Health.
“Yang pertama dan ini mungkin yang paling banyak digunakan, terutama masih dalam konteks Indonesia, adalah medical model of disability. Jadi model ini menganut pemahaman bahwa ketidakmampuan atau hambatan itu bersumber dari individu,” terang Elga sembari menunjukkan riset-riset yang menggunakan pendekatan ini mengarah ke perbaikan pada aspek-aspek yang berkembang tidak sebagaimana mestinya.
Pada sesi terakhir presentasi diisi oleh Indra Yohanes Kiling, M.A., Ph.D., Asisten Profesor Psikologi, Fakultas Kesehatan Publik, Universitas Nusa Cendana, Kupang. Indra membawakan presentasi dengan judul Etika dan Kerentanan Anak di Perbatasan Indonesia. Selain memaparkan tentang kondisi demografis dan sosial budaya daerah perbatasan yang perlu diperhatikan peneliti pada saat melakukan penelitian, Indra juga menyoroti tentang belum kuatnya kesadaran peneliti psikologi yang melibatkan manusia untuk melakukan reviu etik penelitian.
Selanjutnya Indra juga menjelaskan pada peserta semiloka bahwa pada saat melakukan penelitian harus melihat relasi orang dewasa dan anak. Hal ini penting untuk mendapatkan perspektif dari anak secara lebih baik dan tidak terdistorsi dengan perspektif orang dewasa.
“Di perbatasan atau daerah berkembang lain, misalnya dengan relasi dengan anak, orang dewasa itu lebih kuat. (Hal itu) membuat perspektif (dari) anak ini terlupakan,” terang Indra.
Acara yang berlangsung selama hampir lima jam ini berjalan lancar dan interaktif. Pemateri secara aktif mengajak peserta semiloka untuk turut membagikan perspektif dan pengalamannya dalam melakukan penelitian dengan melibatkan partisipan anak.
Acara berlangsung pada pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.45 WIB. Acara dihadiri oleh 200 peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, guru, dan umum.
Acara ini dimoderatori oleh Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D, dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Kepala CLSD UGM. Selama hampir tiga jam Elga membersamai peserta, memandu acara, sekaligus sebagai penterjemah pada acara yang dilangsungkan secara bilingual menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Acara ini juga dilengkapi dengan penterjemah bahasa isyarat sehingga ramah bagi penyandang disabilitas.
Dalam acara ini pemateri mempresentasikan tentang upaya-upaya pemberian akomodasi bagi penyandang disabilitas dari berbagai perspektif. Aswin Widhiyanto, ST., M.A. , Staf Kementrian Pendidikan & Kebudayaan RI, sebagai pemateri pertama menyampaikan bahwa pemerintah telah memberikan beberapa upaya untuk memperkuat pelayanan kepada disabilitas di lingkungan pendidikan. Salah satunya adalah pada tahun 2020 sudah diadakan pelatihan kepada 5000 guru reguler untuk penguatan penyelenggaraan pendidikan khusus.
“Memang jumlah ini sekali lagi belum memadai dibandingkan dengan kebutuhan yang ada, tapi (ini) adalah proses. Dan tentunya dukungan dari pemerintah daerah juga diharapkan, dari masyarakat juga diharapkan ya dalam pemenuhan kebutuhan ini,” terang Aswin.
Selanjutnya Dr. Rozi Beni, Kasubdit II FKKPD Ditjen Otda Kemendagri, sebagai pemateri kedua dalam acara ini menjelaskan tentang peran Kemendagri sebagai fasilitator dan pembina pemerintah daerah dalam melaksanakan kebijakan dari pemerintah pusat yang dalam konteks ini adalah undang-undang tentang pelaksanaan penyediaan layanan dan fasilitas pendidikan terhadap penyandang disabilitas. Rozi menjelaskan secara detail bagaimana regulasi peraturan pemerintah daerah direalisasikan dalam bentuk eksekusi nyata. Rozi juga menyatakan bahwa masyarakat punya hak partisipatif untuk turut memberikan masukan dan pendapat dalam pelaksanaan perda.
