Pos oleh :

Ziadatul Akmal Taufik

Atlet Karate Fakultas Psikologi Meraih Juara 1 dan 2 dalam POMDA DIY

Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah atau POMDA DIY tahun ini diselenggarakan dari tanggal 26 November-5 Desember 2018. Berdasarkan situs resmi Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia DIY, acara ini memiliki tema ‘Junjung Sportivitas, Berprestasi untuk Negeri’ yang diharapkan sebagai ajang silaturahmi mahasiswa dan penjaringan atlet mahasiswa DIY untuk berlaga di tingkat nasional atau POMNAS (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional). Cabang olahraga yang dipertandingkan ada 12, diantaranya adalah bola voli, bola basket, catur, bulutangkis, tenis lapangan, renang, atletik, panjat dinding, pencak silat, tarung derajat, kempo, dan karate. read more

IPC: Menelisik Rahasia Ibadah melalui Perspektif Psikologi

Islamic Psychology Convention atau biasa disebut dengan IPC merupakan program pengabdian dari Islamic Psychology Learning Forum atau IPLF. Tahun ini menjadi tahun kedua diselenggarakannya IPC dengan tema Psikologi Ibadah: Menelisik Rahasia Ibadah melalui Perspektif Psikologi. Tema yang diangkat berdasarkan keseharian seorang muslim yang tidak lepas dari ibadah dan pentingnya untuk kehidupan di zaman ini. Tujuan dilaksanakan IPC 2 adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai dasar perintah ibadah menurut agama, penjelasan ilmiah dalam beribadah, ibadah dari sudut pandang ilmiah, perkembangan cara pandang masyarakat dan ilmuwan atas ibadah, pentingnya ibadah dari sudut pandang agama dan keilmuan sebagai suatu kesatuan.

Juwita Agustin, selaku Ketua Pelaksana IPC 2, juga menjelaskan bahwa IPC dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan Psikologi Islam kepada masyarakat umum, memfasilitasi mahasiswa untuk mengetahui Psikologi Islam lebih dalam, dan membangkitkan kesadaran kepada masyarakat bahwa orientasi beribadah tidak hanya mengejar pahala maupun kewajiban namun memenuhi sebuah kebutuhan yang akan memberikan dampak baik kepada dinamika psikologis. Acara dilaksanakan pada tanggal 24-25 November 2018 di Wisma MM UGM Hotel & Convention. IPC 2 terdiri dari rangkaian seminar dan presentasi poster. Selama dua hari, seminar dimoderatori oleh Rahma Ayuningtyas Fachrunisa.

Pada hari pertama pelaksanaan, seminar diisi oleh Dr. Adian Husaini yang memberikan materi mengenai ibadah dalam perspektif keilmuan yang tauhidik. Kemudian dilanjutkan dengan materi Psikologi Shalat oleh Drs. Haryanto, M.Si. dan materi Psikologi Dzikir dalam pengalaman beragama oleh Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D. Hari pertama pelaksanan IPC dimeriahkan dengan penampilan nasyid oleh UNASCO. Pada hari kedua pelaksanaan, seminar diisi oleh Prof. Dr. Djamaluddin Ancok yang memberikan materi mengenai dinamika sosial dari sedekah, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dengan materi mengenai indahnya kematian dengan ibadah dan produktivitas hidup, serta Ustadz Fatan Fantastik yang berbagi ilmu tentang pentingnya ibadah. Pada hari kedua, IPC juga dimeriahkan oleh penampilan dari Hadroh Pondok Pesantren Innayatullah.

Presentasi poster dilaksanakan dalam dua hari yang sama setelah seminar dan penampilan hiburan. Peserta yang mengikuti presentasi poster berasal dari berbagai macam daerah, mulai dari Yogyakarta, Surakarta, Malang, hingga Makassar. Peserta yang mengikuti presentasi poster merupakan orang-orang yang telah melakukan penelitiannya sendiri di bidang Psikologi Islam dengan fokus Psikologi Ibadah. Presentasi poster yang dibawakan memiliki keberagaman topik, dimulai dari tentang senyum, dzikir, sedekah, shalat tahajjud, pendidikan keluarga islami, pengaruh puasa senin kamis terhadap kecerdasan emosional, dan implementasi ibadah dalam aktivitas mahasiswa.

