
Jumat (9/4) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada mengadakan acara Webinar yang bertajuk “Tips Makan Sehat Pasca Vaksin”. Acara ini merupakan salah satu upaya sosialisasi tentang vaksin dan bagaimana seharusnya mengatur pola hidup pasca vaksin Covid-19.
Acara ini berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Acara ini diikuti oleh 80 orang yang terdiri dari dosen, karyawan, dan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Pemateri acara ini adalah dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A.K., Ph.D. Dipandu oleh pembawa acara Florentina Rusmawati, S.E., Mei memaparkan kondisi terkini tentang pandemi Covid 19 hingga perkembangan vaksin yang resmi digunakan oleh Pemerintah Indonesia.
Mei banyak memberikan tips-tips bagaimana seharusnya kita setelah menerima vaksin agar manfaat vaksin menjadi lebih maksimal. Dalam acara ini Mei juga mengajak semua peserta untuk menjadi agen yang secara aktif mempromosikan tentang pentingnya mengikuti vaksinasi untuk mencegah semakin meluasnya pandemi Covid-19 pada masyarakat.
Hal ini sangatlah penting karena walaupun proses vaksinasi di Indonesia sudah mulai berjalan, tren pandemi masih tetap naik. Masyarakat yang belum sepenuhnya bisa dan mau menaati protokol Kesehatan juga memberi andil menanjaknya angka persebaran pandemi Covid-19. Liburan panjang akhir Desember 2020 disinyalir menjadi titik balik naiknya lagi angka persebaran Covid-19.
“Kepatuhan (terhadap protokol kesehatan) itu menjadi hal yang sangat-sangat sulit ya kadang-kadang kalau kita tidak punya pengalaman sendiri (maka) nggak percaya” ujar Mei.
Mei selanjutnya menerangkan apa itu vaksin dan perbedaannya dengan imunisasi. Untuk kondisi sekarang yang paling efektif dilakukan adalah vaksinasi. Oleh sebab itu semua warga negara Indonesia yang memenuhi syarat wajib mengikuti vaksinasi. Selain itu efek dari vaksin lebih bertahan lama dibandingkan imunisasi.
“Sebetulnya vaksin bukan barang baru. Ini sudah ratusan tahun kita lihat ya, dan vaksin merupakan intervensi pencegahan yang paling efektif dibandingkan pencegahan yang lain” terang Mei.
Dalam kasus pandemi Covid-19 ini pemerintah Indonesia dan WHO sudah memperhitungkan bahwa jika minimal 70% orang Indonesia divaksin maka akan timbul herd imunity. Terjadi kekebalan kelompok sebagai perlindungan tidak langsung dari penyakit menular karena sebagian besar populasi yang sudah kebal terhadap infeksi virus menjadi pelindung bagi individu yang belum kebal virus atau belum divaksin.
“Nah ini makanya vaksinasi itu bukan hanya hak, tetapi kewajiban, karena dia harus melindungi (manusia di) kanan kirinya sehingga tidak sebagai sumber penularan” terang Mei.
Selanjutnya Mei juga menjelaskan tentang berbagai jenis vaksin yang digunakan di Indonesia. Salah satunya adalah jenis viral vector vaccine, yaitu di mana virus menjadi vektor atau pembawanya. Dalam viral vector vaccine, corona virus ini dimasukkan di dalam suatu virus yang sudah jinak dan dikenali oleh tubuh sehingga tubuh bisa membentuk kekebalan.
“Tetapi saat ini di Indonesia yang ada yang ini yang punyanya Sinovac yang juga Kerjasama dengan Bio Farma dan Astra Zeneca. Nah Astra Zeneca ini yang masuk di sini saat ini adalah bantuan WHO”.
Pada penjelasan selanjutnya Mei menekankan kepada penerima vaksin agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Menghindari kerumunan, menjaga kebersihan, dan mengurangi mobilitas. Selanjutnya Mei juga memberikan tips-tips praktis bagaimana mengoptimalkan reaksi vaksin. Beberapa diantaranya adalah menjaga kebugaran tubuh, aktivitas fisik, dan tidur yang cukup.
Acara berlangsung sangat interaktif. Peserta acara memanfaatkan sesi tanya jawab untuk memahami lebih dalam tentang vaksin dan bagaimana pola hidup sehat yang harus dilakukan setelahnya.
Pada akhir acara panitia juga mengumumkan hasil penilaian lomba poster mahasiswa psikologi. Juara pertama diraih oleh kelompok 15 dengan judul poster “Strategi Sehat, Bugar, dan Produktif Selama di Masa Pandemi”. Panitia juga memberikan hadiah saldo GoPay kepada penanya terbaik dan beberapa peserta yang beruntung.