Arsip:

cpmh

Pakar Keluarga dari The University of Newcastle Kunjungi Fakultas Psikologi UGM

Selasa (30/1), Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapat kehormatan dikunjungi oleh pakar keluarga dari Australia, Prof. Alan Hayes. Hayes merupakan Direktur Family Action Centre (Pusat Aksi Keluarga) dan juga pengajar di Fakultas Kesehatan dan Kedokteran The University of Newcastle. Sebelumnya, Hayes pernah menjabat selama 11 tahun sebagai direktur Australia Institute of Family Studies (AIFs), yaitu sebuah pusat penelitian kepanjangan tangan pemerintah Australia yang khusus bergerak di bidang kajian kesejahteraan keluarga. Selain mengedukasi keluarga di Autralia terkait isu-isu seputar keluarga, peran AIFS lainnya adalah melakukan kajian yang dapat menjadi dasar penentuan kebijakan publik terkait keluarga di Australia (evidence-informed policy). read more

Mahasiswa Australia Pelajari Advokasi Kesehatan Mental bersama CPMH

Kamis, 6 Desember 2018, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapatkan kunjungan dari mahasiswa dan dosen The University of Sydney. Kunjungan ini merupakan agenda filed trip rangkaian acara summer course yang mereka ikuti.

Sebanyak 16 mahasiswa dan 2 dosen dari The University of Sydney yang hadir disambut oleh pihak dekanat Fakultas Psikologi UGM beserta jajarannya dan tim dari Center for Public Mental Health (CPMH). Acara berlangsung lancar dari pukul 09.00 hingga 12.00 di Gedung A ruang 203.

Acara kunjungan di buka dengan sambutan dan penjelasan singkat mengenai Fakultas Psikologi UGM oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Prof. Faturcohman, M.A. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai fenomena dan penanggulangan gangguan kesehatan mental di Indonesia, khususnya fenomena pasung oleh kepala CPMH, Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D.

Diana menjelaskan lebih spesifik mengenai advokasi yang dilakukan CPMH terhadap Gerakan Bebas Pasung dengan mengambil contoh kasus Mbah Marsiyo yang terjadi di Kebumen. Diana mengungkapkan bahwa CPMH ikut berperan aktif dalam membantu ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang tinggal di tempat rehabilitasi milik Mbah Marsiyo, yang diberi nama DARASO, untuk mendapatkan fasilitas yang lebih layak.

Selain itu CPMH juga turut membantu membebaskan ODGJ yang dipasung sehingga mereka dapat beraktivitas dengan bebas. Hal lain yang secara kontinu dilakukan CPMH untuk mendukung Gerakan Bebas Pasung di Indonesia adalah dengan memberi edukasi dan pelatihan kepada pekerja sosial dan relawan kesehatan mental, membangun sistem kesehatan mental yang komprehensif, dan melakukan penelitian untuk menganalisis metode advokasi yang telah dilkasanakan sehingga dapat diimplementasikan di wilayah lain di Indonesia.

Di akhir sesi, Diana mengajak mahasiswa dan dosen dari negeri kangguru ini untuk mengikuti agenda The 3rd International Summer Course on Advocacy Skills in Mental Health System Development: from research to policy. Acara summer course tersebut akan diselenggarakan oleh CPMH pada bulan Juli tahun mendatang. Tema yang diangkat pada summer course tersebut adalah Family and Mental Health Promotion. (Humas Psikologi UGM/Jehna)

Workshop CBT untuk Penderita Psikosis

Psikosis pada umumnya  merupakan gambaran seseorang yang tengah menderita sakit jiwa. Seseorang yang mengidap ini biasanya mengalami kesulitan membedakan antara kenyataan dan imajinasi.

 

Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D,  Direktur Center for Public Mental Health (CPMH) UGM mengatakan  seorang yang mengidap psikosis terkadang memiliki pikiran dirinya mau dibunuh. Atau dalam kondisi lain, penderita terkadang berbicara sendiri, membayangkan seolah-olah ada seseorang yang mengajaknya bicara.