“Respon peserta baik, karena temanya cukup mengena, cukup bermasyarakat, dan para pembicaranya insyaAllah dari IPLF mengundang para pembicara yang memang kami ketahui kompetensinya, jadi bukan pembicara yang sembarangan. Semoga harapan untuk mengenalkan dan menyebarluaskan Psikologi Islam bisa tercapai,” ujar Juwita.

 

PCSEF: Mempertemukan Karya dan Potensi Psikologi di Berbagai Bidang

Psychology Creativity Science Entrepreneurship Fair atau PCSEF telah sukses dilaksanakan pada hari Jum’at dan Sabtu, 23-24 November 2018. Tahun 2018 menjadi tahun pertama pelaksanaan PCSEF dan memiliki tema Psychology in Action untuk menunjukkan berbagai macam karya Psikologi yang terdiri dari bidang penelitian, pengabdian, kewirausahaan, sinematografi, dan start-up. PCSEF merupakan acara ilmiah dengan tujuan untuk mewadahi kreativitas mahasiswa sesuai bidang, bakat, dan potensi yang dimiliki, memacu semangat berkarya, dan menjadi tempat untuk mengubah pandangan tentang sulitnya melakukan penelitian. Tujuan-tujuan tersebut direalisasikan dalam bentuk serangkaian acara yang terdiri dari seminar, mini workshop, sesi paralel, dan pameran kewirausahaan.

Pada hari pertama, PCSEF berlangsung di Auditorium G-100 Fakultas Psikologi UGM dan dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UGM, Dr. Faturochman, M.A. yang menyampaikan bahwa terciptanya PCSEF diawali oleh keinginan Fakultas Psikologi UGM sejak dulu untuk mengadakan acara yang tidak biasa, unik, dan bersifat fleksibel dimana karya ilmiah, kegiatan berbagi pengalaman, dan pameran bisa dijadikan dalam satu acara. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan seminar bersama Galang Luthfiyanto, S.Psi., M.Psi., Ph.D yang diisi dengan materi di bidang penelitian mengenai alat ukur dan perubahannya serta T. Novi Poespita Chandra., M.Si yang memaparkan kegiatan pengabdian bernama Gerakan Sekolah Menyenangkan. Kemudian acara beralih ke sesi paralel dan para peserta dapat mengikuti sesi sesuai dengan bidang minatnya masing-masing. Pada hari pertama, sesi paralel diisi dengan presentasi dari bidang penelitian dan pengabdian.

Hari kedua PCSEF diawali oleh dua mini workshop bersama Pijarpsikologi yang berbagi ilmu di bidang start-up dan Psynema yang merupakan komunitas baru di Fakultas Psikologi UGM di bidang sinematografi. Berbeda dengan hari pertama, pada hari kedua pelaksanaan terdapat pameran kewirausahaan dengan menampilkan produk usaha yang dimiliki di Selasar Hall D Fakultas Psikologi UGM serta diramaikan juga dengan stand dari Werkudara Institute, sebuah institusi yang berfokus pada kegiatan asesmen dan pelatihan. Pada hari kedua, sesi paralel diisi dengan presentasi dari bidang start-up dan sinematografi. Sama seperti hari pertama, peserta dibebaskan untuk mengikuti sesi paralel sesuai bidang minat masing-masing. Peserta yang mengikuti PCSEF berasal dari berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Surakarta, hingga Makassar.

