Fakultas Psikologi UGM pada Rabu (4/8) untuk kedua kalinya melaksanakan Pelatihan Pembelajaran Sukses Psikologi Rumah Kita (PPSMB-PRK) 2021 secara daring. Acara ini merupakan agenda yang ditujukan untuk mahasiswa baru tingkat fakultas yang dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Faturochman, M.A selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM.
daring
Kemudian, acara dilanjutkan Laporan Penerimaan Mahasiswa Baru dan Mahasiswa Berprestasi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr selaku Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan. Melalui laporan yang disampaikan, diketahui UGM tahun ini menerima mahasiswa baru sebanyak 9.120 orang, yang terdiri dari 7.798 mahasiswa baru Program Sarjana dan 1.412 mahasiswa baru Program Sarjana Terapan. Lebih rinci lagi, berdasarkan jenis kelaminnya terdapat 40,1% mahasiswa baru laki-laki dan 49,9% mahasiswa baru perempuan. Berdasarkan asal mahasiswa, UGM tahun ini juga menerima mahasiswa baru yang berasal dari luar negeri, seperti Iran, Qatar, Uni Emirat Arab, dan lain sebagainya. Sementara dari segi usia, mahasiswa baru termuda UGM tahun ini adalah Mutiara Anindiana Hapsari yang merupakan mahasiswa baru pada Program Studi Farmasi dengan usia 15 tahun 7 bulan 22 hari.
Pada acara ini juga disampaikan Amanat Upacara oleh Rektor. “Kepada seluruh mahasiswa baru, Gadjah Mada Muda, GAMADA, Kami ucapkan Selamat Datang di Kampus UGM. Dengan bangga kami menyambut kehadiran keluarga baru Universitas Gadjah Mada”, ucap Rektor. Selain itu, Rektor melalui Amanatnya berpesan agar GAMADA terus mencintai orangtua, para guru, dan dosen serta tanah air, Indonesia melalui kontribusi dan pengabdian dimanapun berada dengan mematri nilai-nilai serta jati diri Gadjah Mada.
Mengusung tema, “Ragam Kreasi UGM, Pancarkan Pesona Pertiwi” yang dilatarbelakangi oleh kondisi bangsa Indonesia saat ini yang memiliki indeks kreativitas rendah. Melalui tema tersebut, UGM berharap GAMADA sebagai generasi masa depan Indonesia dapat menghasilkan beragam kreasi dan inovasi cemerlang.
Hadir pula pada Upacara dan Pembukaan PPSMB tahun ini, Menteri Sekretaris Negara RI, Prof. Dr. Drs. Pratikno, M.Soc. Sc yang memberikan orasi sebagai bentuk kejutan untuk GAMADA. Melalui orasi yang disampaikan, Pratikno mengucapkan selamat karena berhasil terpilih sebagai mahasiswa baru UGM dari proses yang sangat ketat. Sementara itu, Orasi juga disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A yang mengingatkan bahwa menjadi mahasiswa tidak sama dengan kenaikan jenjang sekolah karena mahasiswa memiliki kebabasan lebih luas untuk menentukan masa depan.
Pada akhir acara, Rektor dan Wakil Rektor melakukan Pembukaan Simbolis PPSMB 2021 dengan membuka miniatur Buku Mekar Imaji yang bermakna bahwa GAMADA siap mengembangkan kreasi terbaiknya. Selain sebagai simbol pembukaan PPSMB 2021, pembukaan Buku Mekar Imaji menandakan bahwa jendela cakrawala baru dan petualangan GAMADA akan segera dimulai Selanjutnya, acara Upacara dan Pembukaan PPSMB UGM 2021 ditutup dengan menampilkan tayangan informatif terkait PPSMB dalam bentuk formasi block 3D serta video wawancara singkat berkaitan dengan sejarah pembuatan Anthem PPSMB UGM.
