Arsip:

Rilis

Perkembangan Etik dalam Penelitian Psikologi

Komisi Etik Fakultas Psikologi bersama dengan Program Doktor Ilmu Psikologi UGM mengadakan acara Seminar Etika Penelitian pada hari Selasa (11/1). Acara seminar ini dibagi menjadi dua sesi dengan dua pembicara yang berbeda. Untuk sesi pertama. Hadir Prof. Dra. RA Yayi Suryo Prabandari, sementara pada sesi kedua sebagai pemateri hadir Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D Psikolog dengan topik “Pertimbangan Etik dalam Penelitian Psikologi”. “Pada siang hari ini, saya akan memberikan bahasan mengenai pengantar dan mengapa perlu telaah etik dalam penelitian psikologi”, jelas Kusrohmaniah di awal materi. read more

Tasyakuran Dies Natalis ke-57 Fakultas Psikologi UGM

Senin (10/1) Fakultas psikologi UGM mengadakan acara Tasyakuran Dies Natalis ke-57 Fakultas Psikologi UGM. Acara ini merupakan puncak acara dari rangkaian acara peringatan hari ulang tahun berdirinya Fakultas Psikologi UGM yang sudah dilaksanakan sejak tanggal 12 November 2021. Acara ini dilaksanakan secara bauran; luring dan daring. Acara Tasyakuran ini juga dapat disaksikan secara live melalui Youtube Kanal Pengetahuna Psikologi UGM.

Rapat Senat Fakultas Psikologi UGM 2022

Senin (10/1) Fakulas Psikologi UGM mengadakan Rapat Senat Terbuka 2022. Dalam rapat ini Dewan Senat Fakutas Psikologi UGM melaksanakan laporan tahunan Ketua Senat dan Dekan Fakultas Psikologi UGM. Rapat ini dilaksanakan secara bauran; luring dari Fakultas Psikologi UGM dan daring. Acara ini juga disiarkan langsung melalui YouTube Kanal Pengetahuan Psikologi UGM.

Acara berlangsung pada Pukul 08.30 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Acara dihadiri oleh Anggota Senat Fakultas, beberapa dosen dan guru besar fakultas, tenaga kependidikan, beberapa perwakilan mahasiswa UGM dan tamu undangan.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada. Setelah membuka acara, Ketua Senat Fakultas Psikologi UGM, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., menyampaikan laporan tahunan Senat Fakultas Psikologi UGM periode 2021. Subandi memaparkan 16 rapat dan keputusan yang telah dilaksanakan Dewan Senat mulai 8 Januari hingga 23 Desember 2021 secara kronologis. Rincian adalah 6 kali rapat pleno, 8 kali rapat khusus, dan 2 kali rapat terbuka.

Pada sesi berikutnya dilanjutkan dengan pidato laporan tahunan Dekan yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. Pada pidatonya Rahmat menjelaskan mulai visi Fakultas Psikologi UGM hingga pencapaian akademik dan non akademik Fakultas Psikologi UGM selama satu tahun.

“Visi Fakultas Psikologi tahun 2017 sampai 2022 adalah menjadi lembaga pendidikan yang mengembangkan psikologi sebagai hub science yang memimpin kemajuan ilmu keperilakuan dengan fokus kesiapan mental dan harmoni masyarakat untuk keunggulan bangsa berdasarkan nilai-nilai budaya dan Pancasila. Visi ini sangat relevan dengan situasi kehidupan masyarakat termasuk di dalamnya kehidupan di keluarga besar Fakultas Psikologi UGM,” ucap Rahmat membuka pidatonya.

Setelah itu pidato dilanjutkan membahas tentang aktivitas akademik dalam penyesuainnya menghadapi pandemi COVID-19. Selain itu Rahmat juga menjelaskan tentang peran aktif Fakultas Psikologi untuk masyarakat pada saat pandemi COVID-19 dan juga pergantian kepengurusan Fakultas Psikologi UGM di penghujung tahun 2021 yang berlangsung lancar dan harmonis.

“Dekanat periode baru mendapatkan dukungan penuh dari tim dekanat periode 2016-2021. Dekanat periode 2021 sampai 2026 mewarisi bekal yang sangat baik untuk meneruskan upaya mewujudkan visi Fakultas Psiukologi UGM,” terang Rahmat.

