Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka rangkaian International Short Course on Psychology (ISCP) ke-10 secara luring di Hall D Fakultas Psikologi UGM pada Selasa (1/9). Mengangkat tema “Turning a House into a Home”, kegiatan ini menghadirkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.IP., M.M., sebagai keynote speaker.
cpmh
(CPMH) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan kuliah daring dua jilid bertajuk “Nge-Barcode”, Solutif atau Maladaptif, Jumat (15/09) dan Selasa (26/09). Kuliah
Jumat (18/08). Moderator acara, Marsha Prifirani, menyapa seluruh peserta yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa baru. Sebelum pemaparan materi, Marsha menelisik lebih lanjut perasaan mahasiswa baru saat pertama kali memulai perkuliahan.
On Wednesday (12/7), the Center for Public Mental Health (CPMH) Faculty of Psychology UGM held an Online Summer Lecture Series (OSLS) 2023 themed Mental Health in the Digital World. Dr. Wenty Marina Minza, M.A., Vice Dean for Research, Community Service, and Cooperation, officially opened the OSLS and will continue until July 26th.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM menggelar Online Summer Lecture Series (OSLS) 2023 bertajuk Mental Health in The Digital World, Rabu (12/7). Dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, M.A., rangkaian OSLS digelar secara daring hingga 26 Juli mendatang.
“Stres akademik sering dialami oleh kalangan pelajar atau mahasiswa, terutama saat menjelang ujian,” ucap Anggit sebagai pemantik kuliah online.
“Stres adalah istilah yang menggambarkan perasaan tidak nyaman karena adanya tekanan yang menuntut adanya adaptasi diri,” jelas Wirdatul Wirdatul Anisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai pemateri pertama. Tingkat stres bergantung pada persepsi seseorang terhadap sumber stres. Satu situasi dapat dipersepsikan berbeda oleh beberapa manusia. Oleh karena itu, manusia tidak akan pernah berhasil menyamaratakan tingkat stres seluruh orang.
Lebih lanjut Wirdatul menjelaskan, “Manusia membutuhkan stres karena dari situlah ia belajar tentang adaptasi dan problem solving. Seseorang yang mengalami stres bukan berarti tidak sehat jiwa, World Health Organization (WHO) menerangkan bahwa salah satu kriteria orang sehat mental adalah kemampuan dalam mengelola stres. Sehingga, keberadaan stres dapat dikatakan sebagai suatu hal yang wajar dan normal”.
Sedikit dan banyaknya stres turut serta memengaruhi performa seseorang. Wirdatul mengatakan, “Jika seseorang memiliki sedikit stres, maka besar kemungkinan ia memiliki performa keaktifan yang rendah. Namun sebaliknya jika seseorang memiliki tingkat stres yang tinggi, maka juga dapat menjadi potensi kelelahan yang berujung pada kecemasan. Stres yang baik berada pada tingkat optimum (sesuai kapasitas diri)”.
Mengerecut ke dunia perkuliahan, stres di kalangan mahasiswa biasanya berhubungan dengan masalah akademik atau disebut stres akademik, yaitu ketegangan dan tekanan psikologis yang dialami siswa sebagai respons terhadap tuntutan dan harapan lingkungan akademik mereka. Stres akademik dapat memengaruhi kesehatan mental dan well being mahasiswa.
“Apabila stres akademik ini terjadi terus-menerus dan menjadi kronis, maka dapat meningkatkan risiko berkembangnya gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, masalah perilaku, masalah emosional (marah dan frustasi), dan pikiran bunuh diri. Stres akademik dapat menurunkan motivasi, menghambat prestasi akademik, dan menyebabkan angka putus sekolah,” terang Wirdatul.
Stres akademik dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, yakni faktor psikologis (rendahnya self esteem, rendahnya self confidence, kesepian), faktor akademik (prokrastinasi, beban kerja akademis, hubungan negatif dengan guru/dosen/staf, kurang menguasai materi, dll), faktor biologis (kesehatan fisik, jenis kelamin, usia), faktor life style (kurang tidur, gangguan makan, kurangnya aktivitas fisik, dll), faktor sosial (tuntutan keluarga, kompetisi kelas, kurangnya jejaring sosial yang suportif, dll), dan faktor finansial (kemiskinan, rendahnya pendapatan keluarga, kurangnya dukungan finansial).