Hadir sebagai permbicara, Raras Pramudita, M.Psi., Psikolog merupakan psikolog rekanan di UKP UGM, sekaligus psikolog di Unit Disabilitas Dinas Pendidikan Yogyakarta. Raras membuka acara dengan terlebih dahulu menanyakan apa cita-cita yang dimiliki oleh para peserta yang hadir. Jawaban peserta beragam, ada yang menyebutkan bercita-cita ingin menjadi dokter, membuka café, bahkan menjadi seorang YouTuber. Menurut Raras, cita-cita perlu dimiliki oleh semua orang agar tetap memiliki tujuan meskipun sedang menghadapi kesulitan.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dan cukup membuat galau adalah ketika seseorang dihadapkan oleh pemilihan jurusan kuliah. “Kuliah tidak hanya sekedar rutinitas, tetapi juga dapat menambah wawasan, keterampilan, melatih diri untuk menghadapi tekanan, bahkan menjadi pengalaman hidup bagi seseorang”, ungkap Raras. Ada beberapa hal yang perlu ditimbangkan ketika seseorang memilih jurusan kuliah, seperti karakteristik jurusan yang diminati, value, dan sudut pandang orang tua, mengenal serta mengetahui potensi diri.
Untuk mengenal serta mengetahui potensi diri, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah teknik SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Melalui teknik SWOT, seseorang tidak hanya mengetahui kekuatan dan kelemahannya saja, tetapi juga dapat mengetahui kesempatan dan ancaman yang dapat menjadi penghambat dalam melakukan pengembangan diri.
Hal lain yang perlu diperhatikan menurut Raras, yaitu passion. “Passion tidak sekedar minat, tetapi minat yang kuat terhadap sesuatu yang kita suka”, jelas Raras. Lebih detailnya, passion adalah ketertarikan yang kuat terhadap suatu kegiatan yang disukai dan dianggap penting sehingga individu bersedia menginvestasikan waktu serta energi untuk mencapai tujuan.
Melalui acara ini, Raras juga menyampaikan tentang tips dan trik untuk memilih jurusan yang terdiri dari hentikan, lanjutkan, dan mulai. Pertama, hentikan kebiasaan yang dapat menghambat ketika memilih jurusan. Kemudian, lanjutkan hal-hal yang mendukung untuk memilih jurusan. Terakhir, mulai susun rencana untuk memilih jurusan.
Photo by Sincerely Media on Unsplash
Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi pada periode ini adalah 3.93 yang diraih oleh Syurawasti Muhiddin dari Program Studi Magister Psikologi. Selain itu, Syurawasti juga meraih predikat cumlaude bersama dengan Andrea Prita Purnama Ratri dari Program Studi Magister Psikologi. Sementara untuk naskah publikasi tesis terbaik dari Program Studi Magister Psikologi juga diraih oleh Syurawasti Muhiddin yang berjudul “Pengaruh Identitas Sosial dan Perbandingan Sosial terhadap Intensi Melakukan Perilaku Berkelanjutan dengan Mengontrol Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku” bersama Yopina Galih Pertiwi, M.A., Ph.D selaku pembimbing.
Pada program Studi Magister Psikologi Profesi, Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi adalah 3.83 oleh Rinekso Wismanto Laban. Sementara Annisa Karuniawati meraih naskah publikasi terbaik dengan judul “Peran Workforce Agility dan Perveiced Organization terhadap Performance” bersama Dr. Sumaryono, M.Si., Psikolog sebagai pembimbing.
Dalam acara ini, sambutan dari wisudawan/wisudawati diwakilkan oleh Syurawasti Muhiddin yang menyampaikan bahwa Pandemi COVID-19 merupakan salah satu ujian yang tidak mudah dalam perjalanan menyelesaikan pendidikan. “Namun, satu hal yang pasti, kita semua telah sampai pada momen dimana tidak semua orang yang menginginkannya bisa mencapainya”, ujar Syurawasti. Syurawasti juga mengucapkan selamat berkiprah untuk rekan-rekan sambil menjaga nama baik almamater.
Selanjutnya, untuk proses pengambilan Sumpah Profesi Psikolog pada periode ini dipimpin oleh Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog selaku Sekjen Pimpinan Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Selain itu, Andik juga memberikan sambutan dengan menyampaikan tiga hal sebagai pesan untuk wisudawan/wisudawati. Ketiga pesan tersebut adalah tentang kode etik, pengembangan kompetensi, dan keharusan dalam memberikan manfaat seluas-luasnya pada masyarakat.
Kemudian, Prof. Dr. Faturochman, M.A selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM juga menyampaikan pesan untuk seluruh wisudawan/wisudawati bahwa harus terus meningkatkan kompetensi, keterampilan, dan soft-skill. “Dengan ini, Anda kami lepaskan dengan doa sepenuh hati untuk kesuksesan, kesehatan, dan kemajuan kita bersama”, ucap Faturochman di akhir sambutannya.