Rahmat melanjutkan dengan pemaparan profil akademik dan kemahasiswaan. Pada paparannya Rahmat juga menjelaskan tentang penelitian dan publikasi, pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana yang berhasil dibangun di Fakultas Psikologi UGM selama satu tahun terakhir.

Rapat senat Fakultas Psikologi UGM yang dilaksanakan di awal tahun 2022 ini juga dihadiri oleh Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU., ASEAN Eng. Dalam kesempatan ini Panut turut memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Fakultas Psikologi UGM.

“Pada kesempatan yang berbahagia ini saya atas nama UGM dan juga atas nama saya pribadi mengucapkan selamat Dies Natalis ke-57 Fakultas Psikologi yang tahun ini mengambil tema Reconnecting and Co-creating. Semoga di usianya yang ke-57 ini Fakultas Psikologi semakin maju dan makin jaya serta lebih berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ucapnya sembari berterima kasih kepada semua civitas akademika dan pendiri Fakultas Psikologi UGM atas dedikasinya memajukan Fakultas Psikologi UGM mulai awal berdiri hingga saat ini.

 

Fakultas Psikologi UGM Sampaikan Rekomendasi Kebijakan Mitigasi Pandemi Covid-19

Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir yang membawa dampak pada berbagai sektor kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga masyarakat. Berbagai upaya dan terobosan telah dilakukan pemerintah untuk meminimalkan dampak negatif dari pandemi seperti membuat kebijakan terkait kenormalan baru melalui berbagai regulasi dan aturan.

Kenormalan baru membawa angin segar dalam meredakan arus kasus Covid-19 di masyarakat. Melalui kebijakan protokol kesehatan yang ketat, pembatasan sosial dan wilayah, serta keberadaan satgas covid terbukti efektif mengatasi dampak dari penyebaran Covid-19. Namun, di sisi lain muncul sejumlah dampak negatif dari kenormalan baru. Beberapa studi menunjukkan dampak negatif ini melahirkan perilaku individu yang tidak sehat, seperti kecemasan, kemarahan, kesedihan, efikasi diri lemah, mudah tersulut emosi, kecanduan gadget semakin marak, dan lain-lain.

“Perilaku ini terjadi tidak hanya terjadi di lingkungan kecil keluarga dan interaksi personal, namun juga mencakup komunitas yang lebih besar seperti tempat kerja, sekolah, dan masyarakat umum,” ungkap Dosen Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, Ph.D., Psikolog, dalam rilis yang diterima Senin (10/1).

Diana mengatakan belajar dari pandemi Flu Spanyol bayi-bayi yang dikandung dan dilahirkan pada masa pandemi ditemukan mengalami risiko kesehatan dan disabilitas yang lebih tinggi. Sebab, bayi-bayi tersebut melalui tahap perkembangan krusialnya ketika sistem kesehatan sedang difokuskan pada penanggulangan pandemi. Kondisi tersebut berimbas pada kurangnya perhatian terhadap aspek kesehatan dan sektor kehidupan lainnya.

Oleh karenanya, dalam situasi ini kajian psikologi menjadi penting untuk dilakukan secara mendalam dan cermat untuk memberikan masukan analisis situasi dan mitigasi dampak jangka menengah dan jangka panjang pandemi Covid-19. Sebagai langkah antisipasi, Diana dan tim dari Fakultas Psikologi UGM yaitu Indrayanti, Ph.D., Psikolog, Elga Andriana, M.Ed., Ph.D.,Hanifah Nurul Fatimah, M.Sc., Haiyun Nisa, M.Psi., Psikolog, Harlina Nurtjahyanti, M.Psi., Psikolog, dan Annisa Reginasari, M.A., merumuskan rekomendasi kebijakan dalam sebuah policy brief.

Diana menyampaikan policy brief tersebut disusun dalam rangka peringatan ulang tahun ke-57 Fakultas Psikologi UGM untuk mendukung upaya mitigasi dampak menengah dan panjang dari pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Rekomendasi disusun menggunakan pendekatan rentang perkembangan manusia yang berinteraksi dengan tiga sektor penting dalam sistem sosial yaitu keluarga, sekolah, dan tempat kerja.

Rekomendasi kebijakan jangka menengah disusun untuk keluarga, pendidikan, tempat kerja dan masyarakat. Untuk keluarga, orang tua diharapkan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan lima tahun pertama maksimal bagi anak yang lahir di masa pandemi. Selain itu, juga memiliki keterampilan mendampingi anak dalam mengakses konten digital sehingga proses penggunaannya menjadi tepat sasaran.