“Antara satu faktor dengan faktor lainnya saling berkaitan. Faktor- faktor risiko ini perlu diperhatikan dan dikenali untuk meningkatkan faktor protektifnya sehingga faktor risiko dapat diminimalisir dan tidak menjadi penyebab terjadinya stres,” jelas Wirdatul.
Selanjutnya, Wirdatul menyebutkan berbagai faktor protektif yang bisa membantu seseorang untuk menghadapi stres akademik, “Penilaian seseorang terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik, kemampuan beradaptasi, daya resiliensi, optimisme, kemampuan manajemen waktu, dukungan sosial, dan kesejahteraan spiritual”.
Selanjutnya, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi. Psikolog, pemateri kedua dalam kuliah online ini memaparkan tanda-tanda seseorang mengalami stres akademik, “Sering mengalami kesulitan belajar, sulit fokus atau perhatian mudah teralihkan, memiliki masalah tidur dan pola makan, mengalami keluhan somatik (sakit kepala, sakit perut, dll), ketidakpuasan terhadap performa akademik, menghindari aktivitas akademik (sering absen kelas), menarik diri dari lingkungan, dan pelarian ke hal-hal negatif”.
Nurul Kusuma juga membagikan tips
self help
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM menggelar webinar mengenai “Spiritualitas dan Kesehatan Mental”, Rabu (12/4). Tampil sebagai narasumber yakni Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM yang juga merupakan Presiden International Association of Muslim Psychologists (IAMP). Melalui webinar ini CPMH mencoba memberikan gambaran kepada masyarakat tentang kaitan antara kesehatan mental dan keimanan.
Namun, sebelum memulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk, Nurul kembali mengingatkan para partisipan yang hadir dalam KulOn mengenai empat pilar penopang, “Jadi, ketika kita berbicara tentang kesehatan jiwa, maka kita berbicara empat pilar penopang dan empat pilar penopang tersebut bersifat aktif dan harus diupayakan agar tetap berdiri”.
Selain meningatkan tentang empat pilar penopang, Nurul juga mengingatkan tentang salah satu faktor protektif yang dapat dikembangkan dan diupayakan adalah literasi kesehatan mental. Semakin tinggi literasi kesehatan mental, maka semakin tinggi kemampuan memahami diri sehingga lebih peka dan dapat melakukan deteksi dini terkait gangguan kesehatan mental. “Literasi kesehatan mental yang minim sekali di masyarakat menyebakan kesenjangan penanganan yang begitu besar”, ungkap Nurul.
Setelah menjelaskan beberapa hal terkait gangguan mental dan perilaku bunuh diri, para narasumber mulai menjawab satu per satu pertanyaan yang masuk. Salah satunya mengenai kenapa individu bisa sampai memiliki keinginan untuk bunuh diri dan Wirdatul menjawab dengan menganalogikan sebuah tiang yang menopang suatu beban. “Individu yang memiliki keinginan atau pikiran bunuh diri ibaratnya sedang menghadapi beban yang besar, tetapi tiang yang menyokong beban itu sedang rapuh”, jelas Wirdatul.
Beberapa faktor yang membuat tiang itu rapuh disampaikan oleh Wirdatul seperti, faktor sosial, memiliki pengalaman yang traumatis, memiliki diagnosis gangguan mental tunggal maupun komorbid, penyalahgunaan zat-zat dan alcohol, ketidakmampuan dan keengganan dalam meminta bantuan, serta tingkat religiusitas seseorang.
Di akhir sesi, ditutup dengan pertanyaan tentang bagaimana kiat sederhana untuk memiliki mindfull agar tidak mudah terpecah pikirannya dan kembali teringat untuk melakukan bunuh diri. “Punya rutinitas dan catatan. Jadikan diri sendiri sebagai individu yang membutuhkan catatan supaya yang dilakukan tersistematis”, jawab Nurul.