Sejak pandemic COVID-19 melanda seluruh dunia, tidak bisa dipungkiri bahwa COVID-19 bukan sekedar masalah kesehatan secara fisik. Akan tetapi, COVID-19 juga berkaitan dengan masalah kesehatan psikis bahkan ekonomi. Ada beberapa hal yang terdeteksi sebagai masalah kesehatan mental yang umumnya dialami oleh pasien COVID-19, seperti gangguan tidur, mental distress, kecemasan tinggi, gangguan penyesuaian, depresi, somatisasi, dan PTSD. Hal-hal tersebut adalah bentuk reaksi yang normal di situasi yang tidak normal. Tidak semua orang pasti mengalami hal-hal tersebut, namun semua orang berpotensi untuk mengalaminya.
Oleh karena itu, dibutuhkan bantuan atau dukungan psikososial dari pihak lain, seperti anggota keluarga, teman, kerabat, bahkan instansi terkait untuk mengurangi potensi pasien COVID-19 mengalami masalah kesehatan mental. Dukungan psikososial berdasarkan keterangan pihak Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI merujuk pada dukungan apapun yang bertujuan untuk melindungi atau meningkatkan kesejahteraan psikologis dan/atau mencegah serta menangani kondisi kesehatan jiwa dan psikososial.
“Ketika ada yang mengeluh (tentang COVID-19), maka cukup didengarkan segala kecemasannya. Didengarkan saja, diterima”, jelas Nurul. Sebenarnya, tidak hanya pasien COVID-19 yang membutuhkan dukungan psikososial, tetapi individu yang sudah sembuh dari COVID-19, tenaga kesehatan, serta keluarga dan kerabat dekat juga membutuhkan dukungan psikososial. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk dukungan psikososial antara lain, memenuhi kebutuhan dasar, mengurangi tekanan emosisonal, berbagi informasi positif, meningkatkan dan mempertahankan hubungan positif, mengurangi stigma, dan meningkatkan resiliensi.
“Ketika berhadapan dengan seseorang yang membutuhkan (dukungan psikososial), tugas kita (sebagai pemberi dukungan) bukan segera mengubah apa yang mereka pikirkan tentang apa yang terjadi”, tegas Wirdatul. Cukup berpedoman pada tiga hal penting, yaitu lihat, dengarkan, dan hubungkan. Lihat dan amati, kira-kira orang yang bersangkutan membutuhkan bantuan dukungan psikososial dalam bentuk apa. Kemudian, dengarkan ketika orang tersebut mulai berbicara tentang apa yang sedang dialami dan rasakan. Apabila merasa tidak sanggup dan belum mampu untuk memberikan dukungan psikososial, maka dapat memberikan dukungan psikososial dalam bentuk menghubungkan orang yang bersangkutan kepada pihak-pihak profesional, seperti psikolog.
Photo by Tim Marshall on Unsplash
Acara diawali sambutan dari Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Melalui sambutannya, Nida menungkapkan bahwa peluncuran program ini dilakukan agar mahasiswa lebih fokus, terstruktur, dan terarah berpartisipasi dalam MBKM, khususnya dalam pembuatan produk digital. Fakultas Psikologi UGM sendiri sudah memiliki alumni yang sukses dalam membuat dunia digital, seperti Regisda Machdy dengan Pijar Psikologi, Nur Zidny Ilmanafia yang berkarier sebagai UX researcher di Jabar Digital Service, Renesa Balqis dengan Roomansa, dan alumni Fakultas Psikologi UGM lainnya yang juga sukses berkarier di dunia digital.
Untuk sesi pertama, dimoderatori oleh Ardian Praptomojati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dengan pembicara Prabaswari Desi, S.Psi., Psikologi dan Erlina Dewi Fitriany, M.Psi., Psikolog. Sesi pertama ini pun dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari penyampaian materi “Kontribusi Keilmuan Psikologi dalam Bidang Ketenagakerjaan di Era Digital” untuk bagian pertama. Kemudian “Implementasi Keilmuan Psikologi dalam Pengembangan Aplikasi Digital” sebagai materi untuk bagian kedua.
Selanjutnya untuk sesi kedua, dimoderatori oleh Acintya Ratna Pratiwi, S.Psi., M.A dengan pembicara Alamanda Shantika Santoso, S.Si., S.Kom dan Galang Lufityanto, M.Psi., Ph.D. Pada sesi ini yang dikemas secara talkshow, Alamanda berbagi pengalamannya dalam bekerja di bidang digital. Sementara Galang menyampaikan tentang PSYDIAC dan kaitannya dengan mahasiswa/i Fakultas Psikologi UGM serta program MBKM.