Lalu, dalam sistem pendidikan perlu dilakukan penyusunan ragam kurikulum yang sesuai untuk metode pembelajaran jarak jauh, tatap muka maupun bauran antara keduanya. Hal ini tentunya perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas guru sehingga mampu merancang pembelajaran dengan tepat.

Berikutnya di tempat kerja penting untuk menyusun rancangan pedoman bekerja di era kenormalan baru. Salah satunya yang memuat peningkatan kapasitas kesiapan psikologis para pekerja dan implementasi kebijakan ramah keluarga. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mewujudkan lingkungan kerja yang sehat dan tercapainya kesejahteraan psikologis para pekerja.

Selanjutnya pada tataran masyarakat umum. Perlu dilakukan identifikasi potensi antar generasi yang dapat meningkatkan kesehatan fisik dan jiwa seluruh komponen yang terlibat, baik anak, remaja, dewasa atau lansia agar menjadi lebih berdaya dalam menghadapi pandemi.

Sementara itu rekomendasi jangka panjang yang ditawarkan adalah melakukan penguatan sistem pelayanan kesehatan jiwa di layanan primer yaitu puskesmas. Disamping itu, juga penguatan sistem kesehatan jiwa berbasis sekolah. Tak kalah penting penguatan keluarga agar memiliki skill dan resiliensi dalam menghadapi berbagai tekanan dari pandemi Covid-19.

“Penyusunan program kebijakan dan strategi yang mendukung kebutuhan yang berbeda dari para pekerja dan adanya program mentoring psikologis sebagai upaya family learning bagi orang tua yang bekerja sehingga dapat berperan dengan maksimal,” tambahnya.

sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/22161-fakultas-psikologi-ugm-sampaikan-rekomendasi-kebijakan-mitigasi-pandemi-covid-19

Psychology Week Hari ke-3

Kamis (6/1) Fakultas Psikologi UGM kembali melaksanakan rangkaian acara Psychology Week. Kegiatan ini merupakan hari ketiga rangkaian acara pekan psikologi dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM. Pada peringatan hari ulang tahun yang ke-57 ini Fakultas Psikologi UGM mengambil tema “Reconnecting and Co-Creating”.

Acara berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Acara ini dilaksanakan secara luring dan daring yang dapat diikuti melalui Youtube Kanal Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM.

Pada acara hari ketiga ini dilaksanakan lima sesi kegiatan. Tiga diantaranya adalah launching buku. Sedangkan dua lainnya adalah presentasi penelitian big data dan ditutup oleh webinar Keluarga Alumni Psikologi Gadjah Mada (Kapsigama).

Pada sesi pertama yang yang dimulai pukul 08.00 WIB diadakan launching buku yang berjudul Metode Pengasuhan Anak karya Dr. Mohammad Mahpur, M.Si. Buku ini merupakan hasil studi Disertasi Mahpur pada saat menjalani studi doktoral pada Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM di bawah bimbingan promotor Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D. Psikolog.

Pada acara bedah buku yang dimoderatori oleh Lu’luatul Chizanah, S.Psi., M.A. ini Mahpur menjelaskan proses penelitian doktoralnya yang dilakukan di sebuah tempat yang dijuluki “Desa Idiot”. Dengan pendekatan indigenous psychology, Mahpur mampu mengidentifikasi permasalahan yang terjadi hingga memberikan solusi-solusi yang berakar pada kearifan lokal setempat.

Pada sesi kedua yang dimulai pukul 10.00 WIB kembali diadakan launching buku yang berjudul Psikosis Awal (Deteksi dan Intervensi Dini) karya Prof. Drs. Subandi M.A., Ph.D & Citra Ayi Safitri M.Psi., Psikolog. Acara ini dipandu oleh pembawa acara Dr. Phil. Edo Sebastian Jaya, M.Psi.

Buku Psikosis Awal ini sangat penting bagi perkembangan keilmuan tentang studi pada psikosis di usia muda. Karena dirancang multiperspektif keilmuan yaitu psikiatri dan psikologi, maka launching buku ini juga mendatangkan beberapa pengulas antara lain Prof. Byron J. Good, Ph.D, Dr. dr. Rusdi Maslim, SpKJ., M.Kes., Dr. dr. Irmansyah, SpKJ(K), Psychiatrist, dr. Natalingrum Sukmarini, SpKJ(K), M.Kes., Psychiatrist, dan Herlini Utari., M.Psi., Psikolog.

