Pada kesempatan ini, Sita Alfiyah yang mana merupakan salah satu alumni dari program pendidikan Magister Psikologi Profesi bidang Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2011 membagikan kisahnya selama berkuliah di Fakultas Psikologi UGM serta perjalanan kariernya di dunia pendidikan. Selama menjalankan pendidikan magister profesinya, alumnus yang lulus pada tahun 2013 ini tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi juga banyak pengalaman berharga yang mendukung kariernya saat ini. Misalnya saja melalui kegiatan perkuliahan ia terdorong untuk selalu disiplin, profesional, aktif dan kritis dalam berpikir, bereksplorasi dan beradaptasi yang sangat mendukung kariernya saat ini. Tidak hanya itu, program praktik kerja profesi yang ia lakukan juga mengajarkannya untuk mampu memahami masalah para siswa serta mengajarkannya untuk meningkatkan pengelolaan diri sehingga kini tidak terkejut ketika menghadapi kendala serupa di dunia kerja.
Graduate Stories
Memulai pendidikan sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 1999 menjadi karunia dan kebahagiaan tersendiri bagi Laela Siddiqah. Meskipun sempat mengalami kendala pada tahun pertama perkuliahannya, alumnus yang kini menetap di Bontang, Kalimantan Timur ini tidak mudah menyerah dan terus berjuang. Melalui perjuangan tersebut ia tidak hanya mampu menyesuaikan dengan kehidupan perkuliahan tetapi juga mengukir beragam prestasi dan tetap aktif terlibat di kegiatan kemahasiswaan seperti Lembaga Mahasiswa Fakultas Psikologi. Salah satunya yaitu berkesempatan mendapatkan posisi tiga besar untuk skripsi yang ia tulis pada salah satu kompetisi penulisan ilmiah, yaitu Suwarsih Warnaen Award tahun 2004.
Nur Zidny Ilmanafia atau yang kerap disapa dengan nama Zidny merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkarier sebagai User Experience (UX) Researcher. Alumni angkatan 2014 ini mengisi masa perkuliahhannya dengan beragam kegiatan di dalam maupun di luar fakultas untuk mengembangkan minat dan bakat yang ia miliki. Beberapa aktivitas yang ia ikuti seperti bergabung dengan Center of Indigenous and Cultural Psychology (CICP) yang membawa Zidny masuk dan berkecimpung di dunia penelitian. Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjadi bagian dari CICP yakni mengikuti konferensi dan melakukan presentasi hasil penelitian di Asian Association Indigenous Cultural Psychology (AAICP) yang dilaksanakan pada tahun 2015 lalu. Tidak hanya itu, ia yang juga aktif di Sanggar Kesenian Aceh UGM (SAKA UGM) mendapatkan kesempatan untuk mengikuti dan meraih juara dalam kompetisi folklore internasional di Italia. Keikutseraannya pada kegiatan tersebut memberikan wadah tersendiri bagi Zidny untuk mengasah keterampilan project management yang bermanfaat hingga kini.
Alumni yang kerap disapa Ariana ini merupakan alumni angkatan 1996 yang saat ini berkarier sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketika masih menjadi mahasiswa, ia sudah tertarik dan aktif dengan beragam aktivitas di organisasi maupun pergerakan mahasiswa. Salah satu organisasi yang diikuti Ariana adalah Himpunan Mahasiswa Islam atau yang sering disingkat HMI. Luasnya jejaring yang ia miliki saat mahasiswa membuatnya semakin kritis serta menyadari pentingnya pendekatan lintas keilmuan untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan sosial. Tidak hanya aktif di dunia organisasi kemahasiswaan serta sebagai aktivis, Ariana juga mengikuti berbagai kompetisi penelitian tingkat lokal dan nasional yang menjadi langkah awal untuk mencoba menggunakan berbagai pendekatan dalam ilmu psikologi untuk memahami permasalahan dan mencari upaya penyelesainnya. Kolaborasi dengan mahasiswa dari latar belakang keilmuan yang berbeda sudah di mulai sejak penelitian saat mahasiswa tersebut, seperti melakukan kajian psikologi arsitektur dengan mahasiswa arsitek untuk mendesain lingkungan industri kecil.
Nadya Permata merupakan salah satu alumni yang terbilang aktif saat menjalani pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu kegiatan kemahasiswaan yang diikuti adalah Keluarga Muslim Psikologi (KMP). Saat aktif di sana, alumni angkatan 2003 ini berkesempatan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat umum dan anak-anak, salah satunya adalah Nuansa. Dalam kegiatannya di Nuansa, ia mendapatkan berbagai ilmu dan pengalaman yang sangat berguna untuk kariernya saat ini, terutama berkaitan dengan pemasaran hingga fundraising. Tidak hanya itu, Nadya juga menemukan passion-nya di dunia marketing dan entrepreneurship melalui beragam pengalaman tersebut.