Harapannya program ini akan melahirkan mahasiswa/i Fakultas Psikologi UGM yang akan menjadi agen-agen perubahan melalui produk digital. Tidak hanya sekedar produk, tetapi juga menjadi solusi dari sebuah masalah yang terjadi di masyarakat.
Acara webinar kali ini dibersamai oleh Anggit Nursasmito, S.Psi dan Almira Salsabila Wicahyanto sebagai narasumber serta Satria Farqi Kilali sebagi moderator. Acara ini dilaksanakan melalui daring dan diikuti oleh 105 peserta dari berbagai kalangan, seperti pelajar SMA, Mahasiswa, Remaja, dan lain sebagainya. Selain itu, acara ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 15.00 WIB dengan pembagian sesi pertama untuk pembahasan prokrastinasi dan sesi kedua untuk pembahasan manajemen waktu.
Diangkatnya topik prokrastinasi dikarenakan hal tersebut dapat dialami oleh siapapun, mulai dari mahasiswa maupun pelajar sampai orang-orang yang sudah bekerja. Prokrastinasi merupakan perilaku yang dilakukan oleh seseorang dalam menunda, mengulur waktu, bahkan sengaja menghindar untuk melakukan sesuatu walaupun hal itu penting dan akan berdampak negatif.
Ada lima tahap prokrastinasi yang dapat dialami oleh seseorang, diawali dari perilaku mengindar dan merasakan aman yang timbul dari perilaku menghindar (false security). Setelah menghindar, maka akan muncul perasaan masih ada banyak waktu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan tersebut (laziness). Selanjutnya, berlanjut dengan mencari-cari alasan agar tidak menyelesaikan tugas atau suatu pekerjaan (excuses) dan semakin menunda pekerjaan semakin merasa tertekan (crisis or pressure) yang berujung pada perasaan frustasi karena tugasnya tidak kunjung usai (frustrated).
Terdapat dua faktor yang dapat melindungi diri dari prokrastinasi atau disebut faktor protektif dan fraktor risiko yang terdiri dari hal-hal yang membuat seseorang rentan untuk melakukan prokrastinasi. Salah satu hal yang dapat melindungi seseorang untuk tidak melakukan prokrastinasi adalah GRIT yang merupakan gabungan dari passion dan kegigihan, “jadi untuk menyelesaikan tugas juga butuh daya juang dan daya tahan”, jelas Almira. Sementara untuk faktor resiko, terdiri dari perspektif negatif, kecemasan, low level of self identity, time orientation, dan time preference.
Salah satu hal lain yang juga membantu seseorang untuk tidak melakukan prokrastinasi adalah manajemen waktu, “atau semakin disini malah bukan manajemen waktu, tetapi manajemen diri terhadap waktu. Jadi kenali diri sendiri dulu, kira-kira orang yang seperti apa dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan”, terang Anggit. Selain itu, manajemen waktu juga memiliki dampak positif, seperti mengurangi kecemasan, memberikan keseimbangan antara kehidupan dan kerja, berkurangnya perasaan overload dan beban kerja, sebagai salah satu langkah dasar untuk mengembangkan kebiasaan belajar yang baik, menjaga kesehatan fisik, serta menjaga fokus terhadap suatu pekerjaan atau tugas.
Ketika seseorang mencoba mencari tahu apa yang dirasakan sebenarnya ia juga sedang berusaha terhubung dengan dirinya sendiri dan sedang mencoba untuk mengenali kondisi diri. Setelah seseorang tahu sedang merasakan emosi apa, maka pertanyaan yang muncul adalah apa yang harus kita lakukan dengan emosi tersebut. Untuk orang dewasa, pertanyaan tersebut cenderung mudah dijawab, tetapi bagaimana dengan anak-anak?
Faktanya, anak-anak sudah memiliki emosi sejak mereka lahir, tetapi anak-anak butuh orang dewasa untuk mengatur emosi tersebut. Sayangnya, tidak semua orang dewasa dapat membantu anak untuk mengatur emosi anak. Ada orang tua yang menyepelekan bahkan mengejek ketika anak sedang mengalami emosi marah. Ada juga orang tua yang menganggap emosi anak tidak penting bahkan menolak mendengarkan ketika sedang mogok atau menolak melakukan sesuatu. “Disitulah pentingnya memahami, merangkul, dan kemudian mengatur emosi anak”, terang Ismu.