Pada sesi ketiga yang dimulai pukul 13.00 WIB acara ini diisi dengan presentasi penelitian  Big Data yang sedang dilaksanakan oleh Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP). Penelitian yang pertama adalah “Changing Risk Perception in the COVID-19 Pandemic: A Sentiment Analysis of Two Lockdown” yang disampaikan oleh Nuel Bagus Cahyanto. Sedangkan penelitian yang kedua adalah Koping selama Pandemi: Analisis Twitter mengenai Respon Psikososial terhadap Dampak COVID-19 di Indonesia yang disampaikan oleh Yasmin Nur Afifah.

Selanjutnya pada sesi keempat diisi oleh acara webinar dengan tema “Psikologi Agama dan Spiritualitas dalam Konteks Masyarakat Indonesia. Dipandu oleh moderator Lu’luatul Chizanah, S.Psi., M.A., pemateri pada sesi ini Prof. Drs. Subandi M.A., Ph.D. menjelaskan tentang perkembangan penelitian teoretis dan empiris tentang agama dan spiritualitas dalam konteks keilmuan psikologi. Selain itu Subandi juga membahas 4 judul buku bertemakan psikologi agama yaitu Psikologi Dzikir: Studi Fenomenologi Pengalaman Transformasi Religius (2009), Psikologi Agama dan Kesehatan Mental (2012), Terapi Ruqyah dan Kesadaran yang Berubah (altered States of Consciousness)(2020), dan yang terbaru yaitu Menuju Indonesia Maju 2045.

Acara Psychology Week pada hari ke-3 ini ditutup dengan sesi ke-5 yaitu acara dari Keluarga Alumni Psikologi Gadjah Mada (KAPSIGAMA) yaitu webinar dengan tajuk “KAPSIGAMA Update”. Webinar ini membahas tentang kegiatan Kapsigama hingga tahun 2022 ini.

Hari Terakhir Penyelenggaraan Psychology Week: Berkarier dan Berprestasi

Masih dalam rangkaian perayaan Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM ke-57, Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan Psychology Week hari terakhir pada Jumat (7/1). Acara pada hari terakhir juga diselenggarakan dalam dua metode, tidak hanya daring tetapi juga luring. Acara hari terakhir dari Psychology Week ini dimulai pada pukul 08.00 WIB dan diisi dengan agenda dari Career Center Fakultas Psikologi UGM.

Career Center merupakan salah satu unit di Fakultas Psikologi UGM. “Career Center dibandingkan unit lainnya adalah unit yang paling muda dan paling baru serta memiliki visi mempersiapkan lulusan Fakultas Psikologi UGM yang mempunyai kompetensi karier, berwawasan global, serta mampu berkontribusi terhadap kemajuan bangsa”, jelas Lu’luatul Chizanah, S.Psi., M.A.

Selanjutnya pada pukul 10.00 dilanjutkan dengan acara dari Center for Life-Span Development (CLSD). Acara yang disajikan oleh CLSD berkaitan dengan “Showcase Modul Perkembangan Memori dan Keterampilan Eksekutif Bayi: Sebuah Screening oleh Ibu”. Untuk memeriksa memori dan keterampilan eksekutif pada bayi dapat dilakukan menggunakan berbagai macam permainan, seperti A bukan B, menyundul kotak, memindahkan benda, dan menginjak permainan karet.

Kemudian acara dilanjutkan oleh Unit Konsultasi Psikologi (UKP) yang menyajikan Showcase pada pukul 13.00. Acara showcase yang diselenggarakan oleh UKP mengusung topik UKP Bersinergi UKP Berbagi: “Merangkul Emosi Anak”. Tujuan dari merangkul emosi anak bukan untuk membuat anak merasa senang ketika sedih atau menghilangkan kesedihan yang dirasakan oleh anak, namun tujuan dari merangkul emosi anak adalah mengizinkan anak untuk merasakan tiap emosi secara aman.

Pada pukul 15.00 acara masih dilanjutkan dengan Peluncuran Buku Karya Civitas Akademika Fakultas Psikologi UGM. Acara tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., dan Lu’luatul Chizanah, S.Psi., M.A sebagai editor. Acara pun masih dilanjutkan dengan Malam Syukuran Mahasiswa Berprestasi 2021 secara luring yang dimulai pada pukul 19.00 WIB. Acara tersebut merupakan penutup dari rangkaian Psychology Week sebagai perayaan Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM ke-57.

