Arsip:

Rilis

Temu Kenal Akrab 2021: Meraki

Sabtu (13/11), Fakultas Psikologi UGM mengadakan penyambutan kepada mahasiswa baru angkatan 2021 melalui acara “Temu Kenal Akrab 2021”. Acara ini diselenggarakan selama dua hari, yaitu dari tanggal 13 November sampai 14 November 2021. Temu Kenal Akrab adalah kegiatan tahunan untuk menyambut mahasiswa baru Fakultas Psikologi. Diikuti oleh 300 partisipan, acara penyambutan kali ini menjadi wadah untuk mahasiswa mengetahui struktur sosial dan menginisiasi hubungan baik antar angkatan meskipun dalam kondisi pandemi. read more

Menyiapkan Masa Transisi Pembelajaran pada Anak

Jumat (12/11) Center for Life-Span Development (CLSD) UGM mengadakan Webinar dengan tema “School transitions experiences: Supporting children moving from online to offline learning”. Acara ini membahas tentang masa transisi yang dialami anak sekolah dari daring menuju luring seiring menurunnya jumlah kasus Covid-19. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Acara ini diikuti oleh 60 orang peserta. read more

Pembukaan Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM: “Reconnection and Co-Creating”

Jumat (12/11) Fakultas Psikologui UGM mengadakan acara Pembukaan Dies Natalis Fakultas Psikologui UGM. Acara ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan memperingati 57 tahun berdirinya Fakultas Psikologi UGM. Dengan mengusung tema “Reconnecting and Co-Creating” acara pembukaan ini dilangsungkan di Fakultas Psikologi UGM dengan format bauran; luring dan daring.

Acara dimulai pukul 07.30 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Acara dibuka dengan kata sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Si., Ph.D. sekaligus pemukulan gong sebagai tanda rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM 2021 dimulai.

Webinar Internasional CICP: Challenges of Living in a Diverse Society

Jumat (12/11) Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan acara webinar internasional dengan topik “Challenges of Living in a Diverse Society”. Topik tersebut disampaikan oleh tiga pembicara, yaitu Prof. Dr. Faturochman, M.A., Dr. Muhammad Najib Azca, dan Rogelia Pe-Pua, Ph.D. Acara webinar kali ini dihadiri oleh lebih dari 200 partisipan secara daring dimulai pada pukul 13.00 WIB. Sebelum masuk pada materi, acara ini dibuka oleh Haidar Buldan Thantowi, S.Psi., M.A., Ph.D selaku Ketua dari CICP. “Saya dan teman-teman yang hadir saat ini sangat beruntung bisa mengikuti dan bertemu dengan para pembicara”, ujar Buldan.

Pembicara pertama pada acara ini adalah Prof. Faturochman, M.A yang menyampaikan tentang “Managing Diversity for Unity”. “Ragam yang dimiliki Indonesia adalah sebuah tantangan tersendiri”, ucap Fatur. Seperti sudah diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak budaya, geografi, bahkan makanan. Oleh karena itu, menurut Fatur mengelola keragaman seperti mengaransemen dan memainkan musik. “Kearifan lokal dan berbagai pengalaman akan menjadi sumber daya yang dapat dipelajari untuk mengelola harmoni dan kesatuan psikologis sosial”, jelas Fatur.

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Dr. Muhammad Najib Azca dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. “Jadi, salah satu fokus keilmuan saya adalah tentang konflik, kekerasan, dan proses perdamaian. Oleh karena itu, kali ini saya akan berbicara tentang bagaimana kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman kita (Indonesia) dalam resolusi konflik”, ungkap Najib.

Salah satu pembahasan yang disampaikan oleh Najib adalah mengenai A Framework for Conflict Analysis yang terdiri dari profil, aktor, penyebab, dan dinamika yang terjadi pada suatu konflik. Analisis tersebut berguna untuk memahami keberhasilan penyelesaian konflik melalui pemahaman yang komprehensif. Selain itu, Najib juga menyampaikan bahwa proses penyelesaian konflik melibatkan dua mekanisme penting, yaitu mediasi dan negosiasi.