Menjalani pendidikan sarjana dan profesi di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggalkan kesan tersendiri bagi Prabaswara Dewi atau yang sering disapa dengan panggilan DJ. Alumnus angkatan 1993 ini membagikan pengalaman yang sangat mengesankan selama ia menjalani masa pendidikan di Fakultas Psikologi. Ia mengaku bahwa jika diingat kembali masa-masa kuliahnya, semua merupakan pengalaman yang menyenangkan, meskipun pada masanya ia juga pernah merasa gugup dengan pengalamannya kala itu. Dari banyaknya pengalaman yang ada, keterlibatannya dalam proyek psikososial di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang dilakukan bersama dengan para dosen menjadi salah satu pengalaman yang tidak terlupakan untuknya. Melalui kegiatan tersebut, ia mencicipi peran sebagai trainer bagi para guru yang terdampak konflik kala itu. Pengalaman tersebut juga memberikan insight bagi DJ mengenai karier di bidang people development yang ia tekuni saat ini.
Indira Pratyaksa Yukthi merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1995 yang saat ini menjabat sebagai Vice President Corporate Culture & Business Partner PT. Pertamina (Persero). Jurusan Psikologi dipilih Indira untuk ia tekuni karena beberapa pertimbangan, yakni jurusan Psikologi pada waktu itu belum terkenal dan menjadi jurusan favorit seperti saat ini, sehingga persaingan yang ada tidak akan lebih ketat daripada jurusan Akuntansi yang saat itu sedang naik daun. Tidak hanya itu, alumni yang berasal dari Dumai, Riau ini juga berfikir bahwa alumni psikologi akan memiliki peran strategis serta prospek kebutuhan alumni yang lebih tinggi di masa depan. Alumnus yang diterima melalui jalur Penjaringan Bibit Unggul Daerah (PBUD) ini mengaku menikmati proses perkuliahan, seperti mengikuti praktikum, yang memberikan wadah bagi Indira untuk mengasah kemampuan presentasi, persuasi, konseling juga mengembangkan networking.
Rosalia Sulistyantari merupakan alumni angkatan 2007 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang saat ini tengah berkarier di Tokyo, Jepang. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi, alumni yang kerap disapa Rosalia ini aktif mengikuti beragam kegiatan, antara lain International Student Week in Ilmenau (ISWI) yang berlangsung selama 2 minggu di Ilmenau University of Technology, Jerman; program pertukaran mahasiswa selama satu semester di Fukuoka Women’s University, Jepang; Lomba Cerdas Cermat Psikologi se-Indonesia di Universitas Kristen Maranatha, dan juga kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Dikti.
I Made Agus Dwiatmika: Berkarier Sepenuh Hati, Berintegritas dan Mengedepankan Keterbukaan Pemikiran
I Made Agus Dwiatmika merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang berkarier di bidang Psikologi Industri dan Organisasi. Beragam pengalaman selama menjalani pendidikan di Fakultas Psikologi UGM membentuknya menjadi sosok seperti sekarang. Misalnya aktivitas perkuliahan hingga kegiatan majalah mahasiswa “Balairung” yang sangat padat melatihnya untuk dapat membagi waktu dengan tepat, sehingga kedua kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa dan tidak terkejut dengan padatnya aktivitas pekerjaan saat ini.
Pada artikel profil alumni ini, alumni yang sering disapa Apong ini membagikan kisah perjalanan kariernya yang terbilang unik. Apong memulai karier sebagai staf di United Tractors di saat ia masih menunggu jadwal untuk sidang skripsi. Meskipun telah bekerja, dengan tekad kuat dan keyakinannya, Apong berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Selang beberapa tahun bekerja sebagai human capital di United Tractors, Apong mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan tambang dengan posisi yang lebih menantang.
Tidak lama berkarier di perusahaan tambang, Apong memutuskan untuk resign dan menjalankan konsultan yang berfokus pada sumber daya manusia bersama dengan rekan-rekannya. Melalui kegiatannya sebagai konsultan sekaligus menjalankan perusahaan sendiri, Apong berkesempatan untuk bekerja sama dengan satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfokus pada resort management, yakni Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) yang dahulu bernama Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Pada kerja sama tersebut, ia akan memfasilitasi transformasi BTDC menjadi ITDC yang tidak hanya mengembangkan pariwisata di Kawasan Nusa Dua, tetapi berbagai area lain di Indonesia. Dengan kerja sama yang telah terjalin, Apong mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan ITDC untuk menjadi eksekutor pada transformasi tersebut. Meskipun demikian, ia tidak langsung bergabung dengan ITDC mengingat perbedaan budaya organisasi, budaya komunitas, serta area kerja yang tidak sama dengan area domisilinya saat itu. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu, dibukanya kantor pusat ITDC di Jakarta, hingga dorongan serta dukungan dari orang-orang terdekat membuatnya bersedia untuk bergabung dan merasakan hal baru di perusahaan tersebut.