Photo by Guille Álvarez on Unsplash

Psychology Week Hari Kedua: Galeri Kontribusi Fakultas Psikologi UGM dalam Pengembangan Manusia

Fakultas Psikologi UGM pada Rabu (5/1) melanjutkan rangkaian acara Psychology Week hari kedua. Acara-acara yang diselenggarakan hari ini termasuk dalam rangkaian acara Psychology Week sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM ke-57. Berbagai acara diselenggarakan menggunakan metode daring melalui YouTube Kanal Pengetahuan Psikologi UGM dan Zoom.

Acara diawali dengan Selayang Pandang dari Unit Pengembangan Kualitas Manusia atau bisa disebut dengan UPKM yang dimulai pada pukul 08.00 pagi. Acara yang disiarkan melalui YouTube Kanal Pengetahuan Psikologi UGM memperkenalkan apa itu UPKM dan apa saja kegiatan yang dilakukan oleh UPKM. Memiliki visi menjadi lembaga layanan psikologis yang mampu menciptakan SDM Indonesia yang memiliki kematangan psikologis, keunggulan kompetitif, dan berdaya guna bagi lingkungan kerja serta masyarakat pada umumnya. “Sejatinya, rekrutmen atau bisa disebut sebagai proses menarik karyawan adalah sebuah usaha untuk memastikan munculnya kecocokan-kecocokan yang kita miliki sebanyak mungkin dengan kebutuhan-kebutuhan organisasi”, jelas Indrayanti, M.Si., Ph.D., Psikolog selaku Kepala UPKM.

Kemudian dilanjutkan dengan sesi berikutnya oleh Prof. Drs. Koentjoro, M.BSc., Ph.D., Psikolog melalui Zoom. Koentjoro pada sesi tersebut menyampaikan tentang kebencanaan sekaligus meluncurkan buku dengan judul “Ragam Ulas Kebencanaan”. Sesi tersebut dimulai pada pukul 10.00 WIB.

Selanjutnya, pada pukul 13.00 dilanjutkan dengan acara Showcase Video Karya Mahasiswa Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Anak dan Remaja Berkebutuhan Khusus. Acara tersebut disiarkan melalui YouTube Kanal Pengetahuan Psikologi UGM dengan menampilkan berbagai video berdurasi 5-12 menit. Video-video tersebut menjelaskan berbagai materi yang dipelajari oleh mahasiswa melalui Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Anak dan Remaja Berkebutuhan Khusus, seperti, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), disleksia, termasuk bagaimana mencegah diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

Acara masih berlanjut pada pukul 15.00 dengan presentasi tim mahasiswa PIMNAS Fakultas Psikologi UGM dan ditutup dengan acara dari Center for Life-Span Development (CLSD) yang dimulai pada pukul 19.00. “Salah satu agenda unit kami adalah Project COMPRE (Contemporary Methods and Community-led Life-Span Development Reseacrh), yang terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu Scoping Review dan Kelas COMPRE”, jelas Lisa Sunaryo Putri, S.Psi., selaku Asisten Riset di CLSD.

 

 

 

Photo by Antonio Janeski on Unsplash

Kuliah Online PMH: Waspada Sexual Grooming

Fakultas Psikologi UGM bekerjasama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) mengadakan Kuliah Online sesi terakhir di tahun 2021 dengan topik “Waspada Sexual Grooming”. Topik kali ini disampaikan oleh Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog dan Wirdatul Anis, M.Psi., Psikolog. “Sebelum kita mengenal jauh tentang sexual grooming, sebenarnya grooming itu maknanya positif, yaitu mempersiapkan supaya nanti hasilnya lebih siap atau baik”, ungkap Nurul di awal sesi acara.

Akan tetapi, istilah grooming menjadi suatu hal yang menyedihkan karena seiring berjalannya waktu menjadi istilah yang harus diwaspadai. Menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children, grooming dapat dimaknai sebagai upaya seseorang membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan anak serta remaja yang nantinya dapat menjadi sarana untuk memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan. “Jika diperhatikan dari definisinya, memang ada kata kunci mempersiapkan. Artinya, memang segala hal yang dilakukan untuk mempersiapkan anak atau remaja atau seseorang menjadi target”, terang Nurul.