Ada beberapa cara yang tepat dalam meregulasi emosi. Pertama, harus mengenal komponen emosi terlebih dahulu. Emosi terdiri dari tiga komponen, yaitu perilaku ekspresif, perubahan sensasi fisik, dan pengalaman subjektif. Setelah mengetahui ketiga komponen tersebut, maka langkah selanjutnya adalah mengelola. Dari komponen perilaku ekspresif dapat dilihat apakah perilaku yang ditampilkan ketika menampilkan emosi tertentu tergolong bahaya atau tidak. Kemudian, secara komponen perubahan fisik orang dewasa dapat membantu menjelaskan bahwa anak ketika marah tubuhnya gemetar atau ketika takut keluar keringat lebih banyak. Hal itu, dapat membantu anak untuk terhubung dengan kondisi fisiknya ketika sedang mengalami emosi tertentu. Terakhir, orang dewasa dapat membantu untuk merefleksikan pengalaman subjektif dalam emosi-emosi yang dirasakan. Namun, lakukan refleksi emosi ketika anak-anak sudah dalam kondisi tenang.
Tujuan dari merangkul emosi bukan dalam rangka menghilangkan emosi marah, sedih, takut, dan emosi lainnya yang tidak nyaman. Tujuan merangkul emosi juga bukan untuk membuat merasa senang setiap saat. Akan tetapi, tujuan dari merangkul emosi adalah untuk mengizinkan anak merasakan tiap emosi dalam situasi yang aman, mengelola pikiran, dan tubuh sehingga emosi menjadi teman terbaik yang mendukung terus bertumbuh. Selain itu, proses merangkul emosi tidak perlu dibandingkan dengan orang lain.
Hal menarik selanjutnya adalah ketika orang-orang yang mengalami trauma berhasil bertahan bahkan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelum mengalami kejadian trauma. Kondisi itulah yang berkaitan dengan post-traumatic growth (PTG), “sebenarnya PTG ini istilah lama, tetapi mungkin belum familiar atau kurang popular di kalangan masyarakat”, ungkap Nurul.
Post-traumatic growth merupakan sebuah perubahan atau transformasi positif yang dialami oleh seseorang setelah berjuang menghadapi trauma. Ditandai dengan kualitas diri atau kondisi yang lebih jauh dibandingkan sebelum mengalami trauma. Sayangnya, kondisi PTG hanya bisa dialami oleh orang-orang yang telah selesai dalam berjuang menghadapi trauma. Meskipun begitu, bukan berarti orang yang tidak mengalami trauma tidak bisa mendapatkan nilai-nilai yang dicapai oleh orang-orang yang mengalami trauma, “Bisa jadi (nilai-nilainhya) sudah dimiliki orang yang tidak mengalami trauma. Artinya, dia tidak mengalami trauma karena sudah paham level yang akhirnya dicapai oleh orang yang mengalami PTG”, jelas Nurul.
Wirdatul pun menambahkan, bahwa ketika seseorang berkeinginan untuk belajar dari trauma, maka seseorang tersebut justru bisa melejit lebih baik dari diri sendiri sebelum trauma. Sehingga membandingkan kondisi seseorang setelah trauma tidak dengan orang lain, tetapi dengan diri sendiri ketika sebelum mengalami trauma. Selain itu, transformasi yang dialami oleh seseorang setelah trauma dapat berbeda-beda dan salah satunya dipengaruhi oleh jenis trauma yang dialami.
Terdapat lima domain yang berkaitan dengan post-traumatic growth, yaitu kekuatan personal, hubungan yang lebih baik dengan orang lain, apresiasi akan hidup, kemungkinan yang baru, dan/ perubahan spiritual dan pemahaman baru tentang makna dan tujuan hidup. Kelima domain tersebut tidak harus semuanya dicapai oleh seseorang, cukup satu domain saja maka orang tersebut sudah termasuk mengalami PTG. Hal tersebut dikarenakan PTG memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Tidak semua orang bisa mencapainya karena tidak semua orang memiliki kemampuan apresiasi yang baik, “Kita sangat terbiasa untuk menganggap biasa hal-hal yang biasa terjadi pada kita”, ungkap Nurul.