 

“Ada juga yang senyum-senyum sendiri, karena memang pikirannya lagi eror seolah ada yang mengajaknya senyum. Ada pula yang jalan-jalan kemana-mana, sehingga biasanya keluarga kemudian memasungnya, maksudnya sayang agar tidak hilang”, ujar Diana Setiyawati, di UC UGM, Jum’at (16/11) saat berlangsung International Workshop on CBT for Psychosys.

 

Menurut Diana cara-cara pasung semestinya tidak perlu terjadi, karena dengan pemberian obat yang teratur dan psikoterapi para penderita gangguan jiwa bisa kembali normal. Ibarat penderita diabetes, maka seorang yang mau minum obat secara rutin dan menyuntik insulin pada akhirnya akan normal.

 

“Memasung itu karena keluarga tidak tahu harus diapain, mungkin saking sayangnya takut mereka hilang, takut ngamuk dan sebagainya’, ujarnya.

 

Diana mengakui pemberian obat sebagai treatmen selama ini memang menjadi pendekatan yang paling diandalkan. Sayangnya, banyak kasus terjadi dimana obat tidak bekerja, sehingga meski sudah diobati pasien kambuh kembali.

 

Untuk itu, katanya, harus ada ketrampilan yang harus dimiliki yang dapat mencegah para pasien kambuh kembali. Pasien bisa dibantu dengan sebuah pendekatan yang relatif baru, yaitu Cognitive Behavioral Therapy untuk Psikosis (CBT-P).

 

CBT-P ini merupakan metode yang berfokus untuk meluruskan pemikiran yang keliru. Metode ini belum begitu popular di Indonesia, namun sudah banyak dipergunakan di luar negeri.

 

“Dikatakan baru, karena selama ini CBT dipergunakan bukan untuk pasien psikosis, namun untuk orang-orang yang mengalami depresi atau cemas. Mumpung ada kolega yang memiliki ahli dibidang ini, maka kita ingin agar mereka mentraining para klinisi kita”, ujar Diana.

 

Disebutkan jumlah penderita psikosis di Indonesia cukup tinggi. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukan 1,7 per 1000 rumah tangga dijumpai penderita psikosis. Jumlah ini di tahun 2018 meningkat cukup tajam, yaitu 7 per 1000 rumah tangga.

 

“Angka yang meningkat, dimana dalam setiap 1000 rumah tangga ada 7 sakit jiwa berat. Angka ini tentu lebih banyak daripada penderita kanker. Kita berharap dengan metode ini para penderita akan sembuh dan normal kembali”, katanya.

 

International Workshop on CBT for Psychosys yang digelar Fakultas Psikologi UGM dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2018. Workshop bertujuan untuk membuat cognitive behavioral therapy (CBT) untuk psikosis lebih mudah diakses oleh dokter di seluruh dunia.

 

Selain itu, workshop sebagai wujud dukungan terhadap keinginan Indonesia bebas dari pasung. CBT adalah terapi yang dipelajari secara teliti dan diperbarui secara konsisten, dan CBT untuk psikosis adalah salah satu perkembangan terbaru.

 

“Kegiatan ini tentu sangat penting bagi para dokter, karena ada kebutuhan besar untuk intervensi untuk psikosis yang akan dikembangkan di Indonesia, mengingat beban yang signifikan pada pasien dan keluarga. Ini terbukti masih adanya cara-cara pemasungan orang-orang dengan gangguan mental. Intervensi yang efektif dan memberdayakan untuk psikosis akan sangat mendukung aktualisasi Gerakan Bebas Pasung di Indonesia”, imbuhnya.

