Arsip:

Rilis

Penelitian Representasi Kognitif – Sosial Tentang Pajak Antarkan Ika Rahma Susilawati Raih Gelar Doktor

Ika Rahma Susilawati, S.Psi., M.Psi., dosen Departemen Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya dinyatakan lulus sebagai doktor ke-5769 dari Universitas Gadjah Mada. Disertasi berjudul Tax in the Minds: Representasi Kognitif – Sosial Tentang Pajak berhasil mengantarkan Ika Rahma Susilawati meraih gelar doktor dari Fakultas Psikologi UGM pada ujian terbuka Program Studi Doktor Ilmu Psikologi, Senin (30/1). read more

Yunita Sari Raih Gelar Doktor Usai Teliti Ketahanan Psikologis Keluarga Sunda

Yunita Sari, S.Psi., M.Psi., dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung, sukses meraih gelar doktor dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada ujian terbuka Program Studi Doktor Ilmu Psikologi, Selasa (24/1). Disertasi berjudul Konsep dan Dinamika Ketahanan Psikologis Keluarga Sunda berhasil mengantarkan Yunita Sari menjadi doktor ke-5715 yang lulus dari UGM.  read more

Fakultas Psikologi UGM Gelar Tasyakuran Dies Natalis ke-58

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Tasyakuran Dies Natalis ke-58, Senin (9/1). Puncak peringatan berdirinya Fakultas Psikologi UGM ini sekaligus menutup seluruh rangkaian dies natalis yang dimulai sejak 58 hari sebelumnya, setelah resmi dibuka pada Jumat (11/11/2022).

CLSD UGM Beri Pelatihan bagi Kader BKB Prambanan

Center for Life-Span Development (CLSD) UGM menyelenggarakan kegiatan pelatihan kader Bina Keluarga Balita (BKB) dengan topik “Mendampingi Perkembangan Sosio Emosional Anak Usia Dini” dalam rangka perintisan desa binaan, Jumat (25/11) dan Sabtu (26/11). Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Budi Pekerti, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman. Kegiatan diikuti 32 orang peserta yang terdiri dari kader BKB dan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di lingkungan Kapanewon Prambanan. Turut hadir pula perwakilan dari Kapanewon Prambanan dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY pada pelatihan ini. read more

Fakultas Psikologi UGM Terima Kunjungan SMA Triguna Jakarta

 

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan siswa-siswi kelas XII IPS SMA Triguna Jakarta di auditorium G-100, rabu (29/11). Kegiatan diawali dengan pemutaran video mengenai Fakultas Psikologi UGM dilanjutkan dengan pembukaan oleh Iwan Suryanto sebagai pembawa acara. Iwan menyapa seluruh siswa-siswi peserta kunjungan dan guru pendamping. read more

KDM Promovendus Club: Food Choice and Sugar Intake

Promovendus Club Program Doktor Ilmu Psikologi UGM kembali menyelenggarakan acara Kolokium Dua Mingguan (KDM) dengan mengangkat topik Food Choice and Sugar Intake: Promoting Healthy Eating in the Obesogenic Environment through Priming and Nudging Methods” (20/11). Topik tersebut dibahas oleh pembicara utama, yaitu Ana Undarwati Ph.D yang merupakan dosen dan peneliti di Universitas Negeri Semarang. Tujuan diadakannya acara ini adalah menjadi wadah informasi dan berbagi terkait penelitian-penelitian yang telah dilakukan dengan menghadirkan narasumber-narasumber berkompeten. Selain itu, kegiatan KDM kali ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM ke-58.

“Terima kasih, pagi ini pesertanya cukup banyak, luar biasa. Walaupun secara daring, kami dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, khususnya Program Studi Doktor Ilmu Psikologi mengucapkan salam dan terima kasih atas antusiasme Bapak dan Ibu semua hadir dalam acara pagi hari ini”, sapa Edilburga … selaku Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi.

Pada awal acara, Ana mengajukan pertanyaan kepada peserta mengenai diet, “Apakah Bapak atau Ibu sedang menjalani program diet? Tidak apa-apa dijawab dalam hati karena sebenarnya pertanyaan ini juga sensitif buat saya”. Ana mengaku bahwa bertahun-tahun menjalani program diet dan tidak berhasil. “Sehingga dari trauma diet itulah saya mempunya ide untuk mengulik-ulik tentang ini (diet)”, ungkap Ana.

Menurut Ana, tiap-tiap dari individu pasti pernah memiliki pemikiran untuk mengatur pola makannya. “Saya akan memulai dengan sharing pengalaman diet”. Ana bercerita bahwa ia pernah memulai untuk berdiet selama 6 tahun setelah melahirkan, tetapi tidak ada hasil yang signifikan. Padahal masalah diet ini adalah masalah jangka panjang yang nantinya jika tidak diatur akan menyebabkan kelebihan berat badan bahkan obesitas.

