Arsip:

ugm

54 Tahun Fakultas Psikologi UGM Semakin Penuh Prestasi dan Inovasi

Memperingati Dies Natalis ke-54 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus berupaya berkreasi dan juga meningkatkan inovasi bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Fakultas Psikologi terus berkreasi, berinovasi untuk meraih berbagai prestasi serta berusaha menjadi bagian penting dari era disrupsi dan memberi solusi untuk masyarakat dan negeri ini,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi UGM Prof. Faturcohman,M.A, saat menyampaikan Pidato Laporan Tahunan Dekan Fakultas Psikologi UGM, Selasa (8/1) di aula G-100 Fakultas Psikologi. read more

Anjangsana: Jalin Silaturahmi dengan Purnatugas Fakultas Psikologi

Rangkaian acara Dies Natalis ke-54 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah berlangsung sejak bulan Desember lalu. Agenda Dies Natalis Fakultas Psikologi diawali dengan kegiatan Family Gathering yang dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, purnatugas, dan mahasiswa beserta keluarga.

Rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Psikologi selanjutnya yang baru saja terlaksana adalah Anjangsana. Kegiatan Anjangsana ini merupakan agenda rutin tahunan dalam peringatan Dies Natalis Fakultas Psikologi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengunjungi para purnatugas baik purnatugas dosen maupun tenaga kependidikan. read more

Fakultas Psikologi UGM dan Universitas Middlesex Gunakan Seni Inovatif untuk Penelitian di Bidang Kesehatan Mental

Literasi kesehatan mental di masyarakat merupakan komponen yang tak terpisahkan dari pembangunan sistem kesehatan mental yang komprehensif. Namun demikian, stigma terhadap penyintas gangguan mental dan berbagai hal lain masih terus menjadi penghalang terhadap terwujudnya sistem kesehatan mental di Indonesia. Diperlukan suatu metode yang menarik untuk dapat meningkatkan literasi kesehatan mental sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), salah satunya dapat dilakukan melalui penelitian berbasis kesenian inovatif.

Pada tahun 2019 mendatang, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diwakili oleh CPMH (Center for Public Mental Health) berkesempatan melakukan kerjasama dengan Universitas Middlesex dari Inggris dalam bidang penelitian kesehatan mental. Kerjasama ini diprakarsai oleh Dr. Erminia Colucci, yang merupakan seorang dosen senior dari Universitas Middlesex berkat keberhasilannya memenangkan hibah sebesar £1 juta dari Global Challenges Research Fund. Dana hibah yang didapatkan tersebut dianugerahkan oleh Dewan Penelitian Ekonomi dan Sosial (ESRC) dan Dewan Penelitian Seni dan Humaniora (AHRC). Selain melibatkan Dr. Colucci dan Dr. Diana Setiyawati dari Universitas Gadjah Mada, kerjasama ini juga menggandeng Dr. Ursula Read dari King’s College London dan Dr. Joseph Osafo dari Universitas Ghana.

Pada penelitian yang menggunakan beberapa metode kreatif seperti pembuatan film partisipatif maupun pertunjukan teater ini, Dr. Colucci bertindak sebagai investigator utama. Dengan judul “Menggunakan Metode Penelitian Visual Kolaboratif untuk Memahami Pengalaman Penyakit Mental, Pemaksaan dan Pemasungan di Ghana dan Indonesia”, penelitian ini dikembangkan dari riset sebelumnya mengenai praktik pasung di Indonesia. Penelitian dengan metode kesenian ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan mental dan mengurangi stigma terhadap penyintas gangguan jiwa, bahkan bisa mengurangi praktik pasung yang masih lazim diberikan kepada para penyintas gangguan jiwa di berbagai negara.

Psikodrama: Wadah Eksplorasi Mahasiswa untuk Berani Mengenali dan Mengekspresikan Diri

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berkesempatan mengundang seorang praktisi Psikodrama, Retmono Adi, S.Psi,. P.si. yang juga alumni Fakultas Psikologi UGM.  Pada kesempatan ini, mas Didik, demikian panggilan akrab beliau, berbagi pengetahuan dan pengalaman serta memperkenalkan teknik Psikodrama kepada mahasiswa S1 Mata Kuliah Konseling Kelompok. Kuliah tamu Psikodrama yang berdurasi 200 menit ini menggabungkan pemahaman teoretik pendekatan Psikodrama yang mahasiswa peroleh melalui presentasi kelompok mahasiswa, penjelasan dosen, dan dikuatkan dengan metode experiensial oleh dosen tamu.

Adalah J.L Moreno, inisiator pengembang Psikodrama sebagai psikoterapi kelompok di Amerika Serikat sejak tahun 1925.  Moreno berpandangan bahwa tidak semua aspek dalam kondisi internal seseorang dapat diterjemahkan atau dipahami dalam bentuk kata-kata.  Beberapa pengalaman psikologis termasuk emosi, lebih dapat diekspresikan dan karenanya lebih mudah dipahami melalui action, interpersonal interaction, imagery, atau improvisational theater.  Moreno mendapat julukan “pria yang membawa tawa bagi psikiatri”.

Konsisten dengan pemahaman tersebut, kuliah tamu Psikodrama tidak diawali dengan penjelasan teoretikal, namun pemateri mengajak mahasiswa untuk langsung mengalami (praktik) bagian-bagian dalam psikodrama, dimana secara berkala pemateri berhenti sejenak untuk menyampaikan penjelasan teoretik tentang apa yang sedang mereka alami (lakukan). Ada tiga tahap dalam Psikodrama, warming up, action dan reflection/integration. Hollande menggambarkan ketiga tahap ini dengan pengandaian gambar sebuah kurva.