Sesi akhir pada acara ini ditutup materi yang disampaikan oleh Rogelia Pe-Pua., Ph.D dari School of Social Sciences University of New South Wales. Ada tiga hal yang Rogelia sampaikan, yaitu acculturation in Australia, acculturation from an indigenous Australian lens, dan social cohesion in a multicultural society. “Jadi, sebelum saya memulai materi, saya ingin mengajukan jajak pendapat melalui pertanyaan sederhana tentang apakah Australia adalah negara paling multikultural di dunia? Tanya Rogelia dan jawabannya memang Australia adalah masyarakat multikultural paling sukses di dunia.

Rogelia juga merekomendasikan beberapa hal untuk menjaga multikultural tetap berjalan dengan damai. Beberapa diantaranya, mempromosikan kesadaran pengetahuan, pengakuan budaya, perbedaan, serta keragaman. Kemudian menciptakan peluang untuk adanya kontak antar budaya positif yang sering, mengatasi rasisme dan diskriminasi, serta melibatkan media dalam meningkatkan kohesi sosial. Termasuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan timbal balik antar budaya, dan media sosial serta kohesi sosial adalah hal yang direkomendasikan Rogelia agar multikultural dalam suatu daerah terjaga.

 

Photo by Clay Banks on Unsplash

Webinar Tenang Lapang “Jaga Diri, Jaga Kanan Kiri”

Sabtu (6/11) Tenang Lapang Covid-19 Psychological Support center menyelenggarakan acara webinar gratis dengan tajuk “Jaga Diri, Jaga Kanan Kiri”. Tenang Lapang Covid-19 Psychological Support center merupakan layanan konsultasi psikologis bagi masyarakat umum terdampak pandemi Covid-19 yang diinisiasi oleh Fakultas Psikologi UGM bekerjasama dengan Paguyuban Alumni Psikologi Profesi UGM, dan Keluarga Alumni Fakultas Psikologi UGM (Kapsigama).

Acara ini dimulai pukul 09.30 WIB dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 100 peserta dari berbagai kalangan.

Pemateri pada acara ini adalah dr. Mulyaningrum, Sp. THT-KL, dokter RSPAD Gatot Subroto Jakarta dan Yulia Direzkia, S.Psi., M.Si., Psikolog, tenaga kesehatan di klinik psikologi Rumah Sakit Jiwa Aceh, EMDR Europe Accredited Consultant. Mereka memaparkan materi tentang kesehatan pernapasan dan psikologis dalam konteks pandemi Covid-19.

Pada sesi awal dibuka oleh pemaparan tim relawan Tenang Lapang yang diwakili oleh Toetik Septriasih M.Psi., Psikolog. Dalam presentasinya Toetik memaparkan tentang kondisi terkini program Tenang Lapang yang telah berjalan sejak 14 Agustus.

Selanjutnya Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Si., Ph.D. juga turut memberikan dukungan penuh terhadap program Tenang Lapang. Pada pemeparannya, Rahmat mengapresiasi semangat dan dedikasi tim relawan baik psikolog, admin pengelola dan semua pihak yang tergabung dalam Tenang Lapang.

Memasuki acara inti moderator acara Yulia Wahyu Ningrum, M.Psi., Psikolog memandu jalannya presentasi. Secara bergantian dr. Mulyaningrum dan Yulia memaparkan presentasinya sekaligus berinteraksi dengan peserta acara yang mengajukan pertanyaan.

Pada presentasi pertama dr. Mulyaningrum banyak menjelaskan tentang virus SARS-COV2 yang termasuk keluarga besar coronavirus. Menurut dr. Mulyaningrum Covid-19 gejalanya mirip SARS. Bedanya adalah angka kematian SARS dari jumlah total kasus 9,6 % lebih tinggi daripada Covid-19 (kurang dari 5%), walaupun jumlah total kasus Covid-19 lebih banyak dibandingkan SARS. Covid juga menyebar lebih luas ke beberapa negara dibandingkan SARS.

Selanjutnya dr. Mulyaningrum juga menjelaskan bagaimana cara menjaga kesehatan hidung. Menurut dr. Mulyaningrum hidung tidak boleh kering karena bisa menyebabkan persarafan hidung terganggu. Pada akhir presentasinya dr. Mulyaningrum juga menjelaskan bagaimana cara membersihkan hidung dengan cara cuci hidung.

