Arsip:

kdm

KDM Promovendus Club: Food Choice and Sugar Intake

Promovendus Club Program Doktor Ilmu Psikologi UGM kembali menyelenggarakan acara Kolokium Dua Mingguan (KDM) dengan mengangkat topik Food Choice and Sugar Intake: Promoting Healthy Eating in the Obesogenic Environment through Priming and Nudging Methods” (20/11). Topik tersebut dibahas oleh pembicara utama, yaitu Ana Undarwati Ph.D yang merupakan dosen dan peneliti di Universitas Negeri Semarang. Tujuan diadakannya acara ini adalah menjadi wadah informasi dan berbagi terkait penelitian-penelitian yang telah dilakukan dengan menghadirkan narasumber-narasumber berkompeten. Selain itu, kegiatan KDM kali ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis Fakultas Psikologi UGM ke-58.

KDM Promovendus Club: Bagi-Bagi Pengalaman Riset Disertasi

Jumat (5/11) Promovendus Club Program Doktor Ilmu Psikologi mengadakan acara yang membahas tentang “Dissertation by Research: Bagi-Bagi Pengalaman”. Hadir dalam acara tersebut Bhina Patria, Dr.rer,pol dan Restu Tri Handoyo, Ph.D sebagai pembicara.

Restu mengawali sesi ini dengan membagi pengalamannya saat menempuh studi Doktor “mungkin apa yang saya sampaikan hari ini akan sangat personal. Tidak semuanya akan relevan dengan perjalanan teman-teman yang sudah atau sedang menempuh doktoral sekarang”, jelasnya. Perjalanan pendidikan doktoral seseorang memiliki ceritanya masing-masing dan bersifat subjektif. Tergantung kampus mana yang dijadikan tempat studi, tuntutan apa yang diterima, bahkan sampai pada konteks budaya. “Saya pribadi menganggap bahwa semua doktoral itu akan by research karena majoritynya dinilai berdasarkan disertasi, yaitu penelitian yang dilakukan”, jelas Restu.

Pada tahun pertama Restu menempuh Program Doktor di London yang dilakukan adalah melakukan Systematic Literature Review (SLR). Kemudian di lanjutkan dengan tahun kedua, yaitu penyusunan proposal disertasi. Setelah itu, pada tahun ketiga Restu melanjutkan dengan ethical clearance, “karena variabel yang saya ambil salah satunya tentang kelompok, maka tentang ethical clearance cukup panjang”. Bahkan sampai harus pulang ke Indonesia untuk mengurus izin di instansi terkait dimana Restu mengambil data.

“Melalui acara ini, saya ingin lebih memotivasi yang belum S3, berani S3,” lanjut Bhina pada sesi kedua. Berbeda dengan Restu, Bhina menceritakan pengalaman sekolah lanjutnya yang tidak dibiayai dari sebuah program beasiswa. Bhina mengaku, selama sekolah lanjutnya biaya ia tanggung sendiri hasil dari bekerja di International Centre for Higher Education Research Kassel  (INCHER-Kassel). Hal tersebut yang membuat Bhina sangat meyakini bahwa pendidikan S3 tetap bisa ditempuh meski tanpa beasiswa.

Selain menceritakan pengalaman sekolah doktornya, Bhina juga sempat menceritakan gelar unik yang dimilikinya, yaitu Dr.rer.pol. “Gelar doktor yang diberikan berdasarkan yang bersangkutan melakukan studi di fakultas apa. Fakultas atau institusi tersebut berada di bidang apa.”, jelas Bhina. Oleh karena itu, terdapat lulusan Psikologi yang mendapatkan gelar Dr.rer.pol jika melakukan studi di bawah Ilmu Ekonomi dan Sosial, namun ada pula yang mendapatkan gelar Dr.rer.nat. Semua gelar yang didapatkan tergantung tempat Fakultas/Institusi mana yang bersangkutan melakukan studi.

Dalam penyampaiannya, Bhina mengatakan bahwa pendidikan S3 bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki IQ tinggi dan genius. “Jangan sampai mengalami impostor syndrome, dimana seseorang meragukan diri sendiri”, jelas Bhina.