“Masyarakat dia punya hak dan dilindungi oleh undang-undang baik dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan memberi pengawasan,” terang Rozi.
Pada sesi ketiga materi diisi oleh Robert Na Endi Jaweng dari Komisioner Ombudsman RI. Pada presentasinya Jaweng banyak menjelaskan tentang pengawasan pelayanan publik bagi peserta didik penyandang disabiilitas. Jaweng menjelaskan bagaimana hubungan antara warga yang memberikan mandat politik dalam pemilu dan mandat ekonomi dalam pembayaraan pajak kepada negara sehingga warga mempunyai hak menagih tanggung jawab terhadap negara yaitu melalui pelayanan publik di mana layanan terhadap penyandang disabilitas juga termasuk di dalamnya.
“Sesungguhnya tugas Ombudsman adalah mengawasi sejauh mana negara akuntabel terhadap mandat yang sudah diberikan oleh warga termasuk oleh para penyandang disabilitas,” terang Jaweng sembari menekankan bahwa pendekatan individual yang sudah lama dipakai dalam kebijakan pelayanan pendidikan kepada penyandang disabilitas segera diganti dengan pendekatan sosial yang mempunyai cakupan lebih luas.
Selanjutnya pemateri kelima diisi oleh Prof. David Evans dari The University of Sydney. Pada pemaparannya ini Evans menyampaikan tentang bagaimana sistem kebijakan pemerintah Sydney dalam merancang undang-undang anti diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dan bagaimana aplikasi nyata undang-undang tersebut dalam lingkup pendidikan.
Evans memberikan contoh tentang penerapan undang-undang anti diskriminasi di Australia. Dalam pendidikan calon guru di New South Wales diwajibkan mengambil mata kuliah tentang disabilitas sehingga ketika menjadi guru, sudah mempunyai bekal dalam menangani pelajar penyandang disabilitas. Selanjutnya semua sekolah di New South Wales adalah sekolah inklusif yang sangat terbuka bagi penyandang disabilitas untuk mendaftarkan diri sebagai siswa.
Pembicara terakhir adalah Drs. Sugeng Mulyo Subono, Ketua PGRI Kota Yogyakarta. Pada presentasinya Sugeng mempunyai harapan agar dinas pendidikan memberikan solusi dan aktif membantu ketika guru di sekolah mendapatkan kesulitan dalam memberikan fasilitas pelayanan yang ideal terhadap penyandang disabilitas.
Acara workshop ini menghadirkan pembicara Dr. Vina Adriany sebagai Head Center for Gender and Childhood Studies Universitas Pendidikan Indonesia dan Editorial Board International Journal of Early Years Education. Pada sesi pertama, Vina menyampaikan materi terkait konsep dasar publikasi terdiri dari hal-hal umum dan jurnal mana saja yang tepat serta baik untuk dikirimkan naskah publikasi. “Saya mungkin harus disclaimer sebentar bahwa apa yang saya sampaikan pada pertemuan ini berangkat dari penglaman saya ketika menjadi editor di berbagai jurnal dan juga pengalaman saya sebagai reviewer”, ungkap Vina.
Melalui materi yang disampaikan, Vina mengajak para peserta untuk tidak menulis sekedar mengejar indexing saja, tetapi juga harus memahami hal-hal fundamental terkait naskah publikasi. “Kalau boleh saya mengungkapkan, agar sama-sama bisa meluruskan niat terkait melakukan publikasi”, ungkap Vina. Hal tersebut disampaikan berkaitan dengan beban yang dimiliki peneliti maupun akademisi di seluruh dunia tentang melakukan publikasi.