Menjalani karier di sebuah perusahaan baru dengan budaya organisasi yang berbeda sudah pasti memberikan tantangan tersendiri, terlebih pada perusahaan yang sedang melakukan transformasi. Kondisi tersebut juga dialami oleh Apong yang sempat mengalami beragam kendala pada awal perjalanannya di perusahaan ini. Selain itu, ia yang merupakan sosok di ITDC baru ditugaskan untuk mengubah mindset hingga sistem kerja di ITDC, mendesain anggaran, dan mengatur arah dan tujuan organisasi ini khususnya dari sisi strategi human capital. Tugas yang diemban Apong dalam rangka transformasi tersebut mau tidak mau membuat sebagian merasa tidak nyaman, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuknya. Beragam perbedaan dan juga tantangan tersebut sempat membuatnya merasa tidak sanggup dan hampir saja menyerah. Akan tetapi, ia tetap bertahan karena dukungan dari teman juga istrinya untuk tidak menyerah dengan keadaan yang ia alami saat itu.
Menjalani kariernya yang selalu berada di area Human Capital sejak awal karier hingga saat ini tidak membuatnya menutup mata dengan perubahan-perubahan terkait pekerjaan maupun hal lain di sekitarnya. Misalnya saja seperti pada masa pandemik Covid-19 yang membuatnya harus berfikir secara terbuka dan adaptif. Selain open minded, hal lain yang harus dimiliki ketika bekerja adalah integritas serta bekerja dengan sepenuh hati. Perjalanan karier Apong dari staf hingga jabatannya saat ini mengajarkan bahwa integritas memiliki peran sangat penting bagi kesuksesan pekerja. Hal ini dikarenakan ia merasa bahwa semakin tinggi kewenangan yang dimiliki individu, maka semakin besar kesempatan untuk berperilaku tidak jujur. Dengan integritas yang ada, kita dapat dijauhkan dari perilaku tidak baik tersebut. Selain open minded dan berintegritas, bekerja sepenuh hati juga perlu untuk diterapkan. Hal tersebut dikarenakan ia menyadari bahwa hasil kerja maupun jabatan yang dimiliki dapat hilang dalam sekejap jika tidak dikerjakan sepenuh hati dengan tetap menjaga integritasnya.
Berdasarkan kisah yang dibagikan oleh Apong, kita dapat mengetahui lika-liku perjalanan pendidikan serta karier selepas ia menamatkan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM hingga kariernya saat ini. Melalui kisah tersebut kita dapat belajar banyak terkait dunia kerja. Misalnya saja memiliki pemikiran terbuka, menjaga integritas dan selalu bekerja sepenuh hati diperlukan agar kita dapat survive di dunia kerja. Tidak hanya itu, Apong juga menyampaikan bahwa dalam bekerja, kita tetap perlu mengikuti minat kita dan juga mempertimbangkan idealisme di dalam diri kita. (Anjuni)
Ajeng Septiana Widianingrum merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkarier di bidang Human Resource (HR). Alumni yang kerap disapa Ajeng ini membagikan pengalaman kerja dibidang HR di sebuah organisasi social, khususnya di bidang community development. Pada artikel-artikel terdahulu memang telah banyak dibahas beragam alumni dengan pekerjaan di bidang HR maupun humanitarian, tetapi belum ada artikel yang membahas karier HR di dalam sebuah organisasi sosial. Dengan demikian, kisah perjalanan karier Ajeng sangat menarik untuk kita bahas pada artikel profil alumni karena memberikan contoh kepada kita mengenai area kerja HR yang luas, salah satunya di organisasi sosial.
Sebelum menjalani kariernya di dunia sosial, alumni yang memiliki beragam pengalaman di dunia rekrutmen ini sempat bergabung dengan salah satu perusahaan di sektor privat. Alumni yang dahulunya bergabung dengan Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) ini memilih untuk keluar dari sebuah perusahaan multinasional dan mengikuti kegiatan sosial. Kegiatan sosial tersebut adalah Indonesia Mengajar, yang mana ia bergabung sebagai Pengajar Muda dengan penempatan di Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bergabung dengan kegiatan tersebut rupanya memberikan perspektif baru bagi Ajeng dalam melihat makna kehidupan, yakni hidup akan lebih bermakna ketika hal yang kita lakukan membawa manfaat bagi masyarakat. Bukan hanya itu, pengalaman yang ia dapatkan selama menjadi pengajar di area 3T menjadi titik balik kehidupan terutama dalam mencari pekerjaan.