 

Photo by Dan Dimmock on Unsplash

KDM Sharing : Manajemen waktu dalam Studi Doktoral

Jumat (17/9) Prodi Doktor Ilmu Psikologi UGM kembali melaksanakan seri Kolokium Dua Mingguan (KDM). Tema yang diangkat kali ini adalah “Pembelajaran Profesional Guru mengenai Pengelolaan Perilaku Siswa dalam Kelas: Thesis Including Published Work”. Acara yang dilaksanakan secara rutin dua minggu sekali ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai universitas.

Pemateri pada acara ini adalah Pramesti Pradna Paramita, M.Ed.Psych.,Ph.D, Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Lulusan Program Doktor Psikologi Pendidikan, Monash University, Australia ini mempunyai expertise pada bidang asesmen psikologi dalam setting pendidikan dan pendidikan inklusi. Selain menerangkan tentang penelitiannya, Pramesthi juga banyak berbagi pengalaman dalam menyelesaikan studi doktoralnya.

Pada studi doktoralnya Pramesthi memilih area penelitian tentang behavior management. Tema penelitiannya adalah pembelajaran profesional guru mengenai pengelolaan perilaku siswa di dalam kelas.

“Jadi saya berfokus pada aspek spesifik dari manajemen kelas yaitu bagaimana guru dapat mengelola perilaku siswa di dalam kelas dengan pendekatan yang sifatnya proaktif,” terang Pramesthi.

Dalam mengambil pilihan untuk melanjutkan kuliah di S3 harus direncanakan secara matang. Namun pada kenyataannya akan banyak sekali perubahan-perubahan yang tiba-tiba terjadi. Pramesthi menceritakan pengalaman dalam menjalani prosesnya mulai mengajukan beasiswa hingga keberangkatannya bersama keluarga ke Australia yang penuh dengan perubahan rencana.

“Bagaimana kita bisa berencana tapi tentunya kita tidak bisa membuat keputusan sepenuhnya. Dan pada satu sisi bagaimana kita cukup berserah diri, pasrah pada Yang Kuasa, tetapi juga di sisi lain kita tetep terus berusaha untuk menampilkan yang terbaik,” ujar Pramesthi.

Pramesthi menjelaskan bahwa tahun pertama perkuliahan adalah fase yang cukup penting dalam beradaptasi sekaligus dalam menjalankan riset yang sudah dirancang. Terlebih ketika mengambil program by research, mahasiswa harus bisa memanajemen waktu belajar secara mandiri.

Pada tahun pertama juga merupakan waktu yang tepat untuk merefleksi dan berdiskusi dengan diri sendiri tentang apa yang akan dikerjakan dalam tahun-tahun berikutnya. Pramesthi menjelaskan bahwa pada masa ini mahasiswa harus mengambil pilihan tentang tema yang disukai sekaligus penting untuk didalami.

“Kita harus menentukan memang hal-hal yang tidak sekadar ingin kita teliti, tetapi memang apa yang kita nilai itu sesuatu yang memang penting untuk diteliti,” terang Pramesthi.

Dalam menjalankan studinya Pramesthi juga sangat menekankan perlunya literature review. Hal itu dikarenakan banyaknya literatur yang dibaca sehingga perlu pengadministrasian literarur sesuai dengan tema masing-masing sehigga mudah untuk diakses ketika dibutuhkan sebagai literatur penelitian.

“Sehingga memang sangat penting bagi kita untuk mencoba meng-clusterkan sejak awal gitu ya, membuat folderkah, membuat catatan-catatan di dalam buku khusus atau seperti apa, metodenya mungkin akan tergantung pada masing-masing bapak ibu dan rekan-rekan,” ujar Pramesthi.

Masalah yang sering muncul seiring berjalannya waktu adalah prokrastinasi. Hal ini sangat menghambat penyelesaian tulisan laporan riset. Pramesthi menerangkan apa saja faktor-faktor yang membuat itu terjadi sekaligus memberikan tip agar bisa mengatasi prokrastinasi.

“Kita harus sadar bahwa kita sudah mulai melakukan prokrastinasi. Dan apa yang harus kita lakukan? Ya sudah kerjakan saja apa yang harus dikerjakan itu meskipun tidak langsung selesai. Tapi yang penting kita mulai saja untuk mengerjakan,” terang Pramesthi sekaligus menekankan pentingnya jadwal istirahat yang teratur.

