Jumat (25/11) Center for Life Span Development atau biasa disebut dengan CLSD mengadakan “Workshop Penulisan Publikasi: Kiat Menembus Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi”. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari akhir rangkaian acara Workshop CLSD. “Rencananya akan ada dua bentuk publikasi yang akan dihasilkan, yaitu publikasi untuk masyarakat umum yang dapat dilihat pada akun Instagram CLSD dan publikasi untuk ranah internasional serta kalangan akademisi dalam bentuk publikasi jurnal internasional”, jelas Elga Andriana, M.Ed., Ph.D, selaku ketua CLSD dalam sambutannya.
Rilis
Rabu (24/11) Fakultas Psikologi UGM bekerjasama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) menyelenggarakan Kuliah Online yang mengangkat topik “Perundungan dan Kesehatan Mental”. Topik tersebut disampaikan oleh dua pembicara, yaitu Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog dan Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog. “Kenapa kami memamaparkan tentang segala macam perundungan, ternyata di lapangan masih banyak temen-temen atau bahkan orang dewasa yang belum memahami bahwa hal itu adalah perundungan atau teman-teman remaja yang pada akhirnya menyadari bahwa ternyata selama ini telah melakukan perundungan”, jelas Nurul.
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Pelepasan Wisudawan/Wisudawati Periode I Tahun Akademik 2021/2022 Program Sarjana dan International Undergraduate Program (IUP) untuk pertama kalinya secara daring dan luring terbatas (24/11). Secara daring acara pelepasan disiarkan melalui YouTube Kanal Pengetahuan Psikologi UGM dan Zoom, sementara untuk pelaksanaan luring terbatas dilaksanakan di Ruang Auditorium G-100 Fakultas Psikologi UGM. Acara ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Hymne UGM. Kemudian acara berlanjut dengan pembukaan acara Pelepasan Wisudawan/Wisudawati Sarjana Psikologi Periode I T.A 2021/2020 oleh Dekan Fakultas Psikologi, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D.
Selasa (16/11) hingga Jumat(19/11) Center For Life-Span Development (CLSD) UGM bekerja sama dengan Prodi Doktor Ilmu Psikologi UGM menyelenggarakan Kursus Intensif Metode Penelitian Naratif. Acara ini merupakan gelaran pelatihan naratif daring yang kedua dari CLSD setelah tahun lalu juga menyelenggarakan dengan tema yang sama.
Sabtu (13/11), Fakultas Psikologi UGM mengadakan penyambutan kepada mahasiswa baru angkatan 2021 melalui acara “Temu Kenal Akrab 2021”. Acara ini diselenggarakan selama dua hari, yaitu dari tanggal 13 November sampai 14 November 2021. Temu Kenal Akrab adalah kegiatan tahunan untuk menyambut mahasiswa baru Fakultas Psikologi. Diikuti oleh 300 partisipan, acara penyambutan kali ini menjadi wadah untuk mahasiswa mengetahui struktur sosial dan menginisiasi hubungan baik antar angkatan meskipun dalam kondisi pandemi.
Jumat (12/11) Center for Life-Span Development (CLSD) UGM mengadakan Webinar dengan tema “School transitions experiences: Supporting children moving from online to offline learning”. Acara ini membahas tentang masa transisi yang dialami anak sekolah dari daring menuju luring seiring menurunnya jumlah kasus Covid-19. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Acara ini diikuti oleh 60 orang peserta.
Jumat (12/11) Fakultas Psikologui UGM mengadakan acara Pembukaan Dies Natalis Fakultas Psikologui UGM. Acara ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan memperingati 57 tahun berdirinya Fakultas Psikologi UGM. Dengan mengusung tema “Reconnecting and Co-Creating” acara pembukaan ini dilangsungkan di Fakultas Psikologi UGM dengan format bauran; luring dan daring.
Acara dimulai pukul 07.30 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Acara dibuka dengan kata sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Si., Ph.D. sekaligus pemukulan gong sebagai tanda rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM 2021 dimulai.
Pembicara pertama pada acara ini adalah Prof. Faturochman, M.A yang menyampaikan tentang “Managing Diversity for Unity”. “Ragam yang dimiliki Indonesia adalah sebuah tantangan tersendiri”, ucap Fatur. Seperti sudah diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak budaya, geografi, bahkan makanan. Oleh karena itu, menurut Fatur mengelola keragaman seperti mengaransemen dan memainkan musik. “Kearifan lokal dan berbagai pengalaman akan menjadi sumber daya yang dapat dipelajari untuk mengelola harmoni dan kesatuan psikologis sosial”, jelas Fatur.