Illona Acintyajovita, selaku Ketua Panitia PCSEF 2018 menjelaskan bahwa PCSEF bukan sekedar acara ilmiah biasa namun memiliki maksud tertentu untuk mempertemukan banyak hal yang dimiliki oleh Psikologi, mulai dari ilmu, informasi, karya, serta potensi, dan bakat. Hal ini bisa dilihat dari dua hari pelaksanaan PCSEF yang dipandu oleh mahasiswa Fakultas Psikologi UGM dengan prestasi sebagai Putri Praja Pariwisata 2018, Eirene Ericha Sulu, Diajeng Berbakat Sleman 2018, Ni Putu Melinda Prabamitha Sari, Juara II Duta Wisata Kabupaten Sragen dan Juara Atribut Intelegensia, Nathalie Margareta, Duta Wisata Kabupaten Wonosobo, Chandrayani N Mapurusa, Emina Girl Gang Ambassador Yogyakarta, Monica Mega PS, dan Miss Inspiring Wardah 2018, Zahwa Islami.

Illona mengaku bahwa persiapan untuk melaksanakan PCSEF tergolong cepat dan singkat namun ia sangat bersyukur bisa belajar, bekerjasama dengan orang-orang yang kooperatif, dan mendapatkan pendampingan serta dukungan yang luarbiasa dari Fakultas Psikologi UGM. Illona berharap bahwa PCSEF dapat dilaksanakan setiap tahun agar manfaatnya untuk menjadi tempat berkarya dapat dirasakan oleh banyak orang.

Memperingati Hari Anak Sedunia, Nuansa KMP Ciptakan Kebahagiaan dengan Kembali Kecil

Setiap tahunnya, 20 November diperingati sebagai Hari Anak Sedunia dan sejak tahun kemarin Nuansa KMP tidak ketinggalan membuat serangkaian acara untuk memperingatinya. Bersama Departemen Pengabdian Masyarakat Lembaga Mahasiswa Psikologi UGM, rangkaian acara dengan kampanye ‘Kembali Kecil’ dilakukan secara online dan offline. Sabrina Alvie, selaku Kepala Sekolah Nuansa KMP, menuturkan bahwa Kembali Kecil merupakan kampanye yang dibuat Nuansa KMP dengan dua tujuan. Pertama untuk mengingatkan kembali bagaimana masa kecil dan permainan-permainan yang ada. Kedua untuk menyadarkan banyak orang tentang bahagia yang bisa diciptakan dengan hal-hal kecil dan sederhana layaknya ketika masih kecil dulu sehingga bersyukur tidak harus dari hal-hal besar.

Alvie menjelaskan bahwa Nuansa KMP memiliki teman-teman penggiat Nuansa dan perkumpulan Sekolah Nuansa yang membuat rangkaian acara untuk peringatan hari anak secara online. Acara tersebut adalah mengunggah kiriman ke Instagram bertajuk Nyanyi Kecil, Spirit of Childhood, dan template story mengenai permainan anak. Nyanyi Kecil merupakan kegiatan menyanyikan ulang lagu anak-anak yang disukai, Spirit of Childhood mengunggah foto dengan cerita tentang diri sendiri sewaktu kecil atau bersama anak kecil, sedangkan template mengenai permainan anak kecil dibuat untuk fitur story Instagram dengan melingkari pernyataan tentang kegiatan apa saja yang pernah dilakukan sewaktu masa kecil.

Rangkaian acara secara online dilakukan bertepatan pada Hari Anak Sedunia yaitu 20 November 2018 sedangkan rangkaian acara offline dilakukan pada tanggal 21 November 2018 pukul 16.00 WIB di Hall D Fakultas Psikologi UGM.  Acara dengan tema permainan anak ini menghadirkan berbagai macam permainan seperti ular tangga, engklek, congklak, egrang, kelereng, bekel, dan bebeletokan. Selain itu ada booth kreatif membuat origami dan paper bag doll, stand jualan mainan dan makanan anak-anak, stand donasi buku cerita anak-anak yang akan disumbangkan untuk korban bencana, stand Say Something yang berisi ungkapan seseorang untuk dirinya sendiri waktu kecil, dan mini talkshow.