KDM Promovendus Club: Scoping Review dan Photo Voice

Jumat (3/9) Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menyelenggarakan acara dengan tema “Community defied efidence  for children with disabilities: Scoping review and photovoice stories from West Timor”. Acara ini merupakan seri dari Kolokium Dua Mingguan (KDM) Promovendus Club yang diselenggarakan terbuka untuk umum.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB  dan berakhir pukul 10.45 WIB. Acara ini dihadiri oleh 145 peserta dari mahasiswa Program Doktor Ilmu Psikologi UGM dan umum.

Pemateri pada acara ini adalah Indra Yohanes Kiling, S.Psi, M.A., Ph.D., dosen Universitas Nusa Cendana yang mempunyai disiplin keilmuan di bidang psikologi komunitas dan psikologi perkembangan. Lulusan Program Doktor Ilmu Psikologi The University of Adelaide, Australia ini menjelaskan tentang disertasinya yaitu tentang bukti yang ditetapkan masyarakat untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Penelitian yang dilakukan Indra merupakan irisan antara dua ranah penelitian yang sudah sering dibahas yaitu anak usia dini dan disabilitas. Indra menjelaskan bahwa penelitian yang menggabungkan dua ranah tersebut masih sedikit, terutama di negara-negara berkembang. Kurangnya penelitian yang mengkaji tentang intervensi anak disabilitas di negara Indonesia dan negara-negara berkembanglah yang mendorong Indra untuk melakukan penelitian tersebut.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Indra adalah studi literatur. Untuk melengkapi studi literaturnya, Indra datang langsung ke perpustakaan UI, UNPAD, UPI, dan UGM. Namun dari beberapa literatur yang didapatnya, hanya sedikit yang sesuai dengan tema intervensi disabilitas pada anak usia dini.

“Dari hasil pencarian tersebut, 1791 yang akhirnya terseleksi cuma hanya sampai 8 saja,” kata Indra sambil menerangkanbahwa keadaan itu membuat publikasinya pada awalnya sering ditolak oleh reviewer.

Pada studi ke-2 Indra melakukan systematic literatur review yaitu mencari literatur dengan kriteria yang dianalisis dengan thematic approach. Pada studi ini Indra membandingkan jenis intervensi disabilitas pada anak usia dini di Indonesia dan 42 negara yang tingkat perkembangannya setara dengan Indonesia, yaitu memiliki Human Development Index (HDI) pada level medium.

Dari kajian literatur tersebut, Indra mendapatkan empat kategori yang salah satunya disability screening, yaitu deteksi awal pada penyandang disabilitas yang mayoritas adalah tuna rungu.

Selanjutnya tema yang ditemukan Indra adalah Communiti Based Rehabilitation (CBR). Dalam penerapannya CBR menggunakan pendekatan multi sektoral sehingga melibatkan banyak sekali elemen dan disiplin keilmuan.

“Jadi ketika saya mengerjakan disertasi, saya otomatis saya harus belajar juga tentang kesehatan, belajar tentang pendidikan, belajar tentang ekonomi, belajar tentang ilmu sosial tentunya, dan juga tentang gerakan-gerakan atau aktivitas pemberdayaan masyarakat,” tutur Indra.

Setelah menjalani dua studi literature, Indra baru melaksanakan studi lapangan. Penelitiannya dilaksanakan di Timor Barat (West Timor), tepatnya di Kupang, daerah yang secara administratif termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dua studi lapangan berikutnya dilakukan menggunakan metode kualitatif menggunakan pendekatan utama interview dan photovoice.

Tujuan dari studi lapangannya adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi orang tua terhadap anaknya yang menyandang disabilitas, faktor resiko lingkungan, dan layanan-layanan pendukung untuk penyandang disabilitas. Selain orang tua, partisipan pada penelitian ini adalah local leaders yang tinggal di daerah tersebut seperti ketua NGO, kepala desa, pemimpin agama, dan juga kepala dinas.