Dengan demikian, sexual grooming memang sebuah awal untuk mempersiapkan seseorang agar siap menerima perilaku pelecehan seksual. Oleh karena itu, tak jarang korban pelecehan seksual merasa tidak apa-apa dan bingung kenapa orang lain menganggap bahwa dirinya adalah seorang korban dari kasus pelecehan seksual. Perasaan tidak apa-apa dan merasa baik-baik saja yang dirasakan oleh korban pelecehan seksual adalah efek ekstrim yang ditimbulkan oleh sexual grooming.

Sexual grooming bukan berarti tidak dapat dicegah. Ada banyak hal yang dapat dilakukan yang bertujuan untuk menjaga orang-orang sekitar kita dari sexual grooming. Pertama dan utama adalah kesadaran orang tua yang berkaitan dengan potensi bahaya termasuk edukasi tentang seksual. “Pada masa seperti ini, orang tua tidak bisa terus menerus menjaga anak supaya tetap steril. Hal yang bisa dilakukan orang tua saat ini adalah menguatkan imun mereka. Supaya anak-anak tahu bahwa ketika ada ajaran yang bertentangan dengan yang disampaikan oleh orang tua, maka anak akan terbuka dalam menyampaikan”, jelas Wirdatul.

 

Photo by Eric Ward on Unsplash

Arah Kebijakan Kesehatan Mental Indonesia

Rabu (22/12) Center for Public Mental Health (CPMH) UGM bekerjasama dengan Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) mengadakan webinar kesehatan jiwa dengan tajuk “Arah Kebijakan Mental Indonesia”. Acara ini membahas tentang perjalanan kebijakan yang telah diambil pemerintah Indonesia untuk menjamin kesehatan jiwa masyarakat. Dalam acara ini juga dibahas bagaimana implementasi dari kebijakan itu di lapangan dari berbagai perspektif.

Acara ini berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Acara ini diikuti oleh 290 orang peserta yang terdiri dari akademisi, aktivis dan tenaga kesehatan jiwa di seluruh Indonesia.

Dimoderatori oleh Adelia Khrisna Putri, S.Psi., M.Si., dosen Fakultas Psikologi UGM yang juga aktif meneliti layanan kesehatan jiwa di Indonesia, acara ini berjalan lancar dan interaktif. Beberapa peserta diberi kesempatan untuk bertanya kepada pemateri.

Acara dibuka dengan kata sambutan yang disampaiakn oleh Inang Winarno, Direktur Eksekutif Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS). Winarno berterima kasih kepada para narasumber yang bersedia hadir pada acara ini dan memberikan materi tentang layanan kesehatan jiwa dari perspektif masing-masing. Menurut Winarno tema dalam acara ini penting karena layanan kesehatan jiwa menjadi kebutuhan mendesak bagi negara Indonesia terutama sekarang di saat pandemi.

“Seperti halnya pada saat COVID-19 ini ada banyak orang mengalami keguncangan psikis karena situasi yang sangant mengejutkan, munculnya pandemi yang sangat tiba-tiba dan berdampak sangat luas. Mungkin hal-hal seperti itu yang saya kira perlu antisipasi. Regulasi apa yang dibutuhkan agar ke depan arah kebijakan kesehatan mental Indonesia dapat membantu masyarakat untuk mengatasi (dan) mengurangi resiko atau prevalensi gangguan kesehatan jiwa di Indonesia,” terang Winarno.

Pemateri pertama, dr. Celestinus Eigya Munthe, Sp.KJ., M. Kes., Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA menyampaikan materi dengan judul Arah Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian kesehatan jiwa di Indonesia. Dalam paparannya Celestinus banyak menerangkan tentang perkembangan undang-undang kesehatan jiwa sebagai dasar hukum layanan kesehatan jiwa pemerintah Indonesia sekaligus upaya-upaya pemerintah untuk mempersiapkan generasi sehat dan lebih baik di masa yang akan datang.

Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ ,Secretary General Asian Federation of Psychiatric Association, menjadi pembicara ke dua pada kegiatan ini. Pada pemaparannya, psikolog yang juga pernah menjadi anggota DPR ini menceritakan perjuangannya mengajukan rancangan undang-undang kesehatan jiwa mulai tahun 2009 hingga disahkan pada tahun 2014. Selain itu Nova juga membuat kajian akademik tentang kesehatan jiwa, ikut aktif turut serta dalam usaha pembebasan pasung, dan juga membuat model project  berupa mobile mental health service, yaitu dua unit mobil ambulans untuk layanan kesehatan jiwa masyarakat.