Pemateri kedua, Yulia, membawakan sebuah presentasi dengan judul Psychological First Aid (PFA). Dalam presentasinya ini Yulia banyak mengulas tentang kondisi-kondisi krisis yang dialami manusia sehingga mengalami stress. Yulia menggambarkan fase-fase naiknya stress dalam kadar normal naik bertahap menuju puncak yaitu toxic stress.

“Stress itu ternyata dia berkembang. Tidak kemudian setelah stress kalau kita nggak atasi dia akan baik-baik saja. Nggak. Stress itu harus diatasi. Karena kalau dia awalnya normal stress kemudian ketika ada pemicu berikutnya atau ada situasi krisis berikutnya lagi, dia bisa menjadi traumatic stress,” terang Yulia.

Pada sesi akhir Yulia menerangkan tentang Psychological First Aid, yaitu keterampilan untuk mencegah terjadinya trauma. Psychological First Aid adalah suatu cara singkat untuk memberi dukungan psikologis bagi individu, keluarga, maupun masyarakat setelah terjadinya krisis yang di dalamnya melibatkan keterampilan mendengar aktif dan interaksi personal.

KDM Promovendus Club: Bagi-Bagi Pengalaman Riset Disertasi

Jumat (5/11) Promovendus Club Program Doktor Ilmu Psikologi mengadakan acara yang membahas tentang “Dissertation by Research: Bagi-Bagi Pengalaman”. Hadir dalam acara tersebut Bhina Patria, Dr.rer,pol dan Restu Tri Handoyo, Ph.D sebagai pembicara.

Restu mengawali sesi ini dengan membagi pengalamannya saat menempuh studi Doktor “mungkin apa yang saya sampaikan hari ini akan sangat personal. Tidak semuanya akan relevan dengan perjalanan teman-teman yang sudah atau sedang menempuh doktoral sekarang”, jelasnya. Perjalanan pendidikan doktoral seseorang memiliki ceritanya masing-masing dan bersifat subjektif. Tergantung kampus mana yang dijadikan tempat studi, tuntutan apa yang diterima, bahkan sampai pada konteks budaya. “Saya pribadi menganggap bahwa semua doktoral itu akan by research karena majoritynya dinilai berdasarkan disertasi, yaitu penelitian yang dilakukan”, jelas Restu.

Pada tahun pertama Restu menempuh Program Doktor di London yang dilakukan adalah melakukan Systematic Literature Review (SLR). Kemudian di lanjutkan dengan tahun kedua, yaitu penyusunan proposal disertasi. Setelah itu, pada tahun ketiga Restu melanjutkan dengan ethical clearance, “karena variabel yang saya ambil salah satunya tentang kelompok, maka tentang ethical clearance cukup panjang”. Bahkan sampai harus pulang ke Indonesia untuk mengurus izin di instansi terkait dimana Restu mengambil data.

“Melalui acara ini, saya ingin lebih memotivasi yang belum S3, berani S3,” lanjut Bhina pada sesi kedua. Berbeda dengan Restu, Bhina menceritakan pengalaman sekolah lanjutnya yang tidak dibiayai dari sebuah program beasiswa. Bhina mengaku, selama sekolah lanjutnya biaya ia tanggung sendiri hasil dari bekerja di International Centre for Higher Education Research Kassel  (INCHER-Kassel). Hal tersebut yang membuat Bhina sangat meyakini bahwa pendidikan S3 tetap bisa ditempuh meski tanpa beasiswa.

Selain menceritakan pengalaman sekolah doktornya, Bhina juga sempat menceritakan gelar unik yang dimilikinya, yaitu Dr.rer.pol. “Gelar doktor yang diberikan berdasarkan yang bersangkutan melakukan studi di fakultas apa. Fakultas atau institusi tersebut berada di bidang apa.”, jelas Bhina. Oleh karena itu, terdapat lulusan Psikologi yang mendapatkan gelar Dr.rer.pol jika melakukan studi di bawah Ilmu Ekonomi dan Sosial, namun ada pula yang mendapatkan gelar Dr.rer.nat. Semua gelar yang didapatkan tergantung tempat Fakultas/Institusi mana yang bersangkutan melakukan studi.

Dalam penyampaiannya, Bhina mengatakan bahwa pendidikan S3 bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki IQ tinggi dan genius. “Jangan sampai mengalami impostor syndrome, dimana seseorang meragukan diri sendiri”, jelas Bhina.

