Arsip:

2026

Sungkan, People Pleaser, dan Dekolonialisasi dalam Publikasi

Yogyakarta, 7 Mei 2026 – Di tengah euforia publikasi ilmiah dan obsesi terhadap indeksasi global, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: apakah kita benar-benar sedang memproduksi pengetahuan, atau sekadar memenuhi standar administratif akademik?

Penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada tentang perilaku people-pleaser dalam perspektif sungkan Jawa membuka pintu refleksi yang lebih luas. Artikel berjudul “People Pleaser Behavior within the Perspective of Sungkan: A Psycho-Anthropological Interpretation” menunjukkan bahwa kecenderungan untuk menyenangkan orang lain bukan sekadar sifat individu, tetapi hasil konstruksi budaya yang dalam, berakar pada nilai hormat, harmoni, dan relasi sosial.

Bukan Generasi Rapuh: OPSI UGM Jelaskan Cara Komunikasi Remaja Gen Alpha

Pernahkah kita bertanya kepada remaja, “Bagaimana harimu?” lalu hanya mendapat jawaban singkat? Atau mencoba berbicara dari hati ke hati, tetapi perhatian mereka justru tertuju pada layar? Fenomena ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah ada yang perlu kita pahami kembali tentang cara berkomunikasi dengan remaja saat ini?

UGM Teliti Peran Faktor Psikologis dalam Penguatan Kinerja Sektor Publik, Dukung SDG 16

Yogyakarta, 5 Mei 2026 – Peneliti dari Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan kontribusinya dalam penguatan tata kelola pemerintahan melalui publikasi ilmiah terbaru. Studi yang terbit di Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP) ini mengkaji mekanisme psikologis yang mendasari perilaku karyawan sektor publik sekaligus mendukung agenda global Sustainable Development Goal 16 tentang kelembagaan yang kuat, transparan, dan akuntabel.

Peneliti Fakultas Psikologi UGM Ungkap Hubungan Kompleks antara Moralitas dan Jumlah Anak di 51 Negara

Yogyakarta, 4 Mei 2026 — Masih banyaknya kasus korupsi dan krisis integritas di tengah-tengah masyarakat mengindikasikan bahwa terdapat permasalahan serius terkait sikap individu terhadap cara memperoleh kekayaan atau sumber daya bagi keluarganya. Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dalam jurnal Personality and Individual Differences mengungkap fakta menarik terkait permasalahan ini.

Prof. Ajeng Juwita Puspitasari, Ph.D., LP, ABPP

Prof. Ajeng Juwita Puspitasari, Ph.D., LP, ABPP adalah psikolog klinis berlisensi dan tersertifikasi dewan profesi melalui American Board of Professional Psychology (ABPP) dengan spesialisasi dalam terapi perilaku dan kognitif. Saat ini ia menjabat sebagai Clinical Professor serta Director of Clinical Training di Department of Psychology, University of Wisconsin-Milwaukee. Selain itu, ia juga merupakan pendiri dan direktur Center for Evidence-Based Practice. Prof. Puspitasari memiliki keahlian dalam psikoterapi berbasis bukti (evidence-based psychotherapy), khususnya untuk depresi, gangguan kecemasan, perilaku bunuh diri dan menyakiti diri, trauma, serta gangguan suasana hati dan kecemasan perinatal. Pendekatan klinis yang ditekuni meliputi Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Acceptance and Commitment Therapy (ACT), Behavioral Activation (BA), Exposure Therapy, dan Dialectical Behavior Therapy (DBT). Ia dikenal mengedepankan layanan yang sensitif budaya, berorientasi pemulihan, dan berbasis riset. Selain praktik klinis dan kepemimpinan akademik, beliau aktif menulis artikel ilmiah, memberikan pelatihan profesional, supervisi klinis, serta konsultasi internasional. Kontribusinya banyak berfokus pada menjembatani kesenjangan antara penelitian dan praktik layanan kesehatan mental agar intervensi efektif dapat diakses lebih luas.

Dr. Anke Karl

Dr. Anke Karl adalah pimpinan strategis Clinical Psychology Research Group and the Mood Disorders Centre, serta menjabat sebagai Direktur Laboratorium Biobehavioral MDC. Penelitiannya mengkaji bagaimana proses biologis dan perilaku membentuk gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan pemulihan dari trauma psikologis. Ia juga berupaya menerapkan pengetahuan biopsikologis untuk meningkatkan terapi bagi penderita PTSD dan depresi.

Anke menempuh pendidikan psikologi klinis dan neurosains perilaku di Universitas Humboldt Berlin, di mana ia menerima Penghargaan Ilmuwan Muda pada tahun 2001. Kemudian ia menyelesaikan penelitian pascadoktoral di Center for Stress and Anxiety Disorders, Universitas Albany, sebelum memegang posisi akademis di Jerman dan Inggris sebelum bergabung dengan Universitas Exeter.

Karyanya telah dipublikasikan di jurnal-jurnal terkemuka dan didukung oleh lembaga pendanaan penelitian utama. Ia juga menyelesaikan pelatihan lanjutan dalam terapi perilaku kognitif, merupakan Psikoterapis Psikologis berlisensi, dan berpraktik sebagai terapis rekanan di Klinik AccEPT.

Prof. Byron J. Good, Ph.D

Prof. Byron J. Good, Ph.D adalah professor Social Anthropology dari Harvard Medical School, USA. Beliau telah menjabat sebagai Ketua Departemen Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial pada tahun 2000-2006. Professor Good telah lama tertarik pada bagaimana beragam bentuk budaya membentuk presentasi, pengalaman, dan respons terhadap penyakit mental serius dalam masyarakat di Indonesia, Iran, Turki, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Professor Good telah melakukan penelitian selama hampir 50 tahun, dengan fokus utama pada studi tentang penyakit mental serius dan perawatan berbasis komunitas di berbagai wilayah termasuk Yogyakarta pada lingkungan pasca-konflik serta pasca-tsunami di Aceh Indonesia. Professor Good telah bekerja secara intensif di Indonesia sejak tahun 1996 dengan penelitian etnografi terhadap budaya Jawa, khususnya yang berkaitan dengan penyakit mental, serta penelitian kuantitatif dan etnografi mengenai fase awal penyakit psikotik, perjalanan psikosis cepat yang bersifat longitudinal, dan efektivitas layanan kesehatan mental.

Prof. Erminia Colucci, Ph.D.

Prof. Erminia Colucci adalah Profesor Psikologi Visual dan Kesehatan Mental Global & Budaya di Departemen Psikologi, Middlesex University London, serta Profesor Afiliasi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Indonesia. Beliau dikenal atas kontribusi dalam penelitian tentang hak asasi manusia, kesehatan mental, pencegahan bunuh diri, dan kekerasan domestik. Fokus penelitian Prof. Erminia pada pengalaman langsung orang dengan gangguan mental dan perilaku bunuh diri, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kelompok etnis minoritas, dan pengungsi.