“Pikiran itu liar dan seseorang bisa saja mengalami kemunculan pikiran negative yang tiba-tiba. Sekalinya satu pikiran negatif muncul, maka akan memancing pikiran negatif lainnya untuk muncul. Oleh karena itu, menulis dan memiliki catatan adalah salah satu cara untuk menata dan merapikan pikiran-pikiran (liar) itu serta meminimalkan melakukan aktivitas multitasking”, tambah Wirdatul.
Photo by National Cancer Institute on Unsplash
However, before starting to answer the questions that have been submitted, Nurul again reminded the participants who attended KulOn about the four pillars of support, “So, when we talk about mental health, we are talking about the four pillars of support, and they are active and endeavored”.
Apart from reminding about the four pillars of support, Nurul also reminded about one of the protective factors that can be developed and pursued is mental health literacy. The higher mental health literacy, the higher the ability to understand oneself so that they are more sensitive and can make early detection of mental health disorders. “The very minimal mental health literacy in society has caused such a large gap in handling,” said Nurul.
After explaining several things related to mental disorders and suicidal behavior, the resource persons began to answer the incoming questions one by one. One of them is about why individuals can have the desire to commit suicide and Wirdatul answered by analogy with a pillar that supports a burden. “Individuals who have suicidal thoughts are like having a big burden, but the pillars that support that burden are fragile,” explained Wirdatul.
Wirdatul explained several factors that made the pillars that support fragile, such as social factors, having a traumatic experience, having a single or comorbid mental disorder diagnosis, substance and alcohol abuse, inability and reluctance to ask for help, and a person’s level of religiosity.
At the end of the session, it was closed with a question about how to have simple tips to be mindful, so you don’t easily get distracted and think about committing suicide again. “Have routines and notes. Make yourself as an individual who needs notes so that what is done is done in a systematic manner,” replied Nurul.
“Thoughts are wild, and a person may experience sudden negative thoughts. Once a negative thought appears, it will provoke other negative thoughts to appear. Therefore, writing and keeping notes is one way to organize and tidy up those (wild) thoughts and minimize multitasking activities, “added Wirdatul.
Photo by National Cancer Institute on Unsplash
According to research in 2022 by Wang and colleagues, it was found that teenage girls and boys have a different tendency to do NSSI and statistically NSSI behavior is more common in girls. “We want to convey a warning to women that we are more vulnerable to NSSI. So, please be more vigilant,” urged Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psychologist as one of the speakers at KulOn this time.
In addition, Wirdatul Anisa, M.Psi., Psychologist also explained that NSSI behavior can cause addiction. “Therefore, the behavior of self-harm is not seen from the motive, but seen from the person’s desire to hurt himself without any intention of killing him or her self.” For individuals who do not have mental disorders, but then solve their problems by doing NSSI as a form of instant problem solving, it will potentially lead to mental disorders, depression, or anxiety disorders if allowed to continue.
Through this KulOn topic, it is also explained what conditions can make individuals susceptible to NSSI behavior or are referred to as risk factors. Things that can be risk factors are bad experiences in childhood, low ability to manage emotions, inability to express thoughts or feelings, low self-esteem, low stress tolerance, lack of ability to solve problems, family members or peers having NSSI, using social media, having mental disorders, and low knowledge about health. “It doesn’t mean that there are more risk factors, how come there are fewer protective factors, as if the protective factors were losing, no. However, we want to show that there are many conditions that must be watched out for and observed so that they can be anticipated, “explained Nurul.
Meanwhile, for protective factors as a condition that can protect or reduce individual vulnerability related to NSSI behavior, it was conveyed by Wirdatul. The protective factors in question consist of 3 things, namely social support, having positive coping, and mature emotional regulation.
“What should we do when we see or find people around us doing NSSI? First, increase literacy regarding NSSI behavior regarding dangers, consequences, unexpected impacts that were not known beforehand because NSSI actors do not know that NSSI can be something dangerous, “explained Nurul during the presentation of the material.