 

Photo by Dan Dimmock on Unsplash

Research Knowledge Sharing: Mendengar Suara Anak-Anak Melalui Metode Penelitian Photovoice

Bersama Center for Life-span Development (CLSD), Fakultas Psikologi menyelenggarakan acara Research Knowledge Sharing bersama dengan Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D pada Jumat (29/10). Research Knowledge Sharing kali ini membahas topik Amplifying Children’s Voices within Arts-Based Service-Learning: Emerging Inclusive Education Practices in Indonesia. “Jadi, kalau dilihat dari judulnya, kita bisa menangkap riset ini adalah menyuarakan suara anak tentang pendidikan inklusif”, jelas Elga. Acara yang diselenggarakan secara daring ini, dimulai pada pukul 13.30 WIB dan selesai pada pukul 15.00 WIB.

Penelitian yang dilakukan oleh Elga dan beberapa pihak seperti, Sekolah Tumbuh, Sunny Platts Burgh, dan Universitas Negeri Yogyakarta menggunakan photovoice sebagai metode penelitian. Metode tersebut digunakan untuk memahami kemudian memberikan informasi kepada orang lain tentang sudut pandang seorang anak. Selama melakukan photovoice, partisipan penelitian mengambil foto yang menurut mereka menarik. Nantinya, partisipan membagikan ide mereka tentang inklusi, kolaborasi, komunitas, dan rasa memiliki melalui foto yang sudah diambil. “Penelitian menggunakan photovoice juga bisa dilakukan oleh anak-anak, tetapi juga bisa dilakukann oleh pelajar SMA”, terang Elga.

Selain mengambil foto, partisipan juga dapat belajar tentang penyebab apa yang membuat hal tersebut terjadi dan bagaimana solusi yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah. Hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang dapat diteliti selama penelitian dan bersifat tambahan. Selain itu, partisipan juga dapat mendeskripsikan solusi memungkinkan yang memang dapat dilakukan secara nyata.

Metode photovoice ini termasuk ke dalam metode penelitian kualitatif. Partisipan yang masih di usia sekolah dan bahkan bisa saja dilakukan adalah mahasiswa disebut sebagai asisten peneliti. Setelah mengambil foto, selanjutnya partisipan akan diwawancarai menggunakan Photovoice SHOWeD. Photovoice SHOWeD terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu seputar apa yang dilihat, apa yang terjadi, bagaimana foto/keadaan tersebut terhubung dengan kehidupan kita, kenapa hal itu bisa terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan berkaitan sesuatu yang ada di foto.

Setelah partisipan diwawancari menggunakan Photovoice SHOWeD, selanjutnya peneliti mentranskripkan hasil wawancara tersebut dan melakukan koding secara tematik yang berfokus pada pertanyaan utama penelitian. Di akhir dari penelitian ini, akan diadakan presentasi photovoice dan pameran foto yang ditujukan untuk umum. Pameran foto tersebut terdiri dari berbagai foto yang berhasil diambil oleh co-researchers selama penelitian.

 

Photo by Tanaphong Toochinda on Unsplash

Pengukuhan Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si; Aspek-Aspek Psikologis Interaksi Sosial di Ruang Siber

Kamis (21/10) digelar acara Upacara Pengukuhan Guru Besar bagi Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si. Acara pengukuhan dilakukan secara bauran, dengan pelaksanaan secara luring di Balai Senat Universitas Gadjah Mada dan secara daring melalui Zoom Meeting serta disiarkan langsung melalui YouTube Universitas Gadjah Mada. Upacara Pengukuhan dibuka oleh Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU., ASEAN Eng.

Acara dilanjutkan dengan Upacara Pengukuhan dan penyampaian Pidato Pengukuhan oleh Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si dengan judul “Aspek-Aspek Psikologis Interaksi Sosial di Ruang Siber”. Melalui pidatonya, Avin menyampaikan bahwa pada bulan Januari 2021 sebanyak 2/3 penduduk dunia telah menggunakan sarana mobile phone, sebesar 60% terhubung dengan internet serta sebagian besar adalah pengguna aktif media sosial. Hal serupa juga terjadi di Indonesia dengan kondisi 73% penduduk terkoneksi dengan internet dan 61% aktif di media sosial. Kenaikan tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya Pandemi COVID-19 yang melanda dunia.