Vina juga menjelaskan mengapa publikasi jurnal adalah hal yang prestige karena proses publikasi jurnal melibatkan blind peer review. Proses tersebut adalah proses review artikel yang dilakukan oleh beberapa pakar lain dalam bidang yang sama dengan naskah yang ditulis sekitar 2-3 orang sebelum naskah tersebut terbit. “Kurang lebih proses blind peer review adalah peneliti melakukan penelitian kemudian hasilnya ditulis lalu mengirimkan kepada editornya. Jadi, peneliti tidak berhubungan langsung dengan reviewer”, jelas Vina. Oleh karena itu, tugas editor pada blind peer review hanya pada penolakan naskah atau apakah naskah tersebut layak diteruskan pada reviewer, bukan pada keputusan naskah ditolak atau tidak.
Menulis khususnya menulis hasil penelitian adalah salah satu keniscayaan bagi akademisi dan peneliti. Melalui karya tulis legacy sebagai akademisi dan peneliti dapat diturunkan dan menjadi keabadain. Seperti kutipan Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi menulis adalah jalan menuju keabadian.
Photo by Jan Kahánek on Unsplash
Acara pembukaan dimulai pada hari Selasa (16/11) pukul 10.00 dan berakhir pada hari Jumat (19/11) pukul 16.00. Acara ini diikuti oleh 55 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan umum.
Hari pertama pelatihan dibuka oleh pemaparan materi tentang Sejarah Perkembangan Penelitian Naratif oleh Edilburga Wulan Saptandari, M.Psi., Ph.D., Psikolog. Dosen Fakultas Psikologi UGM ini mengajak peserta untuk memahami ihwal kemunculan penelitian naratif di dunia riset kualitatif.
Pada sesi kedua Edilburga melanjutkannya dengan memaparkan tentang teori dan desain penelitian naratif. Pada sesi ini peserta pelatihan diajak memahami bagaimana penelitian naratif itu disusun secara teoritis dan terkonsep. Pada satu jam terakhir peserta pelatihan juga diajak berlatih mempraktikkan langkah-langkah dalam menyusun desain penelitian naratif.
Selanjutnya pada hari kedua pelatihan peserta diajak untuk memahami metode pengumpulan data naratif yang disampaikan oleh Made Diah Lestari, Ph.D (Cand). Dosen Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Udayana yang kini sedang menyelesaikan studi program doktor di Massey University ini menjelaskan kepada partisipan tentang bagaimana data penelitian naratif itu didapat dan dikumpulkan.
Pada sesi kedua Made memaparkan tentang bagaimana praktik pengumpulan data naratif dari penelitian yang pernah dilaksanakannya. Dari pengalaman-pengalamannya yang ditemui di lapangan Made mengajak partisipan untuk memahami apa saja kendala dan tantangan yang akan dihadapi pada saat mengambil data di lapangan. Made juga memberikan beberapa solusi alternatif yang bisa diambil jika partisipan menghadapi permasalahan serupa sehingga penelitian naratif bisa tetap berjalan.
Hari ketiga pelatihan diisi oleh materi tentang ragam pendekatan naratif yang disampaikan oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra M.A., M.Phil. Dalam presentasinya Heddy menjelaskan berbagai macam ragam tradisi naratif yang sudah tertanam dalam budaya daerah di Indonesia. Kekayaan ragam naratif ini terus berkembang dari media tradisional misalkan wayang hingga pada media yang lebih modern misalkan film.
Pada sesi kedua Heddy memandu peserta pelatihan untuk memahami sekaligus mempraktikkan analisis naratif. Di sesi ini peserta diberikan kesempatan untuk memahami bagaimana menggunakan analisis naratif dari berbagai macam pendekatan untuk menggali data dan menjawab pertanyaan penelitian.
Pada hari keempat acara pelatihan ditutup oleh penyajian hasil penelitian yang disampaikan oleh Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. Pada sesi ini Elga menjelaskan bagaimana cara menyajikan hasil analisis naratif dalam satu tulisan laporan penelitian yang bagus, menarik sekaligus mudah dipahami pembaca.