“Untuk mini talkshow diisi dengan Mba Dian, dosen Psikologi yang berfokus pada pendidikan anak yang sharing tentang perkembangan anak dan juga bagaimana dari segi pendidikannya. Ada Mas Suryo yang punya buku dongeng tentang petualangan, bakalan sharing tentang dongeng dan permainan anak-anak zaman dulu. Apakah masih bisa dilakukan di zaman sekarang atau tidak dan permainan seperti apakah yang dibutuhkan oleh anak zaman sekarang secara psikologis. Stand, booth, dan mini talkshow ini menjadi inovasi baru Nuansa KMP dari peringatan hari anak tahun kemarin. Tempatnya kenapa di Hall D karena besar atensi orang-orang di Psikologi disini, biar manfaatnya bisa dirasakan orang banyak dan harapannya tujuan acara bisa tercapai,” ujar Alvie.

Virtual Reality: Sebuah Pesan dari Pementasan Drama KRST

Mengangkat tema Virtual Reality yang sedang terjadi akhir-akhir ini, KRST menggelar pementasan drama di Gedung Pertunjukan Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta pada hari Kamis, 18 November 2018. Bayu Suseno, selaku Pimpinan Produksi Pentas Besar KRST 2018, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan acara dua tahun sekali KRST dan tidak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan setiap tahunnya. Pementasan yang disutradari oleh Ahmad Adlan Arief dengan Wakil Sutradara yaitu Vinny Marviani diperankan langsung oleh anggota KRST dari berbagai angkatan dan beberapa orang dari luar KRST yang pernah terlibat dalam pementasan KRST sebelumnya untuk mendukung peran lain dalam drama.

Pementasan drama dibuka dengan sambutan oleh Ardian Praptomojati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan dimulai pada pukul 20.30 WIB. Pementasan drama bercerita tentang dunia virtual yang dijalani oleh dua tokoh utama yang dimainkan oleh Fajar Ibrahim dan Syarifa Yurizdiana. Diceritakan dalam drama, kedua tokoh memiliki permasalahan hidup masing-masing. Salah satu tokoh utama merasa bahwa dunia sebenarnya yang ia jalani adalah dunia virtual sedangkan tokoh utama lainnya mendapatkan tekanan hidup dari lingkungan sekitar,  salah satunya adalah sang Ibu yang menginginkan anaknya untuk selalu meningkatkan prestasi. Permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi membuat kedua tokoh utama sering berinteraksi dan berkomunikasi mengenai hidupnya masing-masing maupun kegiatan lainnya seputar misi permainan melalui karakter game online yang dimainkan.

Penonton dibawa untuk mengikuti keseharian tokoh utama dan bagaimana lika-liku kehidupan yang dijalani. “Di akhir cerita, salah satu tokoh utama ada yang melanjutkan kehidupan lebih baik dan menjadi produktif sedangkan yang lainnya berkebalikan dari itu dan memilih untuk mengakhiri hidup. Pesan yang ingin disampaikan dari pementasan ini adalah bahwa dunia virtual ya selamanya akan menjadi dunia virtual. Ayo kembali ke dunia sesungguhnya, ayolah di dunia nyata saja,” ujar Bayu.

Selain mengadakan pementasan drama, KRST juga menggelar stand Payung Lukis dan galeri foto dari REMEN yang dapat dinikmati oleh para penonton. Bayu menuturkan bahwa secara teknis, persiapan untuk menggelar pementasan drama ini sudah berjalan selama 4 bulan dengan melakukan latihan setiap hari untuk para pemain, pengatur cerita, dan pengisi drama lainnya. Panitia KRST yang terlibat terdiri dari panitia produksi yang didominasi oleh anggota KRST dari angkatan 2017 dan 2018 dan panitia artistik yang terdiri dari penata rias, penata lampu, kostum, property, dan musik. Pementasan drama dihadiri oleh dosen Fakultas Psikologi UGM, orang tua para pemain drama, mahasiswa, anggota BKM maupun UKM kesenian, dan tamu undangan yaitu sponsor dan media partner.