 

Workshop digelar dengan topik-topik seperti pencegahan dini, stigmatisasi dan efektivitas CBT. Materi lainnya adalah melakukan kontak, rencana perawatan dan tujuan, intervensi CBT spesifik dan kelompok CBT. Tiga pakar luar negeri yang dihadirkan adalah Prof. dr. Marieke Pijnenborg (Psikologi Klinis, Universitas Groningen), Dr Nynke Boonstra (NHL Stenden University of Applied Science), dan Prof. dr. Theo Bouman (Psikologi Klinis, Universitas Groningen). (Humas UGM/ Agung)

Studium Generale CPMH: Pelajari Cara Penanganan Psikosis dengan CBT

Center for Public Mental Health (CPMH) yang merupakan unit di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan Studium Generale dengan tema Cognitive Behavioral Therapy for Psychosis: An Introduction. Acara ini dilaksanakan di ruang G-100 pada hari Rabu, 14 November 2018 pukul 13.30 hingga 15.00. Acara Studium Generale ini merupakan rangkaian acara memperingati hari Kesehatan Mental Dunia. Sebelumnya CPMH juga telah mengadakan berbagai rangkaian acara untuk memperingati hari Kesehatan Mental Dunia, diantaranya Training for Trainers, Kulwap (Kuliah Whatsapp), workshop nasional, seminar nasional, dan peluncuran buku.

Studium Generale CPMH ini dihadiri oleh sekitar 70 orang peserta yang hadir pada saat acara berlangsung dan juga sejumlah peserta yang mengikuti acara ini dengan cara daring melalui webex. Pada saat pendaftaran dibuka, para peserta diminta untuk melakukan registrasi secara daring dengan mengisi formulir dan memilih akan hadir di tempat acara atau mengikuti secara daring. Acara ini terbuka untuk umum, namun pihak penyelenggara menyarankan agar peserta memiliki latar belakang psikologi sehingga lebih dapat memahami materi yang disampaikan.

Pemateri pada acara Studium Generale yang diadakan oleh CPMH ini adalah Dr.Nynke Boonstra yang merupakan dosen NHL Stenden University of Applied Science dan Prof.Dr.Marieke Pijnenborg yang merupakan seorang professor di bidang psikologi klinis dari University of Groningnen.

Kedua pemateri yang merupakan ahli di bidang psikosis menjelaskan mengenai pengalaman-pengalaman psikosis, gejala-gejala psikosis dan jenis kelainan psikosis. Lebih dalam mereka membahas mengenai schizophrenia terkait tahap-tahap pada schizophrenia, epidemiologi, dan faktor resiko. Kedua pemateri berkolaborasi menyampaikan pengalaman mereka terkait penanganan pada penderita psikosis sesuai bidang mereka masing-masing. Dr.Nynke Boonstra mengelaborasi penanganan psikosis dengan intervensi keperawatan sedangkan Prof.Dr.Marieke Pijnenborg menjelaskan mengenai pengobatan psikologis yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan psikosis.

Pada akhir sesi, peserta diajak untuk mendisuksikan metode penanganan psikosis dengan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), baik cara analisis maupun proses penanganan yang dilakukan. (Humas Psikologi UGM/Jehna)

CPMH Mempersembahkan Launching Buku dan Seminar Nasional Bertemakan Colonial Mentality

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia, CPMH telah melaksanakan serangkaian acara sejak pertengahan September lalu dan akan ditutup dengan International Workoshop mengenai CBT (Cognitive Behavioural Therapy) for Psychosis pada tanggal 16-17 November 2018. Hari Rabu, 14 November 2018, CPMH telah sukses melaksanakan salah satu rangkaian acaranya yaitu Launching Buku ‘Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia’ dan Seminar Nasional dengan tema ‘Overcoming Colonial Mentality’. Acara dimulai pada pukul 08.30 di Auditorium Fakultas Psikologi serta dibuka dengan penampilan dari Tim Karawitan Fakultas Psikologi. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti, MMedSc., Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama.