Tahap awal psikodrama adalah warming up. Pada tahap ini, pemateri yang berperan sebagai director psikodrama, mengajak mahasiswa menyelami spontanitas dan kreativitas agar lebih siap saat melakukan peran-peran psikodrama. Pada tahapan ini mencakup pula sosiometri, locogram, spectrogram dan permainan peran. Mahasiswa belajar untuk memahami bahwa seluruh aktivitas dalam tahap ini merupakan tahap awal (initial stage of group counseling) untuk mempersiapkan setiap inidividu dalam kelompok untuk menjadi siap sebagai anggota kelompok dan berproses dalam kelompok.

Mahasiswa membentuk entitas kolektif dalam kelompok

Setelah kelompok terbangun (‘mahasiswa siap untuk mengambil peran’), director membawa mahasiswa ke tahap selanjutnya yaitu action. Action adalah kegiatan inti dari proses psikodrama. Pada tahapan ini mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengalami peran dan teknik dalam psikodrama, antara lain protagonist, doubling, mirroring, dan role reversal. Mahasiswa diminta baik secara mandiri maupun berkelompok untuk mengekspresikan dirinya dengan personifikasi objek dalam setting skenario yang telah diatur oleh director (terapis atau group leader dalam hal ini dosen tamu). Mahasiswa mengalami proses-proses internal dengan cara-cara yang menyenangkan dan bermakna, saat mengekspresikan diri dalam berbagai bentuk entitas tunggal maupun kolektif, misalnya pohon (individu) atau kereta Bhagavad Gita (kolektif).

Akhir dari kurva dalam psikodrama adalah reflection atau integration. Tahap ini berfungsi sebagai penutupan dan diskusi sesi. Pemateri mengajak mahasiswa untuk mendiskusikan bagaimana sesi yang telah dilaksanakan tadi dapat membawa kemanfaatan dalam kehidupan keseharian. Aplikasi Psikodrama merentang di dalam ranah klinis (psikoterapi) sampai non-klinis (self-enhancement). Hal tersebut membuat ranah penerapan psikodrama menjadi sangat luas.

Pada akhir kuliah psikodrama yang tampil beda ini, mahasiswa tampak refreshed dan menunjukkan respon positif. Pembelajaran teori dan pemahaman teknik dengan cara mengalami kali ini, banyak melibatkan tawa sekaligus air mata. Mahasiswa yang pada mulanya masih malu dan ragu untuk berekspresi, di akhir acara menjadi lebih berani serta mampu memaknai psikodrama dalam kehidupan mereka sehari-hari. (Humas Psikologi UGM/Jehna)

Mahasiswa Psikologi UGM dalam “UGM Speleological Research Ekspedition. Land of Nomad, Kyrgyzstan”

Memperingati kemerdekaan Republik Indonesia ke-73,  enam mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil mengibarkan bendera merah putih  sebagai tim mahasiswa pertama di Asia Tenggara yang melakukan ekspedisi penelusuran gua di Kawasan Asia Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2-16 Juli 2018 lalu  di Karatal-Japyryk State Nature Reserve Area, Naryn, Kyrgyzstan. Ekspedisi penelusuran gua ini bertujuan untuk mengungkap proses pembentukan gua-gua di Kawasan Kars Moldo-Too yang berada di ketinggian lebih dari 2500 mdpl dengan curah hujan kurang dari 360 mm pertahun yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan Kawasan Kars Indonesia.

Ekspedisi ini merupakan ekspedisi multidisiplin ilmu yang mengangkat penelitian tentang speleologi, geologi, dan psikologi. Dita Marfuah Sufiatun, Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM yang merupakan anggota Palapsi UGM mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari tim Ekspedisi ini. “Penelitian psikologi terkait speleologi belum pernah kami temui di Indonesia. Ini merupakan suatu kolaborasi yang menarik untuk diulas secara mendalam mengingat penelusuran gua merupakan olahraga ekstrim yang hanya diminati oleh segelintir masyarakat, apalagi ini merupakan kegiatan perdana bagi speleolog mahasiswa Indonesia di kancah Asia yang pastinya memiliki pengaruh psikologis tersendiri bagi para ekspeditor.” Tutur Dita sebagai researcher sekaligus Training Manager dalam tim ini. Kolaborasi ini menunjukan bahwa keterikatan psoses psikologi dalam dunia olah raga minat khusus sudah mulai dilirik oleh para penggiatnya.

Selama pelaksanaan ekspedisi,Tim bekerjasama dengan Foundation for the Preservation and Exploration of Caves (FPEC) of Kyrgyzstan. Tim juga didampingi secara langsung oleh Dr. Alexey Dudashvili selaku direktur dari FPEC. Besar harapan, langkah yang dilakukan oleh tim ekspedisi riset speleologi UGM ini mampu membuka relasi dan peluang kerjasama yang lebih luas antara negara Indonesia dengan Kyrgyzstan di masa depan, khususnya dalam pertukaran keilmuan dan wawasan.

Hasil dari penelitihan psikologi, dokumentasi, cerita perjalanan, dan berbagai penelitian lain yang diperoleh tim nantinya akan dipresentasikan secara lengkap pada acara seminar hasil kegiatan yang akan dilaksanakan pada bulan Februari 2019 mendatang. (Dimas Irham, Dita MS, dan Rakhmat Dwi Putra)

Foto oleh : Rakhmat Dwi Putra