Pada sesi kedua di hari keempat ini Elga memberi kesempatan kepada beberapa peserta untuk mempresentasikan rancangan penelitian naratif yang sudah mereka susun. Kesempatan ini diambil oleh lima peserta yaitu tiga dari mahasiswa Doktor Ilmu Psikologi UGM dan dua dari peserta umum.
Pemateri acara ini adalah Prof. Iva Strnadova, Profesor Pendidikan Khusus dan Studi Disabilitas di University New South Wales, Australia. Ia juga menjadi vice president di NSW Chapter of the Australian Association for Special Education (AASE). Dimoderatori langsung oleh Kepala CLSD, Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Iva menjelaskan tentang dinamika yang dialami anak penyandang disabilitas dari masa transisi kelas daring menuju luring ataupun dalam menuju sekolah pada tingkatan berikutnya.
Pada sesi pertama Iva mengajak peserta webinar mengidentifikasi permasalahan apa saja yang dihadapi anak dan penyandang disabilitas. Dari hal tersebut Iva mengajak peserta untuk memahami bahwa perlu kerjasama yang baik dari berbagai pihak dalam usaha menyediakan semua kebutuhan penyandang disabilitas dalam menghadapi masa transisi. Iva menjelaskan bahwa segala usaha yang dilakukan untuk menfasilitasi siswa penyandang disabilitas harus dengan cara mendesain dan memproduksi bersama dengan mereka.
“Bagaimana membuat transisi mereka berhasil, mereka sangat membutuhkan proses dan transformasi ini. Ini bukan hanya tentang membaca literatur penelitian, bukan itu tidak berharga, tetapi sebenarnya bertanya kepada siswa penyandang disabilitas yang sebenarnya. Saya pikir kita terkadang lupa tentang ini,” terang Iva.
Selanjutnya Iva menerangkan empat poin penting dalam pembahasannya yaitu definisi transisi sekolah dan bagaimana itu dilihat selama rentang hidup. Yang kedua adalah bagaimana hasil riset transisi sekolah yang dialami penyandang disabilitas di masa pandemi. Poin ketiga adalah apa yang dibutuhkan siswa transisi sekolah saat bergerak dari pembelajaran daring menuju pembelajaran luring. Sedangkan yang terakhir adalah dukungan seperti apa yang diperlukan untuk semua siswa dari belajar secara daring menuju luring.
Dalam membahas tentang dinamika transisi, Iva menjelaskannya dengan beberapa model transisi yang diteorikan oleh para ahli. Iva mengawalinya dari OSERS 1984 transition model (Will’s Bridges) hingga Paula Kohler’s Model (Taxonomy of Transition Services, 2016).
Iva mengajak peserta mengenal model taksonomi Paula Kohler karena ini adalah satu dari dua model transisi yang didasarkan pada bukti ilmiah. Di dalamnya ada lima area kunci yang harus dilalui untuk bisa sukses dalam melakukan transisi.
“Setiap perencanaan transisi harus benar-benar berpusat pada siswa dan yang terpenting siswa benar-benar harus berpartisipasi aktif dalam perencanaan transisi ini,” terang Iva.
Untuk memperlancar fase transisi, determinasi diri juga penting. Pada penjelasannya Iva menjelaskan ada tiga elemen yang harus ada untuk dapat saling bersinergi mempermudah fase transisi pada anak. Tiga elemen itu adalah self-determination attitudes & beliefs, self-determination knowledge, dan self-determination skills.
Acara berlangsung dengan baik dari awal hingga akhir acara. Pemateri sangat interaktif dan selalu mengajak peserta webinar untuk turut berkontribusi dengan mengajak mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi anak pada masa transisi. Pemateri juga memberikan kesempatan peserta untuk bertanya secara langsung ataupun tertulis.