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Dr. Muhammad Najib Azca dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. “Jadi, salah satu fokus keilmuan saya adalah tentang konflik, kekerasan, dan proses perdamaian. Oleh karena itu, kali ini saya akan berbicara tentang bagaimana kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman kita (Indonesia) dalam resolusi konflik”, ungkap Najib.
Salah satu pembahasan yang disampaikan oleh Najib adalah mengenai A Framework for Conflict Analysis yang terdiri dari profil, aktor, penyebab, dan dinamika yang terjadi pada suatu konflik. Analisis tersebut berguna untuk memahami keberhasilan penyelesaian konflik melalui pemahaman yang komprehensif. Selain itu, Najib juga menyampaikan bahwa proses penyelesaian konflik melibatkan dua mekanisme penting, yaitu mediasi dan negosiasi.
Sesi akhir pada acara ini ditutup materi yang disampaikan oleh Rogelia Pe-Pua., Ph.D dari School of Social Sciences University of New South Wales. Ada tiga hal yang Rogelia sampaikan, yaitu acculturation in Australia, acculturation from an indigenous Australian lens, dan social cohesion in a multicultural society. “Jadi, sebelum saya memulai materi, saya ingin mengajukan jajak pendapat melalui pertanyaan sederhana tentang apakah Australia adalah negara paling multikultural di dunia? Tanya Rogelia dan jawabannya memang Australia adalah masyarakat multikultural paling sukses di dunia.
Rogelia juga merekomendasikan beberapa hal untuk menjaga multikultural tetap berjalan dengan damai. Beberapa diantaranya, mempromosikan kesadaran pengetahuan, pengakuan budaya, perbedaan, serta keragaman. Kemudian menciptakan peluang untuk adanya kontak antar budaya positif yang sering, mengatasi rasisme dan diskriminasi, serta melibatkan media dalam meningkatkan kohesi sosial. Termasuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan timbal balik antar budaya, dan media sosial serta kohesi sosial adalah hal yang direkomendasikan Rogelia agar multikultural dalam suatu daerah terjaga.
Photo by Clay Banks on Unsplash
Acara ini dimulai pukul 09.30 WIB dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 100 peserta dari berbagai kalangan.
Pemateri pada acara ini adalah dr. Mulyaningrum, Sp. THT-KL, dokter RSPAD Gatot Subroto Jakarta dan Yulia Direzkia, S.Psi., M.Si., Psikolog, tenaga kesehatan di klinik psikologi Rumah Sakit Jiwa Aceh, EMDR Europe Accredited Consultant. Mereka memaparkan materi tentang kesehatan pernapasan dan psikologis dalam konteks pandemi Covid-19.
Pada sesi awal dibuka oleh pemaparan tim relawan Tenang Lapang yang diwakili oleh Toetik Septriasih M.Psi., Psikolog. Dalam presentasinya Toetik memaparkan tentang kondisi terkini program Tenang Lapang yang telah berjalan sejak 14 Agustus.
Selanjutnya Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Si., Ph.D. juga turut memberikan dukungan penuh terhadap program Tenang Lapang. Pada pemeparannya, Rahmat mengapresiasi semangat dan dedikasi tim relawan baik psikolog, admin pengelola dan semua pihak yang tergabung dalam Tenang Lapang.
Memasuki acara inti moderator acara Yulia Wahyu Ningrum, M.Psi., Psikolog memandu jalannya presentasi. Secara bergantian dr. Mulyaningrum dan Yulia memaparkan presentasinya sekaligus berinteraksi dengan peserta acara yang mengajukan pertanyaan.
Pada presentasi pertama dr. Mulyaningrum banyak menjelaskan tentang virus SARS-COV2 yang termasuk keluarga besar coronavirus. Menurut dr. Mulyaningrum Covid-19 gejalanya mirip SARS. Bedanya adalah angka kematian SARS dari jumlah total kasus 9,6 % lebih tinggi daripada Covid-19 (kurang dari 5%), walaupun jumlah total kasus Covid-19 lebih banyak dibandingkan SARS. Covid juga menyebar lebih luas ke beberapa negara dibandingkan SARS.