Orang-orang yang mengalami PTG pasti mengalami peningkatan diri sekecil apapun itu. Selain itu, orang-orang yang mengalami PTG pada akhirnya memiliki pandangan yang lebih lebar, ruang toleransi yang lebih luas, ambang stres yang dimiliki naik, serta memiliki kemampuan apresiasi yang meningkat. Selain itu, ketika seseorang mengalami PTG, maka orang tersebut lebih bisa mengenali kerentanan diri sendiri, lebih berani meminta bantuan, menyadari, serta mengenali kapasitas diri.
Dalam menyampaikan materinya, Wirdatul menjelaskan bahwa bukan berarti orang yang berhasil bertumbuh dan mencapai post-traumatic growth, berarti lupa sepenuhnya dengan traumanya. Akan tetapi, meskipun masih ingat dan masih ada ketidaknyamanan yang dirasakan, orang tersebut menyadari bahwa ada hal-hal yang berkembang dalam dirinya.
Integritas adalah salah satu permasalahan yang dialami pejabat di Indonesia. Secara umum integritas dapat dipahami melalui dua pengertian. Pertama kesetiaan untuk memahami dan melakukan nilai-nilai baik sesuai prinsip moral yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kedua, integritas adalah karakter individu yang utuh untuk melaksanakan prinsip-prinsip moral.
Berangkat dari permasalahan integritas yang juga pada akhirnya membuat Prasetyo memutuskan untuk mengadakan penelitian tentang topik tersebut. Melibatkan 823 subjek yang merupakan dosen di Indonesia, Prasetyo melakukan penelitian tentang integritas akademik. “Pada tahun 2015, 2016 itu mencari artikel tentang integritas akademik itu sangat susah. Nah, yang mengherankan itu sekitar tahun 2017 akhir tiba-tiba artikel tentang integritas akademik itu luar biasa banyak. Saya sampai bingung kenapa kok tiba-tiba jadi banyak”, ujar Prasetyo.
Dahulu integritas banyak diteliti pada bidang industri dan organisasi, terutama penelitian integritas yang melibatkan karyawan sebagai subjek. Selain itu, penyusunan alat ukur integritas pada bidang industry dan organisasi awalnya ditujukan untuk menggantikan tes deteksi kebohongan. Selain di bidang industri dan organisasi, penelitian integrasi juga dilakukan pada bidang pendidikan, yaitu penelitian integritas akademik. Penelitian integritas akademik yang dilakukan berkaitan dengan angka-angka kejadian praktik kecurangan, khususnya menyontek yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa.
Ada 4 kata kunci yang dapat digunakan untuk mencari literatur tentang integritas akademik yang terdiri dari academic integrity, educational integrity, academic honesty, dan academic dishonesty. Kata honesty digunakan karena muatan utamanya adalah kejujuran, meskipun pada perjalanannya, integritas akan mendapatkan tambahan-tambahan nilai-nilai lain. Oleh karena itu, integritas akademik juga dapat dimaknai sebagai sebuah komitmen individu untuk mewujudkan nilai-nilai kejujuran, kepercayaan, keadilan, penghormatan, dan tanggung jawab. Makna tersebut dipelopori International Center for Academic Integrity (ICAI) yang merupakan asosiasi perguruan tinggi di Amerika yang fokus pada integritas akademik.
Awalnya ICAI mendefinisikan integritas akademik dengan lima nilai, namun pada tahun 2013 ICAI menambahkan satu nilai yaitu, keberanian. Nilai keberanian menurut ICAI adalah nilai yang dapat melaksanakan kelima nilai lainnya. Tanpa keberanian, individu tidak bisa mewujudkan nilai-nilai lain yang terkandung pada makna integritas akademik.
Selanjutnya, dalam materi kolokium kali ini, Prasetyo juga menyampaikan bahwa integritas akademik adalah ciri dari manusia pembelajar. Selain sebagai hal penting bagi terlaksana atau tidaknya misi perguruan tinggi, serta berkaitan dengan reputasi sebuah perguruan tinggi. Menurut Prasetyo, penegakan integrasi akademik dapat dilakukan melalui deteksi dengan menjadikan pengukuran sebagai bentuk upaya apakah ada potensi kurangnya integritas akademik pada dosen. Oleh karena itu, diperlukan alat ukur yang reliabilitas dan validitasnya tinggi. Selain itu, penegakan integritas akademik dapat dilakukan melalui penerapan aturan dan sosialisasi yang bisa disampaikan melalui perkuliahan atau pun pemasangan spanduk.