Selain memaparkan tentang penelitian yang dilakukannya, Indra juga berbagi strategi menyelesaikan studi doktornya yang berhasil Ia selesaikan dalam waktu tiga tahun. Indra juga menjelaskan metode photovoice dan scoping review yang sangat memungkinkan untuk dilakukan secara daring pada masa pandemi COVID-19 sekarang ini.

Integritas Akademik Dosen Indonesia: Fakta, Pengukuran, dan Upaya Optimalisasi

Promovendus Club Program Doktor Ilmu Psikologi UGM kembali menyelenggarakan acara Kolokium yang rutin tiap dua pekan sekali pada Jumat (4/6). Kegiatan kolokium kali ini mengangkat topik “Integritas Akademik Dosen Indonesia: Fakta, Pengukuran, dan Upaya Optimalisasi” yang disampaikan oleh Dr. Prasetyo Budi Widodo, S.Psi., M.Si. Prasetyo merupakan alumni Program Doktor Ilmu Psikologi UGM yang merupakan dosen di Universitas Diponegoro.

Integritas adalah salah satu permasalahan yang dialami pejabat di Indonesia. Secara umum integritas dapat dipahami melalui dua pengertian. Pertama kesetiaan untuk memahami dan melakukan nilai-nilai baik sesuai prinsip moral yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kedua, integritas adalah karakter individu yang utuh untuk melaksanakan prinsip-prinsip moral.

Berangkat dari permasalahan integritas yang juga pada akhirnya membuat Prasetyo memutuskan untuk mengadakan penelitian tentang topik tersebut. Melibatkan 823 subjek yang merupakan dosen di Indonesia, Prasetyo melakukan penelitian tentang integritas akademik. “Pada tahun 2015, 2016 itu mencari artikel tentang integritas akademik itu sangat susah. Nah, yang mengherankan itu sekitar tahun 2017 akhir tiba-tiba artikel tentang integritas akademik itu luar biasa banyak. Saya sampai bingung kenapa kok tiba-tiba jadi banyak”, ujar Prasetyo.

Dahulu integritas banyak diteliti pada bidang industri dan organisasi, terutama penelitian integritas yang melibatkan karyawan sebagai subjek. Selain itu, penyusunan alat ukur integritas pada bidang industry dan organisasi awalnya ditujukan untuk menggantikan tes deteksi kebohongan. Selain di bidang industri dan organisasi, penelitian integrasi juga dilakukan pada bidang pendidikan, yaitu penelitian integritas akademik. Penelitian integritas akademik yang dilakukan berkaitan dengan angka-angka kejadian praktik kecurangan, khususnya menyontek yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa.

Ada 4 kata kunci yang dapat digunakan untuk mencari literatur tentang integritas akademik yang terdiri dari academic integrity, educational integrity, academic honesty, dan academic dishonesty. Kata honesty digunakan karena muatan utamanya adalah kejujuran, meskipun pada perjalanannya, integritas akan mendapatkan tambahan-tambahan nilai-nilai lain. Oleh karena itu, integritas akademik juga dapat dimaknai sebagai sebuah komitmen individu untuk mewujudkan nilai-nilai kejujuran, kepercayaan, keadilan, penghormatan, dan tanggung jawab. Makna tersebut dipelopori International Center for Academic Integrity (ICAI) yang merupakan asosiasi perguruan tinggi di Amerika yang fokus pada integritas akademik.

Awalnya ICAI mendefinisikan integritas akademik dengan lima nilai, namun pada tahun 2013 ICAI menambahkan satu nilai yaitu, keberanian. Nilai keberanian menurut ICAI adalah nilai yang dapat melaksanakan kelima nilai lainnya. Tanpa keberanian, individu tidak bisa mewujudkan nilai-nilai lain yang terkandung pada makna integritas akademik.

Selanjutnya, dalam materi kolokium kali ini, Prasetyo juga menyampaikan bahwa integritas akademik adalah ciri dari manusia pembelajar. Selain sebagai hal penting bagi terlaksana atau tidaknya misi perguruan tinggi, serta berkaitan dengan reputasi sebuah perguruan tinggi. Menurut Prasetyo, penegakan integrasi akademik dapat dilakukan melalui deteksi dengan menjadikan pengukuran sebagai bentuk upaya apakah ada potensi kurangnya integritas akademik pada dosen. Oleh karena itu, diperlukan alat ukur yang reliabilitas dan validitasnya tinggi. Selain itu, penegakan integritas akademik dapat dilakukan melalui penerapan aturan dan sosialisasi yang bisa disampaikan melalui perkuliahan atau pun pemasangan spanduk.