Selanjutnya dr. Mulyaningrum juga menjelaskan bagaimana cara menjaga kesehatan hidung. Menurut dr. Mulyaningrum hidung tidak boleh kering karena bisa menyebabkan persarafan hidung terganggu. Pada akhir presentasinya dr. Mulyaningrum juga menjelaskan bagaimana cara membersihkan hidung dengan cara cuci hidung.
Pemateri kedua, Yulia, membawakan sebuah presentasi dengan judul Psychological First Aid (PFA). Dalam presentasinya ini Yulia banyak mengulas tentang kondisi-kondisi krisis yang dialami manusia sehingga mengalami stress. Yulia menggambarkan fase-fase naiknya stress dalam kadar normal naik bertahap menuju puncak yaitu toxic stress.
“Stress itu ternyata dia berkembang. Tidak kemudian setelah stress kalau kita nggak atasi dia akan baik-baik saja. Nggak. Stress itu harus diatasi. Karena kalau dia awalnya normal stress kemudian ketika ada pemicu berikutnya atau ada situasi krisis berikutnya lagi, dia bisa menjadi traumatic stress,” terang Yulia.
Pada sesi akhir Yulia menerangkan tentang Psychological First Aid, yaitu keterampilan untuk mencegah terjadinya trauma. Psychological First Aid adalah suatu cara singkat untuk memberi dukungan psikologis bagi individu, keluarga, maupun masyarakat setelah terjadinya krisis yang di dalamnya melibatkan keterampilan mendengar aktif dan interaksi personal.
Restu mengawali sesi ini dengan membagi pengalamannya saat menempuh studi Doktor “mungkin apa yang saya sampaikan hari ini akan sangat personal. Tidak semuanya akan relevan dengan perjalanan teman-teman yang sudah atau sedang menempuh doktoral sekarang”, jelasnya. Perjalanan pendidikan doktoral seseorang memiliki ceritanya masing-masing dan bersifat subjektif. Tergantung kampus mana yang dijadikan tempat studi, tuntutan apa yang diterima, bahkan sampai pada konteks budaya. “Saya pribadi menganggap bahwa semua doktoral itu akan by research karena majoritynya dinilai berdasarkan disertasi, yaitu penelitian yang dilakukan”, jelas Restu.
Pada tahun pertama Restu menempuh Program Doktor di London yang dilakukan adalah melakukan Systematic Literature Review (SLR). Kemudian di lanjutkan dengan tahun kedua, yaitu penyusunan proposal disertasi. Setelah itu, pada tahun ketiga Restu melanjutkan dengan ethical clearance, “karena variabel yang saya ambil salah satunya tentang kelompok, maka tentang ethical clearance cukup panjang”. Bahkan sampai harus pulang ke Indonesia untuk mengurus izin di instansi terkait dimana Restu mengambil data.
“Melalui acara ini, saya ingin lebih memotivasi yang belum S3, berani S3,” lanjut Bhina pada sesi kedua. Berbeda dengan Restu, Bhina menceritakan pengalaman sekolah lanjutnya yang tidak dibiayai dari sebuah program beasiswa. Bhina mengaku, selama sekolah lanjutnya biaya ia tanggung sendiri hasil dari bekerja di International Centre for Higher Education Research Kassel (INCHER-Kassel). Hal tersebut yang membuat Bhina sangat meyakini bahwa pendidikan S3 tetap bisa ditempuh meski tanpa beasiswa.
Selain menceritakan pengalaman sekolah doktornya, Bhina juga sempat menceritakan gelar unik yang dimilikinya, yaitu Dr.rer.pol. “Gelar doktor yang diberikan berdasarkan yang bersangkutan melakukan studi di fakultas apa. Fakultas atau institusi tersebut berada di bidang apa.”, jelas Bhina. Oleh karena itu, terdapat lulusan Psikologi yang mendapatkan gelar Dr.rer.pol jika melakukan studi di bawah Ilmu Ekonomi dan Sosial, namun ada pula yang mendapatkan gelar Dr.rer.nat. Semua gelar yang didapatkan tergantung tempat Fakultas/Institusi mana yang bersangkutan melakukan studi.
Dalam penyampaiannya, Bhina mengatakan bahwa pendidikan S3 bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki IQ tinggi dan genius. “Jangan sampai mengalami impostor syndrome, dimana seseorang meragukan diri sendiri”, jelas Bhina.