Setelah ia menyelesaikan masa tugas sebagai Pengajar Muda di Indonesia Mengajar, ia memiliki keyakinan akan 3 hal yang perlu dipegang dalam mencari pekerjaan yakni pekerjaan tersebut harus dapat mengembangkan intelektualitas, memberikan kestabilan finansial serta tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat. Bukan hanya itu, ia mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya dan juga tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan demikian ia memilih untuk berkarier sebagai HR di organisasi sosial. Sebuah area kerja yang tetap memberinya kesempatan untuk dapat berkontribusi, meskipun tidak turun dan bersentuhan secara tidak langsung dengan masyarakat. Kontribusi tersebut diberikan melalui pemilihan, pendampingan, pelatihan, hingga pengembangan kapasitas para relawan atau fasilitator lapangan yang akan turun langsung di tengah masyarakat.
Bekerja sebagai staf Human Resource di organisasi sosial memang tidak berbeda jauh dengan pekerjaannya terdahulu di perusahaan. Ajeng menjelaskan bahwa pada dasarnya area Human Resource itu masih cenderung sama, yakni menjalankan fungsi perekrutan, seleksi, pengembangan resource, dan branding organisasi. Perbedaan yang mendasar tetap terlihat di antara kedua organisasi tersebut. Perbedaan yang ada berupa nilai dan tujuan organisasi, serta individu atau kelompok yang menjadi sasaran perekrutan, sistem perekrutan hingga pengembangan anggota. Menurutnya, pada organisasi sosial, kelompok yang menjadi sasaran untuk perekrutan adalah kelompok-kelompok yang di dalamnya banyak atau bahkan khusus relawan. Strategi perekrutannya juga berbeda dari perekrutan pada umumnya, misalnya tidak membuat pengumuman lowongan di situs-situs umum pencari kerja daring, akan tetapi melalui kanal-kanal komunitas pekerja social dan situs pencari kerja khusus pekerja sosial, serta melakukan sistem asesmen langsung. Ia kini juga sedang mengembangkan talent pool khusus untuk pekerja sosial. Dengan demikian, organisasi mendapatkan individu yang sesuai dengan keperluan dan mendukung program-program pengembangan masyarakat yang akan dilakukan. Bukan hanya itu, sebagai orang yang berkarier sebagai HR di organisasi sosial, ia juga bertugas untuk melakukan manajemen relawan yang biasanya bekerja sama dengan organisasi maupun relawan-relawan lain. Meskipun demikian, pekerjaan yang ia lakukan tidak hanya berfokus pada pengembangan individu maupun resource yang dimiliki organisasinya. Ajeng menyebutkan bahwa hal lain yang ia kerjakan pada kariernya saat ini adalah mencari strategi yang tepat agar masyarakat umum maupun instansi-instansi lain mau membuka mata mengenai isu-isu kemanusiaan yang diangkat oleh organisasinya.
Menjalani pekerjaan yang Ia sukai bukan berarti Ajeng tidak menemui kendala dalam menjalaninya, terlebih di tengah pandemi Covid-19. Seperti para pekerja pada umumnya, berkatian dengan himbauan untuk bekerja dari rumah dan melakukan physical distancing, membuat Ajeng beserta tim harus kritis dan kreatif untuk menemukan cara yang tepat agar pekerjaan mereka tetap berjalan. Beberapa inovasi telah diterapkan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, misalnya saja mengubah sistem rekrutmen yang bisanya menerapkan Direct Assessment harus dimediasi teknologi. Namun tidak semua kegiatan dapat dilakukan secara efektif melalui media teknologi, seperti pelatihan intensif bagi relawan yang akan diterjunkan ke lapangan beberapa waktu ke depan yang belum tahu apakah efek pelatihan daring akan memberikan hasil yang sama dengan pelatihan tatap muka langsung.
Berdasarkan pengalamannya, Ajeng memberikan saran kepada kita untuk merefleksikan minat kita. Dengan merefleksi dan mendalami minat tersebut kita menjadi lebih tahu dan mendapatkan lebih banyak exposure terkait bidang yang kita sukai. Dengan demikian, kita tidak ragu-ragu dengan hal maupun bidang yang diminati. Selain itu, dengan mendalami minat yang dimiki dapat membukan kesempatan kita untuk medapatkan lebih banyak pengalaman yang sesuai dengan minat kita tersebut. (Anjuni)