KDM Promovendus Club: Dinamika Proses Kognitif pada Pemecahan Soal Cerita Matematika

Pada Jumat (28/5) Promovendus Club Program Doktor Ilmu Psikologi UGM kembali menyelenggarakan acara dengan topik “Dinamika Proses Kognitif pada Pemecahan Soal Cerita Matematika”. Topik tersebut disampaikan oleh Dr. Nani Restati Siregar, S.Psi., M.Si yang merupakan seorang dosen di Universitas Halu Oleo, sekaligus alumni Program Doktor Ilmu Psikologi UGM. Acara ini merupakan bagian dari kolokium yang dilaksanakan rutin tiap dua pekan sekali oleh Promovendus Club secara daring.

Melalui materi yang disampaikan, Nani menjelaskan bahwa pemecahan soal cerita matematika bukan hanya sekedar mengerjakan tugas atau ujian. Akan tetapi, pemecahan soal matematika juga berkaitan dengan empat kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Menurut Programme of International Student Assessment (PISA), pemecahan soal cerita matematika berkaitan dengan empat kompetensi, yaitu personal, sosial, okupasional, dan saintifik. Oleh karena itu, belajar matematika terutama terkait pemecahan soal cerita adalah suatu hal yang penting.

Jika diuraikan lebih rinci empat kompetensi tersebut memiliki efek masing-masing pada siswa. Pertama kompetensi personal berkaitan dengan bagaimana pemecahan soal cerita matematika melatih siswa untuk memecahkan masalah personal. Kedua, narasi soal cerita matematika menggunakan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut erat kaitannya dengan kompetensi sosial. Kemudian, soal cerita matematika memiliki efek pada pengembangan teknologi dan informatika. Hal itu masuk ke dalam kompetensi okupasional. Terakhir, kompetensi saintifik berkaitan dengan melatih siswa untuk tidak hanya sekedar memecahkan masalah, tetapi juga mengumpulkan data yang membantu ketika melakukan kajian ilmiah.

Selain berkaitan dengan kompetensi, soal cerita matematika juga melibatkan beberapa proses kognitif, yaitu working memory, inhibitory control, dan shifting. Working memory adalah proses menandai/mengabaikan informasi tidak penting. Sementara inhibitory control berkaitan dengan cara memecahkan soal cerita. Siswa cenderung secara spontan menggunakan strategi pemecahan masalah yang sebelumnya tanpa saringan ketika menemukan soal cerita yang mirip atau pernah ditemui sebelumnya. Terakhir, proses kognitif yang berkaitan dengan kecepatan siswa memahami kata dan angka disebut shifting.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nani, siswa dengan kapasitas working memory dan shifting tinggi menganggap soal cerita matematika adalah sesuatu yang “biasa”. Sementara siswa dengan working memory yang rendah dan hanya didukung oleh inhibitory control, menganggap soal cerita matematika adalah soal yang sulit.

Memahami dan Mendiagnosis Anak dengan Disleksia

Promovendus Club Program Doktoral Ilmu Psikologi menyelenggarakan acara dengan topik “Memahami dan Mendiagnosis Anak dengan Disleksia” pada Jum’at (16/4). Acara yang berlangsung pada pukul 09.00 WIB ini merupakan bagian dari kolokium yang dilaksanakan rutin tiap 2 pekan sekali oleh Promovendus Club secara daring.

Hadir pada acara ini Dr. Trubus Raharjo, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemateri yang merupakan seorang Dosen di Universitas Muria Kudus sekaligus alumni dari Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM. Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Trubus melalui acara ini, meliputi bagaimana mengenali gejala kesulitan belajar disleksia, bagaimana tata laksana diagnosis anak dengan disleksia, serta bagaimana menangani anak dengan disleksia. “Selama ini informasi tentang disleksia khususnya untuk guru, pendidik, juga psikolog masih sangat minim sekali. Ada beberapa komunitas dan sebagainya, tetapi lebih banyak memang dipegang oleh dokter-dokter anak, biasanya begitu”, ungkap Trubus.