Acara launching buku dan seminar nasional ini dibagi menjadi dua panel yang dimoderatori oleh Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D. Pada panel pertama diisi dengan launching buku dan penjelasan singkat mengenai isi buku ‘Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia’ oleh Prof. Hans Pols yang merupakan seorang Kepala Sejarah dan Filosofi Universitas Sidney dan juga penulis buku tersebut. Pelaksanaan launching buku dan seminar nasional ini dijadikan satu karena memiliki tema yang sama yaitu ‘colonial mentality’. Colonial mentality sering dijumpai dalam bentuk anggapan bahwa budaya barat itu keren, orang bule hebat, dan persepsi-persepsi lainnya yang membuat seseorang merasa kurang percaya diri dengan orang barat.

“Colonial mentality itu sangat berkaitan erat dengan mental health atau kesehatan mental, dimana sedikit banyaknya pola pikir dan persepsi dipengaruhi oleh hal-hal tersebut yaitu colonial mentality. Hadirnya acara ini juga untuk memberikan ilmu pengetahuan akan hal tersebut dan shock therapy. Bagaimanapun, bagian besar dari kita tidak menyadari adanya colonial mentality dan ketika diberitahu tentang faktanya baru sadar,” ujar Nurul Kusuma, salah satu Psikolog CPMH.

Buku ini dinilai dapat menjadi sumbangan penting bagi kajian sejarah Indonesia modern karena mengkaji tema spesifik yang relatif belum berkembang di Indonesia, yaitu mengenai sejarah kesehatan yang meliputi sejarah pendidikan kedokteran, ilmu kedokteran, pemikiran para dokter, dan gerakan kepemudaan. Selain itu, buku ini juga membuka dan memperkenalkan tema-tema yang penting untuk contoh diskusi lintas disiplin ilmu. Buku ini sebelumnya sudah diterbitkan lebih awal dalam bahasa Inggris oleh Cambridge University Press pada bulan Agustus dan kemudian diterbitkan oleh Kompas dalam bahasa Indonesia. Sebelum Yogyakarta, launching buku juga sudah dilaksanakan di Jakarta dan akan berlanjut ke beberapa kota besar lainnya di Indonesia seperti Surabaya.

Setelah Hans Pols, panel pertama dilanjutkan dengan Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil selaku Sekretaris Departemen Sejarah, Fakultas Imu Budaya UGM yang mengulas isi buku dengan fokus gerakan pemuda dari perspektif sejarah dan Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph. D dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM tentang Boedi Oetomo dan gerakan dokter-dokter Indonesia. Pada panel kedua diisi oleh Prof.  Kwartarini Wahyu Yuniarti, MMedSc., Ph.D. yang mengulas colonial mentality dari perspektif Indonesia dan keilmuan psikologi. Kemudian dilanjut dengan Prof. Dr. Theo Bouman dari Universitas Groningen yang mengulas dari perspektif Belanda. Nurul menjelaskan bahwa tokoh-tokoh yang hadir tidak hanya sekedar membedah buku namun membahasnya sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing. Pada saat acara, peserta dipersilahkan untuk membeli bukunya dan mengikuti pembahasan isi buku sesuai panel yang sedang berlangsung.

Acara yang dapat diikuti secara online melalui aplikasi Webinar ini dihadiri oleh peserta dan tamu undangan dari berbagai macam kalangan yang seperti mahasiswa, dosen, dinas-dinas Yogyakarta, yaitu Dinas Sosial, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Perpustakaan, dan BPPM. Tidak hanya itu, acara juga dihadiri oleh para aktivis dan tokoh gerakan kesehatan mental seperti pejuang pasung dan bipolar. “Hal ini menjadi salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan dari Fakultas Psikologi UGM kepada relasi-relasinya. Secara umum yang paling utama adalah acara ini merupakan rasa terimakasih kepada Pak Hans dan Pak Theo atas kebaikan dan kedermawanannya terhadap CPMH selama ini,” ujar Nurul. Acara ditutup dengan potong kue perayaan ulang tahun Hans Pols.