“Jadi ada yang bilang bahwa obesitas adalah silent killer. Kalau sekarang makan enak seperti kue, mungkin efeknya tidak akan langsung saat itu juga. Akan tetapi, ketika itu (makan kue) menjadi kebiasaan, maka akan berefek jangka panjang”. Ditambah faktor lingkungan juga menjadi pendukung atau justru menghambat dari program diet atau bisa disebut dengan gap attention dan behavior. Bahkan bisa dibilang, lingkungan saat ini adalah obesogenic environment yang artinya akses dan ketersediaan sangat mudah, trend makanan yang cepat berganti, dihadapkan dengan berbagai pilihan makanan yang fatty dan dengan porsi yang besar.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Ana, dapat didapati informasi bahwa the fake food (study 1) provided evidence than non-conscious cognitive routes intervention (i.e., implicit priming) potentially works better for individuals with a higher BMI. Nudging is more effectively applied in an individual context compared to when in a group context (sweetened tea experiment study: study 2). Combining nudging and competition interventions potentially reach a saturation effect.

 

Penulis: Dzikria

Photo by Myriam Zilles on Unsplash

Webinar UKP: Dear Little Me, It’s not Your Fault

Unit Konsultasi Psikologi (UKP) pada hari Jumat (18/11) mengadakan acara Webinar dengan judul “Dear Little Me, It’s not Your Fault”. Acara tersebut dilaksanakan secara daring dengan Amalia Nur Aisyah Tuasikal, Psikolog sebagai moderator. Sementara untuk narasumber dibersamai oleh Annisa Poedji Pratiwi, Psikolog dan Ernawati Widyaningsih, Psikolog. Harapannya, melalui acara ini peserta yang mengikuti mendapatkan kesempatan belajar bersama lebih dalam tentang hubungan antara innerchild dan juga kejadian trauma yang pernah dialami di masa lalu.

Sebelum menuju pada acara inti, terlebih dahulu hadir Restu Tri Handoyo, Ph.D Psikolog selaku kepala UKP untuk memberikan sambutan. “Mungkin yang perlu saya sampaikan bahwa acara hari ini adalah upaya UKP Fakultas Psikologi UGM untuk memberikan lebih banyak manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Jadi supaya UKP tidak hanya miliki civitas akademika UGM ataupun Fakultas Psikologi, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat umum”.

Setelah Restu memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi pertama yang disampaikan oleh Annisa Poedji Pratiwi, Psikolog. Pada sesi ini Annisa menjelaskan tentang hubungan antara trauma dengan innerchild yang lahir dari Adverse Childhood Experiences (ACEs). Selain itu, innerchild juga dapat dipahami sebagai bagian dari diri yang memiliki cara berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak “kanak-kanak” di dalam diri dewasa. “Jadi ada nih si kecil yang cara berpikirnya, merasanya, bersikapnya, bertindaknya itu adalah kanak-kanak padahal sudah dewasa”, terang Annisa.

“Bahwa innerchild itu bersifat netral dan ketika innerchild ini sehat, justru kehadiran dan keberadaan innerchild di dalam diri kita bisa memberdayakan diri kita untuk bertumbuh menjadi pribadi dewasa yang lebih optimal”. Innerchild yang sehat dan memberdayakan terdiri dari rasa ingin tahu yang baik tentang hal-hal baru di sekitar kita, spontan & bebas mengeksplorasi hal-hal yang asing bagi diri, energetik, semangat, cerita, kreatif, fokus, dan asik ketika mengerjakan sesuatu.

Annisa juga menyampaikan bahwasanya jangan mengkambinghitamkan innerchild. “Innerchild itu netral temen-temen. “Dia” tidak salah apapun. “Dia” hanya ngasih tahu kita bahwa ada sesuatu di masa lalu yang perlu kita proses, yang perlu kita pulihkan agar innerchild kita bisa kembali sehat dan berdaya sehingga kita bisa tumbuh menjadi pribadi dewasa yang optimal”.

Lalu, bagaimana cara mengetahui innerchild? Hal itu disampaikan oleh Ernawati Widyaningsih, Psikolog pada sesi kedua. Pertama, cara untuk mengetahui innerchild adalah dengan menyadari. “Sadari pengalaman di masa lalu positif dan/ negatif. Pengalaman-pengalaman hidup kita tentunya beragam”, jelas Ernawati.

Kemudian, kenali respon yang tidak sesuai atau pemicu. Dapat berupa situasi, kondisi, atau siapa orang yang bisa menjadi pemicu atau keinginan terpendam serta kebutuhan. Lalu ambil tindakan dengan mengambil tanggung jawab. Hal tersebut berkaitan dengan perlu untuk melakukan sesuatu sekaligus sebagai bentuk mengekspresikan. Berikutnya asuh dan damping innerchild dengan cara memenuhi kebutuhan dan bersahabat. “Belajar bersahabat, bukan ketika kita tahu ada luka di dalam diri kita justru “menghajar” diri kita dengan keharusan-keharusan. Harusnya ini, harusnya itu”, terang Ernawati.

 

Photo by Annie Spratt on Unsplash