“Perkembangan teknologi digital yang pesat memberikan dampak pada kehidupan dan perilaku manusia di ruang siber saat ini atau cyber space. Kondisi ini mendorong munculnya sub-disiplin baru dalam Psikologi, yaitu Cyber Psychology. Cyber Psychology masih relatif baru dan merupakan bagian dari Psikologi Terapan”, jelas Avin. Lebih lanjut, Avin menjelaskan bahwa Cyber Psychology merupakan studi perilaku manusia dalam konteks interaksi manusia dan internet.

Interaksi sosial yang terjadi di ruang siber dapat dikelompokkan menjadi 4 level berdasarkan teori dan konsep Psikologi Sosial. Empat level tersebut terdiri dari intrapersonal (menyuarakan suara hati), interpersonal (dari personal ke ruang publik), intragroup (dalam kelompok), dan intergroup (antar kelompok). Menurut Avin, media sosial adalah bentuk lain dari buku harian yang dulunya bersifat pribadi dan pemberian like pada unggahan media sosial dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk lebih membuka dirinya pada ruang siber.

Pada akhir pidato, Avin menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara besar, luas dan memiliki jumlah penduduk yang banyak. Kebijakan seragam pada level nasional tidak akan optimal apalagi kembali ke jaman sebelum pandemi. Akan tetapi, yang harus terus menerus dipertahankan dan dilanjutkan adalah efikasi pembelajaran secara daring pada level diri, kelompok, maupun institusi. “Menurut saya, membimbing dan menguji tugas akhir dapat dipertahankan secara online. Sementara itu, pembelajaran dapat kita pertimbangkan secara bauran”, ungkap Avin.

Harapannya, dengan dikukuhkannya Prof. Dr. Avin Failla Helmi, M.Si sebagai Guru Besar dapat memperkuat dan memperbesar kiprah Fakultas Psikologi UGM secara nasional maupun internasional.

Fakultas Psikologi Luluskan 20 Psikolog dan 8 Ilmuwan

Fakultas Psikologi UGM pada Kamis (21/10) menyelenggarakan Pelepasan Wisudawan/Wisudawati Program Pascasarjana Periode I TA 2021/2022 yang terdiri dari 28 orang. Pada periode ini diikuti 20 orang dari Program Studi Magister Psikologi Profesi dan 8 orang dari Program Studi Magister Psikologi. Proses pengambilan Sumpah Profesi Psikologi kali ini dipimpin oleh Ketua Umum Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Prof. Dr. Seger Handoyo, Psikolog.

Pada Program Studi Magister Psikologi Profesi, Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi diraih oleh Izzaturrohmah dengan IPK 3.82 sekaligus meraih predikat cumlaude. Sementara pada Program Studi Magister Psikologi, Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi diraih oleh Mutia Husna Avezahra dengan IPK 3.82 sekaligus meraih predikat cumlaude.

Fakultas Psikologi UGM juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi dalam naskah publikasi tesis terbaik. Pada periode ini, naskah tesis terbaik diraih oleh Jessica Dhoria Aryawibowo dari Program Studi Magister Psikologi Profesi dengan judul Self-Esteem sebagai Mediator peran Strategi Koping Adaptif terhadap Distres Psikologis pada Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi COVID-19. Selama proses penyusunan tesis, Jessica dibimbing oleh Dr. Ira Paramastri, M.Si., Psikolog. Sementara pada Program Studi Magister Psikologi, naskah publikasi tesis terbaik diraih oleh Nadea Zulfa Khairunnisa dengan dosen pembimbing Dr. Arum Febriani, M.A. Judul yang diangkat oleh Nadea pada naskah publikasi tesisnya adalah Peran Parenting Self-Efficacy sebagai Mediator Hubungan antara Dukungan Suami dan Keterlibatan Ibu dalam Pendidikan Anak.

Pada acara pelepasan wisuda periode kali ini, sambutan wisudawan/wisudawati diwakilkan oleh Mutia Husna Avezahra dari Program Studi Magister Psikologi Profesi. Melalui sambutannya, Mutia mengungkapkan bahwa masa studi di Psikologi UGM adalah momen dimana ia bisa melakukan refleksi ulang terkait tujuan-tujuan yang hendak dicapai. “Kepada teman-teman yang diwisuda hari ini, marilah kita mengapresiasi atas pencapaian akademik yang membanggakan ini. Terima kasih telah berjuang untuk menyelesaikan studi dalam segala keterbatasan dan ketidakmudahan di situasi pandemi yang belum kunjung berakhir”, ungkap Mutia.

