Industri garmen berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu kontributor utama dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2022. Data dari Survei Tahunan Perusahaan Industri Manufaktur (STPIM) 2020 yang dilakukan oleh Direktorat Statistik Industri menunjukkan bahwa sektor ini menyumbang 7,31 persen dari total industri manufaktur, berada di bawah industri makanan. Di sektor ketenagakerjaan, industri tekstil menyerap 12,65 persen tenaga kerja manufaktur, menjadikannya salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia.
SDG 5: Kesetaraan Gender
Flourishing sering dikaitkan sebagai kesejahteraan yang sempurna, meliputi aspek psikologis, emosi, dan sosial. Rizqi menjelaskan, “Seseorang dapat dikatakan flourish jika secara emosi merasa senang dan dalam peran yang dijalankan dapat berfungsi secara optimal. Contoh keberfungsian yang baik adalah memiliki gairah yang besar untuk senantiasa belajar, bekerja, dan berkembang”.
“Jadi, jika ada individu yang merasa senang namun tidak produktif atau sebaliknya produktif tetapi tidak merasakan kebahagiaan. Maka individu ini belum dikatakan sebagai individu yang flourish”, lanjut Rizqi.
Rizqi memaparkan dua alasan utama mengapa flourishing sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, “Flourishing dapat menjadi faktor protektif seseorang terhadap berbagai macam persoalan psikologis. Selain itu, flourishing juga bisa meningkatkan produktivitas. Berbagai faktor eksternal yang tidak menguntungkan seperti salah satu contohnya stres kerja tidak akan terlalu memberikan efek negatif bagi seseorang yang memiliki tingkat flourishing tinggi”.
Job flourishing
Dr. Rita Eka Izzaty, S.Psi., M.Si., selaku Ketua DWP UP Fakultas Psikologi UGM membuka seminar. Dalam sambutannya Rita bercerita bagaimana maraknya kasus negatif terjadi di kalangan generasi milenial dan gen Z. Menurutnya, hal ini perlu diperhatikan orang tua untuk mengetahui pendampingan yang tepat bagi anak yang berbeda generasi darinya.
“Ternyata prevalensinya atau data-data untuk bunuh diri ini semakin lama semakin memprihatinkan. Pertanyaan yang mendasar, ini ada apa dengan anak-anak kita, bagaimana hubungannya dengan keluarga, bagaimana hubungannya dengan Ibu dengan Ayah,” tutur Rita.
Melalui seminar ini Rita juga berharap, Ibu dan Ayah dapat mengidentifikasi ciri generasi milenial dan gen Z sehingga mampu memberikan perlakuan dan menerapkan pendekatan yang sesuai.
“Kalau saya simpulkan dari hasil-hasil kajian riset, sebenarnya kesalahan pendidikan dan pengasuhan terletak dari perspektif yang salah dari orang tuanya, menggunakan perspektif ala orang tua untuk diterapkan pada anak-anak,” tambah Rita.
Diwakili Dr. Rita Eka Izzaty, S.Psi., M.Si., Ratna Syifa’a Rahmahana, S.Psi., M.Si., Psikolog, dan Widi Ariyani Sudarsono, M.Psi., Psikolog, DWP UP Fakultas Psikologi UGM pada kesempatan yang sama juga menyerahkan bantuan pendidikan kepada penerima dari unsur tenaga kependidikan, tenaga outsource keamanan, dan tenaga outsource kebersihan Fakultas Psikologi UGM.
“Walaupun memang ini tidak seberapa tapi kami harapkan dapat dipakai untuk membantu dan mendukung proses pendidikan yang dijalani oleh Ananda, jadi bukan besarnya sekali lagi tetapi di sini spirit dari Dharma Wanita itu adalah berbagi, tagline kita dari kita untuk kita,” harap Rita.
Seminar dan Diskusi
Seminar dimoderatori oleh Dosen Fakultas Psikologi UGM, Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
“Hal yang menarik adalah saya dan mungkin di sini ada beberapa ibu Dharma Wanita yang juga sebenarnya masih dalam generasi milenial, jadi nanti mungkin kami juga sambil belajar mengenali diri sendiri,” kata Zahra membuka sesi seminar.
Mengawali pemaparan materinya, dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K), menceritakan berbagai peran seorang perempuan, dari seorang Ibu yang mendampingi anaknya hingga berkarir sebagai profesional dengan segudang kesibukan. Peran-peran tersebut bahkan dilaksanakan secara bersamaan, yang kemudian tidak dapat dipungkiri dapat memicu berbagai kerentanan.
“Ternyata perempuan itu rentan mengalami stres, melansir dari Women’s Agenda menurut studi terbaru itu ternyata 50% di dunia ini mengalami burn out, jadi perempuan itu selain strong woman ternyata juga punya potensi untuk mengalami burn out. Ternyata lebih dari 8% orang dewasa berusia di atas 20 tahun melaporkan mengalami depresi selama periode dua minggu, hampir dua kali lebih mungkin mengalami depresi dibanding laki-laki,” ucap Ida.
Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K), merupakan seorang psikiater di RSUD Wonosari Gunungkidul Yogyakarta, dan penggiat suicide prevention, Ida juga merupakan seorang penulis buku serta giat membagikan beragam video edukasi di media sosial Instagramnya.
Seminar ini membahas topik perempuan sebagai perempuan, perempuan dalam ikatan pernikahan, perempuan sebagai Ibu, pendekatan pada milenial dan gen Z.
“Depresi itu ada tiga gejala utama, murung, hilang minat, mudah lelah. Ada tujuh gejala tambahan, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan nafsu makan, harga diri rendah, perasaan bersalah atau menyalahkan diri berlebihan, pikiran tentang masa depan yang suram, ide kematian sampai percobaan bunuh diri. Dua gejala utama dua gejala tambahan minimal dua minggu disebut depresi ringan, dua gejala utama tiga gejala tambahan disebut sebagai depresi sedang, tiga gejala utama empat gejala tambahan disebut depresi berat,” terang Ida.
Melanjutkan pemaparannya, Ida menyampaikan pentingnya sebagai seorang Ibu untuk mengetahui kondisi diri sebelum mendampingi anak, “Perempuan perlu mengenal kondisi mentalnya, menolong dan merawat dirinya sendiri agar bisa menjalankan perannya sebagai Ibu, istri dan anggota masyarakat”.
Idealnya, suami dan istri dalam mengasuh anak harus menjadi satu tim dan bertanggung jawab bersama. Realitanya ketimpangan terjadi, seolah-seolah mengasuh menjadi tanggung jawab Ibu seorang, “Banyak kasus di dalam pernikahan saya bisa katakan 90% lebih rumah tangga itu tidak ada yang benar-benar mulus baik-baik saja.”
Pendekatan sebagai orang tua kepada anak khususnya Ibu, harus dilakukan dengan memahami karakter milenial dan gen Z. Kunci dalam pendekatan generasi milenial menurut Ida ada tiga, yang pertama asertif, kedua empati, dan ketiga adalah equal.
“Kita belajar untuk melihat anak-anak kita sebagai manusia, bukan sebagai milik kita,” tegas Ida.
Penulis: Erna