Disleksia menurut The International Dyslexia Association merupakan kesulitan belajar spesifik yang berasal dari faktor neurologis. “Bahwa disleksia itu adalah kesulitan belajar spesifik karena nanti akan membedakan dengan kesulitan belajar yang lain sifatnya umum, seperti autis, retardasi, intelektual disorder, intelektual disability”, jelas Trubus. Anak dengan gangguan disleksia memiliki masalah yang secara umum terlihat mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. “Meskipun nanti ada perilaku-perilaku lain yang mencirikan sebagai anak dengan disleksia atau bahkan orang dewasa dengan disleksia”. Menurut Trubus, deteksi dini disleksia sudah dapat dilakukan pada masa pra-sekolah, meskipun biasanya mulai terlihat pada tahun pertama anak sekolah.

Disleksia dikatakan sebagai gangguan spesifik karena acuan diagnosis gangguan disleksia ini adalah DSM-5 dan termasuk sebagai gangguan perkembangan syaraf otak (neurodevelopmental disorder) pada kategori gangguan belajar spesifik. Selanjutnya, ada tiga hal utama yang menjadikan disleksia sebagai gangguan belajar spesifik, yaitu faktor biologis yang konteksnya bisa genetik, kecelakaan, atau benturan. Kemudian, ada faktor kelainan pada tingkat kognitif yang berhubungan dengan kemampuan memahami, penalaran, dan juga logika. Selain itu, disleksia juga berkaitan dengan tanda-tanda perilaku, seperti ketidakmampuan dalam menulis, membaca, maupun mengeja.

Gangguan bersifat perilaku yang terlihat pada anak dengan disleksia antara lain, suka bicara sendiri, anak se-enaknya sendiri, komorbid ADHD atau speech delay, dan lain sebagainya, termasuk sering mengucapkan kata atau kalimat yang terbalik. “Nah ini yang kadang-kadang menimbulkan emosi pada anak karena menganggap orang dewasa di sekitarnya, Ayah, Ibu, saudaranya tidak paham dengan apa yang ditanyakan”, jelas Trubus.

Topik yang diangkat pada acara kali ini cukup diminati oleh masyarakat, terbukti dari pendaftar yang masuk melebihi kapasitas yang telah disediakan. Hal tersebut membuat panitia sampai harus menyediakan link YouTube agar peserta tetap dapat bergabung meskipun tidak mendapatkan link zoom. Penjelasan lengkap terkait disleksia dapat disimak pada kanal YouTube Program Doktor Ilmu Psikologi UGM.

KDM: Bridging The Gap between Disaster Management Research & Practice through Applied Psychological Research

Jumat (4/12) Promovendus Club (PC) Program Doktor Ilmu Psikologi kembali selenggarakan Kolokium Dua Mingguan (KDM) secara daring.

Dibuka dengan sambutan singkat oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Prodi Doktor Ilmu Psikologi, acara dihadiri oleh 35 partisipan ini juga disiarkan live melalui channel Youtube Doktor Ilmu Psikologi UGM, dimulai pada pukul 13.30 – 15.00 WIB.

Narasumber pada sesi KDM kali ini yaitu Pradytia Putri Pertiwi, Ph.D, alumni dari Fakultas Psikologi UGM dan University of Sydney. Saat ini Pradytia merupakan Programme and Partnership Development Manager di Arbeiter Samariter Bund, NGO Jerman yang bergerak di bidang empowerment, civil protection dan social werfare service.

Pada pemaparannya, narasumber menyampaikan mengenai topik Bridging The Gap between Disaster Management Research & Practice through Applied Psychological Research, penelitian yang ia lakukan saat menempuh studi S3.