Sambutan dilanjutkan oleh Prof. Dr. Seger Handoyo, Psikolog selaku Ketua Umum HIMPSI. Melalui sambutannya, Seger berpesan kepada wisudawan/wisudawati untuk terus mengembangkan profesionalisme. “Hanya ada tiga hal yang berkaitan dengan profesionalisme. Pertama, lakukan layanan praktik psikologi dengan pengetahuan konsep teori psikologi. Kedua, terus mengembangkan diri, belajar, dan bergabung bersama komunitas. Ketiga, menjaga, mengikuti, serta memerhatikan kode etik dan hukum yang berlaku”, jelas Seger.

Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi, M.Sc., Ph.D. turut memberikan sambutan pada acara ini. Rahmat menyampaikan bahwa menyelesaikan pendidikan magister bukan suatu hal yang mudah, tidak melibatkan tantangan yang ringan, dan membutuhkan upaya yang kuat serta dukungan dari berbagai pihak. “Menjadi seorang magister tidak banyak yang berhasil menikmatinya di antara anak-anak bangsa kita. Dengan menyadari hal itu, sudah sepatutnya hari ini perlu dirayakan dan disyukuri serta dijadikan optimisme yang semakin menguat di hari depan”, ungkap Rahmat.

Penutupan Summer Course CLSD 2021

Kamis (14/10) Center for Lifespan Development (CLSD) menggelar acara penutupan International Online Summer Course 2021. Summer course yang mengusung tema “Disability and Lifespan Development: Indonesia and Global Perspectives” sampai pada akhir acara setelah dua bulan berlangsung sejak awal Agustus hingga pertengahan Oktober 2021.

Acara yang berlangsung dari pukul 17.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB ini dihadiri oleh 50 orang, yang terdiri dari peserta summer course dan umum. Turut hadir dalam acara ini kepala CLSD UGM Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D, dosen Fakultas Psikologi UGM Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., dan juga Prof. David Evans dari University of Sydney.

Peserta Online Summer Course yang sudah dibagi ke dalam delapan kelompok mempresentasikan hasil rancangan penelitian yang sudah disusunnya selalam beberapa hari. Masing-masing kelompok menampilkan presentasi program dengan sangat menarik dan kreatif. Keterbatasan jarak dan waktu tidak mengendurkan semangat peserta dalam bertukar pikiran dan bekerjasama dalam menyusun rencana penelitiannya.

Presentasi penelitian masing-masing kelompok banyak mengangkat tentang tema permasalahan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses pendidikan. Beberapa setting pendidikan yang dijadikan objek penelitian sangat beragam mulai sekolah inklusi, pendidikan ke luar negeri dan pembelajaran online yang dilakukan pada saat pandemi.

Delapan grup peserta summer course memberikan presentasi yang maksimal. Selain ide penelitian yang bagus dan progresif, mereka juga menyajikannya dengan presentasi yang menarik. Prof David Evans dari yang hadir pada kesempatan ini turut memberikan saran dan masukan yang membangun pada tiap kelompok untuk menyempurnakan rancangan penelitiannya.

Setelah sesi presentasi selesai, panitia memutar video perjalanan acara Online Summer Course mulai acara pembukaan pada tanggal 3 Agustus 2021 hingga tanggal 14 Oktober 2021. Di samping itu juga ada sesi testimoni dari baik dari peserta dan panitia penyelenggara acara tentang acara ini. Acara yang digelar dalam 20 seri kelas kuliah online dan diisi oleh 21 pembicara ahli dari 7 negara ini berakhir dengan kesan yang indah bagi peserta, pemateri, maupun panitia pelaksana.

Pada akhir acara dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. memberikan kata sambutan sekaligus menutup acara Summer Course CLSD 2021. Rahmat memberikan apresiasidan berterima kasih kepada CLSD UGM, pemateri, peserta dan semua pihak yang terlibat dalam acara Summer Course ini. Rahmat berharap acara yang menarik dan inspiratif ini bisa dilaksanakan kembali di waktu yang akan datang.