Bagus Utomo, Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia menjadi pemateri ketiga. Penggiat sosial yang concern memperjuangkan hak-hak ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) ini menyampaikan presentasi tentang kebijakan kesehatan jiwa di Indonesia dari perspektif konsumen. Kurangnya persediaan obat, belum meratanya layanan kesehatan jiwa di daerah-daerah, dan belum berkelanjutannya layanan kesehatan bagi ODGJ adalah sedikit dari beberapa permasalahan lainnya yang tentunya menjadi masukan bagi pemerintah untuk penyusunan kebijakan kesehatan jiwa yang lebih baik.

Acara ditutup dengan presentasi dari Dr. Diana Setiyawati, M.HSc., Ph.D., dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Ketua Peneliti CPMH Psikologi UGM. Pada presentasinya Diana memaparkan tentang hasil-hasil riset akademik terkini tentang literasi kesehatan jiwa. Dari hasil-hasil riset tersebut Diana merangkum beberapa poin yang bisa dijadikan rekomendasi untuk pemerintah dalam menyusun rancangan kebijakan layanan kesehatan jiwa di masa yang akan datang.

Kuliah Online CPMH: Kesepian dan Kesehatan Mental

Jumat (17/12) Fakultas Psikologi UGM bekerjasama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) mengadakan Kuliah Online yang mengangkat topik “Kesepian dan Kesehatan Mental”. Topik tersebut dibawakan oleh dua narasumber yang sudah sering mengisi acara Kuliah Online CPMH, yaitu Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog dan Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog. “Temanya sebenarnya sudah banyak dibahas oleh banyak pihak, apalagi kalau kita berselancar di Instagram”, ujar Nurul di awal acara.

Alasan topik kesepian menjadi pembahasan di acara Kuliah Online kali ini karena kesepian bukan hal yang sepele meskipun bukan termasuk ke dalam gangguan mental. Akan tetapi, kesepian jika tidak dicermati secara serius tidak menutup kemungkinan akan berujung pada masalah kesehatan mental. “Kesepian dan kesehatan mental adalah dua hal yang saling berkaitan”, jelas Nurul.

Kesepian dapat mengganggu kesehatan mental dan masalah kesehatan mental menyebabkan kesepian. Sudah banyak penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa kesepian dan kesehatan mental memiliki keterkaitan satu sama lain. Kesepian selalu dikaitkan dengan kualitas tidur yang buruk, depresi, gangguan kepribadian, sampai semakin tinggi kesepian yang dirasakan, maka semakin rendah kualitas hidup seseorang.

Kesepian, terutama di masa pandemi ini menjadi fenomena yang sering muncul, “bahkan seorang introver pun merasa kesepian di tengah pandemi ini karena bagaimana pun juga setiap orang membutuhkan hal dan keinginan untuk berkembang”, ungkap Nurul.

Ada banyak fenomena kesepian di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang melaporkan bahwa mahasiswa berusia 19-22 tahun merasakan kesepian sebagai sebuah konsekuensi selama isolasi di masa pandemi.

Menurut American Psychological Association atau APA, kesepian dapat diartikan sebagai ketidaknyamanan atau kegelisahan yang disebabkan oleh kondisi kesepian atau persepsi individu bahwa dirinya sendiri atau menyendiri pada tingkat afektif dan kognitif. “Jadi memang perasaan kesepian berkaitan dengan persepsi seseorang tentang hubungan yang mereka miliki”, terang Wirdatul. Hal tersebut yang dapat menjelaskan fenomena dimana seseorang merasa kesepian meskipun memiliki banyak teman di sekitarnya.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk dapat mengatasi kesepian, seperti merekonstruksi pikiran negatif di balik perasaan kesepian, meningkatkan keterampilan sosial, meningkatkan dukungan sosial, memperbanyak interaksi, termasuk nostalgia. “Ini hanya sebuah gambaran saja, jika teman-teman memiliki cara lain di luar apa yang sudah dijelaskan dalam mengatasi kesepian, maka itu tidak masalah”, jelas Nurul.

 

 

Photo by Pawel Czerwinski on Unsplash