Beliau menyebutkan bahwa disaster atau bencana merupakan isu yang penting, khususnya di Indonesia karena memang adanya potensi nyata dari bencana itu sendiri (bencana alam), serta penting untuk melakukan pencegahan (prevention) dan siap siaga akan hal ini. Disinilah psikologi memiliki peranan yang penting, karena manusia merupakan bagian dari bencana, baik sebagai korban atau orang yang mungkin menyebabkan bencana itu sendiri.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan mengenai bagaimana merespon permasalahan yang ada di masyarakat dari sudut pandang peneliti dan praktisi. Karena sebelumnya terdapat gap anatara peneliti dan praktisi, dimana keduanya memiliki pendekatan yang berbeda. Misalnya, praktisi yang berada di pemerintahan atau NGO, umumnya lebih berfokus pada solusi praktis yang memilki dampak positif pada masyarakt, sedangkan peneliti lebih berfokus pada kontribusinya bagi ilmu pengetahuan secara luas. Namun, saat ini permasalah tersebut sudah mulai teratasi, dimana sudah semakin banyak penelitian kolaborasi anatara pemerintah atau NGO dengan akademisi dari universitas-universitas.

Selain itu, Pradytia juga menjelaskan secara singkat penelitian psikologi di bidang kebencanaan menggunakan multi-method research in inclusive disaster studies, yang merupakan disertasinya saat menempuk studi doktor.

Pasca pemaparan, acara ditutu dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator.

KDM: Stigma and Discrimination During COVID-19

Promovendus Club (PC) Program Doktor Ilmu Psikologi kembali selenggarakan Kolokium Dua Mingguan (KDM) secara daring pada Jumat, 20 November 2020.

Ciptasari Prabawanti Ph.D yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan sekaligus Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan ini, bekesempatan menjadi narasumber pada sesi KDM kali ini.

Adapun topik yang diangkat yaitu, Addressing and Mitigating Related-COVID-19 Stigma and Discrimination.

Acara dibuka dengan sambutan singkat dari Nida Ul Hasanat, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan dan Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Prodi Doktor Ilmu Psikologi.

Pada pembahasa materi, Ciptasari menyampaikan mengenai gambaran umum proses terjadinya pembetukan stigma mengenai COVID-19 pada masyarkat Indonesia. “Karena penyakit ini relatif baru, hal ini menjadi diluar kontrol. Orang cenderung takut dengan sesuatu yang baru dan tidak biasa, sehingga COVID-19 pun menjadi hal yang menimbulkan ketakutan” ujarnya.

Lebih lanjut, narasumber juga menjelaskan mengenai perancangan intervensi dalam mengatasi permasalah stigma terhadap pasien COVID-19, baik yang masih dalam perawatan maupun sudah sembuh. Menurutnya, dalam merancang intervensi, penting untuk mengelompokkan populasi, menentukan strategi dan tujuan dari intervensi.

Acara yang dihari oleh 40 partisipan yang berasal dari kalangan umum dan civitas akademika UGM ini ditutup dengan sesi diskusi yang dipandu oleh moderator.

KDM: Mixed-method Design Applied in Clinical and Health Psychology Research

Promovendus Club (PC) Program Doktor Ilmu Psikologi selenggarakan Kolokium Dua Mingguan (KDM) pada Jumat, 6 November 2020 secara daring.

Acara yang rutin diadakan setiap dua pekan kali ini mengangkat topik Mixed-method Design Applied in Clinical and Health Psychology Research: Introduction & Sharing of Experience dan menggandeng Andrian Liem Ph.D, peneliti Pasca doktoral University of Macau yang juga merupakan alumni Program Studi Psikologi Profesi Fakultas Psikologi UGM sebagai pembicara.

Pada pemaprannya, Andrian menyampaikan mengenai konsep dasar mengenai mixed method design serta contoh penelitian yang pernah dilakukan lakukan menggunakan metode tersebut. Mixed method merupakan penelitian yg menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif, “menggabungkan kekuatan dan kelebihan dari masing-masing agar bisa menutupi kekurangan dari masing-masing metode merupkan inti dari mixed method” ungkap Adrian.

Lebih lanjut, Adrian juga menyampaikan mengenai disetasinya yang meneliti pengobatan alternatif di Indonesia dengan judul A complementary and alternative medicine (CAM) study among clinical psychologist in Indonesia using mixed method design.

Pasca pemaran, acara yang dihadiri oleh 125 partisipan ini dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipandu oleh moderator.

Selain dilaksanakan melalui Zoom Meeting, KDM juga disiarka secara live melalui channel Youtube Doktor Ilmu Psikologi UGM.